
Larasati terlihat pergi ke sebuah perusahaan ternama di ibu kota, ternyata istri dari sang pemilik perusahaan ingin bekerjasama dengan Larasati untuk membuat Cafe kekinian.
Dia merasa bosan dan juga ingin punya kegiatan, tak hanya melulu tinggal di rumah saja. Tentu saja Larasati pun dengan senang hati mau membantu.
Tak tanggung-tanggung, sang suami mensuportnya dengan menyiapkan sebidang tanah dengan luas yang sangat fantastis.
Hal itu sengaja dia lakukan agar istrinya semangat dalam membangun dan mengatur Cafe yang dia inginkan.
Apa lagi setelah mendengar jika Larasati adalah putri dari tuan Elias, pemilik perusahaan tersebut langsung mempercayakan desain sampai pembangunannya pada perusahaan keluarga Dinata.
Hampir dua jam mereka mengobrol perencanaan pembangunan Cafe kekinian di perusahaan tersebut, hingga pukul sebelas obrolan mereka harus berakhir karena sudah mendapatkan kesepakatan.
"Terima kasih, Kak Laras. Saya senang sekali bisa bekerja sama dengan anda," ucap Diana seraya mengulurkan tangannya.
"Sama-sama, nanti untuk urusan desainnya kita bisa bicarakan lagi dalam pertemuan berikutnya. Biar sekalian saya ajak anda untuk bertemu dengan Daddy," ucap Larasati seraya membalas uluran tangan Diana.
"Saya tunggu," ucap Diana.
Setelah urusannya dirasa selesai, Larasati pun memutuskan untuk segera pergi ke Cafe. Dia sudah rindu dengan putranya, Satria.
Dia juga sangat penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh putranya bersama dengan Angga.
Di perjalanan menuju Cafe, tanpa sengaja tatapan matanya melihat Jonathan yang sedang berlari di pinggir jalan.
Larasati yang penasaran pun langsung menepikan mobilnya, dia memperhatikan apa yang dilakukan Jonathan dari dalam mobilnya.
Larasati melihat Jonathan berlari lebih cepat lagi, dia terlihat mengejar seorang perempuan muda dan juga cantik.
Bahkan penampilan wanita itu terlihat sangat seksi sekali, dia hanya menggunakan celana hotpants dan memakai tie front top.
Wanita itu juga mempunyai tinggi yang sempurna dan body goal yang begitu memanjakan mata.
Saat Jonathan sudah dekat dengan perempuan itu, Jonathan langsung membopong tubuh perempuan tersebut seperti mengangkat karung beras di pundaknya.
Lalu, Jonathan memaksa perempuan tersebut untuk masuk ke dalam mobilnya. Tak lama kemudian, Jonathan nampak melajukan mobilnya dengan cepat.
"Ya Tuhan, sebenarnya sipa perempuan itu? Bukankah tadi pagi bilangnya dia mau membantu Om Hendry? Lalu, apa ini?" tanya Larasati lirih.
Muncul dugaan-dugaan buruk di hati dan pikirannya tentang Jonathan, namun dengan cepat dia menepis pikiran buruk tersebut.
__ADS_1
''Aku tidak boleh berspekulasi sendiri, aku harus menanyakan semuanya pada Jonathan. Aku tak mau kalau nantinya ada salah paham," ucap Larasati.
Sebenarnya hatinya begitu kalut, dia merasa gundah. Dia takut jika Jonathan benar-benar memiliki hubungan dengan perempuan tersebut, dia takut jika dirinya dipermainkan kembali oleh seorang lelaki.
Namun, dia berusaha untuk bersikap tenang. Larasati terlihat menghela napas panjang, lalu dia pun mengeluarkannya dengan perlahan. Setelah merasa lebih tenang, dia pun melajukan mobilnya menuju Cafe.
Tiba di Cafe, ternyata Angga sudah memasak menu makan siang untuk mereka makan. Angga terlihat sedang menata makanan di atas meja dapur, sedangkan Satria terlihat duduk anteng di pangkuan Bi Narti.
Angga memang suka memasak, walaupun dia lelaki namun dia begitu senang mengulik keahliannya dalam memasak dan membuat kue.
"Buna!" panggil Satria saat menyadari kehadiran Bundanya.
