Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 79


__ADS_3

Mich terlihat bekerja dengan gelisah, sesekali dia akan melirik ke arah Kinara yang sedang duduk anteng sambil bermain dengan ponselnya.


Semenjak kedatangan asisten pribadinya yang memberitahukan tentang sesuatu yang mengejutkan, Mich benar-benar merasa salah tingkah saat berada satu ruangan bersama dengan Kinara.


Berbeda dengan Kinara yang nampak biasa saja, bahkan dia terkesan acuh dan tidak memedulikan Mich.


Sesekali dia akan tertawa karena sedang bertukar pesan dengan ketiga sepupu kembarnya, kalau saja mereka sudah memiliki surat izin untuk mengemudi sudah pasti Kinara akan meminta mereka bertiga untuk menjemputnya.


Sayangnya ketiga anak dari Mini tersebut belum cukup umur untuk membawa mobil sendiri, walau memang ulang tahun mereka yang ke tujuh belas tahun tinggal menghitung hari.


Hal itu membuat Kinara bersabar untuk menunggu Mich yang sedang bekerja, karena pria itu berkata dia tidak akan lama lagi dalam mengerjakan tugasnya.


'Ya Tuhan, kenapa aku tidak bisa fokus dalam bekerja?' tanya Mich dalam hati.


Mich terlihat menengadahkan wajahnya, lalu dia terlihat menutup matanya dengan kuat. Kemudian, ia menghela napasnya dengan berat.


Dia sedang berusaha untuk fokus dalam mengerjakan semua pekerjaannya, dia berusaha untuk tidak melihat ke arah Kinara, karena hal itu membuat pekerjaannya terbengkalai dan tidak selesai.


Karena setiap kali Mich memperhatikan wajah dari Kinara tersebut, maka fokus Mich langsung terpecah.


"Semangat Mich, kamu pasti bisa!" gumam Mich. Tentu saja Kinara tidak bisa mendengarnya, hanya dia saja sendiri yang mendengarkan.


Waktu sudah menunjukkan pukul 16:03 Mich terlihat merentangkan kedua tangannya, lalu dia mulai meregangkan otot-otot lelahnya.


Padahal dia hanya bekerja dua jam saja setelah makan siang, tapi terasa sangat lama karena adanya Kinara di dalam ruangan tersebut.


Apalagi kehadiran Kinara yang membuat fokusnya benar-benar terpecah, membuat pekerjaan Mich bertambah lama.


"Ah! Akhirnya pekerjaanku selesai juga," kata Mich seraya merapikan semua berkasnya, lalu menyimpannya di atas meja.


Mich terlihat bangun dari kursi kebesarannya, lalu dia hendak menghampiri Kinana. Namun, Mich malah terdiam kala melihat Kinara yang sedang tertidur pulas di atas sofa yang berada di ruangan tersebut.


Dress yang Kinara kenakan terlihat terangkat, karena posisi Kinara kini terlihat sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa.

__ADS_1


Mich terlihat menatap Kinaria dengan sangat lekat, dia bahkan terlihat menelan salivanya dengan susah payah.


"Apa dia sedang meggodaku? Kenapa dia terlihat tidur seperti itu?" tanya Mich.


Dia membuka jas yang dia kenakan, lalu dia menghampiri Kinara dan menutup area tubuh bagian bawah milik Kinara.


"Bangun bocah kecil, kenapa kamu malah tidur!" kata Mich seraya menggoyang-goyang tangan Kinara, sayangnya Kinara bergeming.


Dia tetap saja anteng dalam tidurnya, Mich menghela napas berat. Lalu, dia berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Kinara.


"Kamu itu kebiasaan, kalau sudah tidur susah untuk dibangunkan," kata Mich dengan senyum tipis di bibirnya.


Mich terlihat mengangkat tubuh Kinara dan membawanya keluar dari ruangan miliknya, saat Mich keluar dari perusahaan miliknya, setiap karyawan yang melihat Mich menggendong Kinara dengan gagahnya langsung berdecak kagum.


