Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Seharian Bersama Papa Yudha


__ADS_3

Jesicca benar-benar ketakutan setelah mendapatkan telepon dari Melly, dia benar-benar takut jika Yudha benar-benar sudah berpaling dari dirinya.


Apa lagi saat mendengar Yudha yang begitu akrab dengan balita tampan sekitar usia dua tahun, dia sangat takut jika Yudha kini terjerat rayuan janda.


Dia benar-benar takut akan nasib dirinya bersama dengan putrinya, apa lagi statusnya sampai saat ini masihlah istri siri.


"Apakah aku akan menjadi janda karena janda?" tanya Jesicca dengan senyum kecut di bibirnya.


Sesekali Jesicca menatap wajah Putri yang tertidur dengan lelap, senyum getir tersungging dari bibirnya.


Dulu dia menggoda Yudha yang masih berstatus suami orang, semua itu dia lakukan agar bisa hidup senang dan berlimpah harta.


Bahkan Jesicca bisa dengan mudah bisa menghasut Yudha yang kala itu merasa kasihan dengan istrinya yang harus istirahat total karena mengandung buah hati mereka.


'Pacaran aja sama aku, Mas. Aku jamin kamu akan puas, aku akan membuat kamu terpuaskan tanpa harus menyakiti istri kamu dan membahayakan janin yang ada di perut istri kamu,' rayu Jesicca kala itu.


Awalnya Yudha pun hanya iseng saja, dia hanya berniat untuk menyalurkan hasratnya saja. Lama kelamaan, Yudha merasa nyaman dengan Jesicca dan mulai merasa jengah saat melihat tubuh Larasati yang kian membengkak.


Apa lagi Jesicca terus saja mempropokasi dirinya, hal itu membuat Yudha dengan mudah menghianati istrinya.


Yudha pun selalu mengikuti apa pun kata Jesicca, termasuk mengalihkan semua harta milik Larasati pada Yudha.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan saat ini?" tanya Jesicca.


Jesicca terlihat menggigit ujung kuku jempolnya, sesekali dia terlihat mondar-mandir tak jelas di dalam kamarnya.


Sesekali dia juga memperhatikan wajah putrinya yang masih terlelap, Jesicca benar-benar sudah seperti orang yang kehilangan akalnya.


"Aku harus bertindak, aku harus ke KUA untuk mendaftarkan pernikahan kami. Agar bisa tercatat dan sah secara agama dan negara," kata Jesicca lirih.


Untuk melancarkan maksudnya, Jesicca pun terlihat membenahi berkas yang harus di persiapkan. Dia akan langsung mengurusnya esok hari.


*/*


Di rumah Larasati, Yudha terlihat begitu menikmati kebersamaannya dengan Satria. Ternyata Satria benar-benar supel dan gampang bergaul.


Baru satu hari saja dia mendekatkan diri kepada Satria, kini balita tampan itu sudah terlihat lengket dengan Yudha.

__ADS_1


Yuda benar-benar merasa senang, apa lagi balita tampan yang kini sedang bermain dengan dirinya adalah buah cinta dirinya bersama dengan Larasati.


"Papa janji, Nak. Papa akan berusaha untuk membuat Bunda kamu kembali sama Papa, agar kita bisa bahagia." Yudha terlihat mengecup pipi gembil Satria.


Hari ini Yudha benar-benar menghabiskan waktunya bersama dengan Satria, sebenarnya Yudha bertanya-tanya dalam hatinya.


Kenapa Larasati begitu lama mempersiapkan acara ulang tahun untuk Satria?


Padahal banyak orang yang bisa dia percayakan, tak perlu harus Larasati turun tangan sendiri.


Apa lagi Larasati benar-benar meninggalkan Satria sampai sore tiba, bahkan yang Yudha tak mengerti, saat dia menghubungi Larasati pun tak pernah diangkat sama sekali.


Pesan yang dia kirimkan pun tak pernah dibalas sama sekali, namun Yudha berusaha untuk mengerti. Karena mungkin Larasati ingin mempersiapkan pesta yang sangat meriah untuk Satria.