Larasati tersenyum, lalu dia pun berjongkok dan merentangkan kedua tangannya. Satria tersenyum, lalu dia turun dari pangkuan bi Narti dan meloncat ke dalam pelukan bundanya.
"Buna syudah syelsyai?" tanya Satria.
"Sudah, kamu sedang apa?" tanya Larasati seraya mengangkat tubuh mungil Satria dan membawanya kedalam gendongannya.
"Syedang menunggu masyakan Ayah mateng, aku lapal. Baunya wangi, enak." Satria mengelus perutnya.
Melihat kelakuan putranya, Larasati tersenyum. Kemudian Larasati memperhatikan apa yang Angga masak, ternyata Angga membuat sup jagung dicampur jamur dan suwiran ayam, makanan kesukaan Satria.
Larasati juga melihat jika Angga menggoreng ikan gurame, sambal terasi dan lalapan. Itu adalah makanan kesukaannya.
"Makanlah, Mbak. Aku memang sengaja memasaknya untukmu," ucap Angga.
"Kenapa repot sekali?" tanya Larasati seraya duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
"Mumpung Mbak belum menikah, kalau nanti sudah menikah dengan Bang Jo, aku belum tentu bisa memasak lagi untuk Mbak," jawab Angga.
"Uuuh! Kamu so sweet banget sih," ucap Larasati seraya menggenggam tangan Angga.
Jantung Angga langsung berdetak dengan cepat, bahkan untuk bernapas saja dia seakan susah. Tangan Larasati seakan mengalirkan aliran listrik bertegangan tinggi, membuat Angga megap-megap.
Bukan karena sedang sekarat, namun dia sedang menahan hasrat cintanya terhadap wanita cantik yang kini berada di hadapannya tersebut.
Angga terlihat menghela napas berat, lalu mengelus dadanya dengan cepat. Dia tidak mau jika Larasati sampai menyadari apa yang dia rasakan terhadap dirinya.
Beruntung bi Narti yang seakan paham langsung menghampiri mereka dan duduk tepat di samping Larasati.
__ADS_1
"Satria katanya mau makan di belakang ya, sambil lihat kolam ikan?" tanya Bi Narti.
Satria tersenyum lalu mengaggukkan kepalamya dengan penuh semangat.
Bi Narti langsung mengendokkan sup jagung kesukaan Satria, kemudian dia berkata.
"Ajaklah Satria ke belakang, suapin dia di sana," ucap Bi Narti.
"Siap, Bu." Angga langsung menggendong Satria dengan tangan kirinya, lalu dia membawa sup jagung di tangan kanannya.
Bi Narti langsung membawakan air untuk Satria minum, lalu tak lama kemudian Bi Narti kembali menghampiri Larasati.
"Kamu makannya bareng Bibi, ya? Biar Satria disuapin sama Angga," ucap Bi Narti.
"Iya, Bi," jawab Larasati.
Larasati mulai mengendok nasi, lalu mengambil ikan dan juga sambal terasi. Dia juga mengambil lalapannya untuk dia makan dengan sambelnya.
Untuk sesaat, dia berusaha melupakan wajah Jonathan yang sedari tadi menari-nari di pelupuk matanya saat membopong wanita muda dan juga seksi di pundaknya.
Dia terlihat makan begitu lahap dengan apa yang dimasak oleh Angga, bi Narti sampai menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Pelan-pelan makannya," ucap Bi Narti.
"He'em," jawab Larasati dengan mulut penuh dengan makanan.
Tak lama kemudian acara ritual makan telah selesai, Larasati terlihat mengajak Satria untuk pulang.
Dia merasa tidak nyaman untuk melakukan pekerjaannya, moodnya seakan hilang kala mengingat akan apa yang dilakukan oleh Jonathan.
"Mbak pulang aja, ya?" pamit Larasati.
"Iya, Mbak. Pulanglah, Mbak kayaknya kurang fit, banyak-banyaklah istirahat. Jangan khawatir soal Cafe, ada aku," ucap Angga.
"Ya," jawab Larasati.
"Ayah! Cium," pinta Satria seraya memonyongkan bibirnya.
Angga terkekeh, lalu dia menuruti keinginan Satria. Angga lalu mengecupi setiap inci wajah Satria dan mengacak pelan rambut Satria.
__ADS_1
"Jangan nakal!" pesan Angga.
"Tidak, Ayah," ucap Satria seraya melambaikan tangannya.