Bahkan para karyawan wanita membayangkan bahwa merekalah yang kini berada di dalam gendongan Mich, lelaki dingin yang sangat jarang bicara itu.


Berbeda dengan Kinara yang tidak sadar jika dirinya berada di dalam gendongan Mich, dia tetap anteng tertidur pulas.


Tiba di depan lobi kantor, seorang sopir sudah menunggu untuk mengantarkan Mich pulang. Mich tersenyum, lalu meminta tolong kepada sopir tersebut untuk membukakan pintu mobilnya.


Dengan senang hati sopir yang terlihat sudah berusia setengah abad itu membukakan pintu mobil untuk Mich.


"Silakan, Tuan," kata sopir tersebut.


Mich terlihat tersenyum, lalu dia masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku penumpang.


Dia menurunkan tubuh Kinara ke atas jok agar lebih nyaman, lalu dia menyandarkan kepala Kinara di atas kedua pahanya.


Untuk sesaat dia terdiam menatap wajah Kinara yang begitu cantik di matanya, dia tersenyum lalu berkata.


"Kamu tidak pernah berubah," kata Mich seraya tersenyum.


Setelah mengatakan hal itu, dia mulai memberanikan diri untuk mengelus puncak rambut Kinara dengan perlahan dan sangat hati-hati.

__ADS_1


Dia elus lembut puncak kepala Kinara agar dia tidak membangunkan gadis tersebut, bahkan dia juga mengelus pipi Kinara yang sangat lembut.


Di lain tempat.


Selepas melakukan pergumulan panasnya dengan sang istri, Satria terlihat mondar-mandir tidak karuan.


Setiap kali bercinta dengan istrinya, dia selalu lupa meminta Rachel untuk meminum pil kb. Jika sudah melihat istrinya dia selalu saja ingin menarik istrinya dan mengajaknya untuk bergulat di atas ranjang.


Satria bahkan tidak segan untuk mengajak Rachel bercinta di atas sofa, di atas meja makan bahkan di dalam kamar mandi.


Dia selalu ingin mencoba berbagai gaya, apalagi mereka hanya tinggal berdua. Dia merasa bebas mengekspresikan fantasi liarnya.


Beruntung Rachel yang awalnya kelelahan melayani hasrat dari suaminya kini bisa mengimbanginya, Rachel sudah semakin pandai.


"Ya Tuhan, bagaimana kalau dia hamil? Ck! Akunya kenapa selalu tidak tahan kalau sudah melihat dia," keluh Satria.


Dia terlihat berhenti untuk melangkahkan kakinya, lalu dia duduk di tepian ranjang dan menatap wajah istrinya yang sedang terlelap dalam tidurnya.


Rachel terlihat sangat kelelahan karena harus melayani dirinya di atas ranjang, selepas makan malam Satria langsung mengajak Rachel untuk bercinta lagi.


Padahal selepas pulang kerja mereka sudah melakukannya di sofa ruang tamu, tapi rasanya tidak ada kata lelah untuk menggauli istrinya itu.


"Maaf jika aku tidak menepati keinginan dari ayahmu, dia pasti kecewa kalau kamu hamil terlebih dahulu," kata Satria seraya mengusap perut istrinya.


Dalam hati Satria merutuki kebodohannya, dia sadar jika usia Rachel masih sangat muda. Selain takut mendapatkan amukan dari Ridwan, dia juga takut jika Rachel belum siap untuk mengandung.


Satria terlihat merebahkan tubuhnya, lalu dia tarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya dengab lembut. Dia kecup kening istrinya dengan penuh cinta.


"Maafkan aku, Sayang. Apa pun yang terjadi semoga kamu tidak marah padaku, karena jujur saja aku menginginkan keturunan dari wanita yang sangat aku cintai," kata Satria lirih.


****


Selamat sore kesayangan, maaf jarang up. Duh, aku tuh susah bagi waktunya sama real life. Semoga kalian masih menunggu kisah receh Othor ini, terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2