"Tuan, saya izin membawa Den Satria untuk dimandikan," kata Bi Narti.


Mendengar ucapan Bi Narti, Yudha melihat jam yang melingkar di tangannya. Ternyata waktu menunjukkan pukul 4 sore.


"Iya, Bi. Lagi pula ini sudah sore," kata Yudha.


"Oh iya, kalau Tuan mau shalat, musholanya ada di dekat taman belakang." Bi Narti terlihat menggendong Satria dan membawanya pergi untuk dimandikan.


Setelah selesai shalat, Yudha pun terdiam sambil menatap bunga-bunga yang tertata rapi di taman belakang.


Tak lama kemudian, ponselnya Yudha nampak berdering. Dengan cepat Yudha pun mengambil ponselnya, namun dia terlihat kecewa setelah melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut.


Yudha terlihat mendessah, kemudian dia menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana miliknya.


"Ck! Mengganngu!" umpat Yudha.


Entah sudah berapa kali Jesicca menelpon dirinya, namun Yudha seolah tak perduli. Dan tak lama kemudian ponselnya kembali berdering.


Yudha berdecak sebal, karena ponselnya terus saja berbunyi. ( Padahal tinggal di silent aja, ya? Dasar Kang Yudha! )


Akhirnya dia pun mengambil ponselnya dan langsung menerima panggilan tersebut tanpa melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Ada apa? Kenapa kau mengganggu aku terus?" tanya Yudha ketus.

__ADS_1


"Mas, apa aku mengganggu kamu?" tanya Larasati dengan suara lembutnya.


Mendengar suara lembut dari Larasati, Yudha lihat menjauhkan ponselnya dari kupingnya. Lalu, dia pun melihat nama yang tertera di sana.


'My Angel'


Dengan cepat dia pun menegakkan tubuhnya, lalu Yudha pun berkata.


"Ya Tuhan, Baby. Maaf, aku kira tadi Rendy. Soalnya dari tadi dia terus saja mengganggu," ucap Yudha beralasan.


"Oh... kirain aku, kamu marah karena sudah dimintai tolong untuk menjaga Satria," ucap Larasati.


"Mana mungkin seperti itu, tidak dong! Masa aku marah, justru aku sangat senang sekali bisa menghabiskan waktu bersama dengan Satria," kata Yudha.


"Baguslah kalau begitu, oh iya Mas. Acara ulang tahun Satria sehabis maghrib loh, Mas bisa kan antar Satria ke Caffe?" tanya Larasati.


Yudha terlihat melirik jam yang melingkar di tangannya, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.


Tentu saja Yudha bersedia mengantarkan Satria ke Caffe milik Larasati, karena dengan begitu dia bisa mendekati Larasati kembali.


"Baiklah, tunggu Mas, Baby." Yudha terlihat memutuskan sambungan telponnya.


Yudha terlihat bersemangat sekali, dia langsung melangkahkan kakinya menuju kamar Satria.


Tiba di depan kamar Satria, ternyata Bi Narti sudah terlebih dahulu membuka pintunya, dia terlihat menggendong Satria yang terlihat sudah sangat tampan.


Bi Narti juga terlihat sudah rapi dan cantik di usianya yang yang sudah menginjak empat puluh lima tahun.


"Wah! Anak Papa, ganteng sekali. Sudah siap rupanya," kata Yudha.


"Sudah, Papa," jawab Satria.


Yudha langsung mengambil alih Satria dari gendongan Bi Narti, kemudian dia pun mengajak Satria dan juga Bi Narti untuk segera pergi menuju Caffe milik Larasati.


Sepanjang perjalanan menuju Caffe, Yudha terlihat senang sekali. Bahkan senyum di bibirnya pun tak henti mengembang.


Bi Narti hanya bisa mengatupkan mulutnya menahan tawa ketika melihat tingkah Yudha, Yudha benar-benar seperti anak abege yang sedang jatuh cinta.

__ADS_1


Jika mengingat masa lalunya Yudha bersama dengan Larasati, Bi Narti merasa sangat sedih. Karena, dia menyaksikan sendiri bagaimana cara Yudha menyakiti Larasati.


__ADS_2