
Angga terlihat berdecak, lalu dia melepaskan tangan Mini dengan lembut
"Kamu pergi saja sama lelaki tadi, aku takut jadi pengganggu di antara hubungan kalian," kata Angga.
"Hah?" kaget Mini dengan apa yang diucapkan oleh Angga.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Angga, Mini terlihat begitu kaget. Dia ingin berjalan-jalan dengan Angga pikirnya, lalu apa hubungannya dengan Frans?
"Mas Angga, aku maunya jalan-jalan sama Mas Angga. Bukan sama Kak Frans," kata Mini.
"Aku tidak mau!" jawab Angga ketus.
Mini sempat memperhatikan wajah Angga yang terlihat BT, tersungging sebuah senyuman di bibir Mini. Kemudian, dia pun berkata.
"Baiklah, kalau begitu. Sepertinya Mas Angga memang tidak mau pergi denganku," kata Mini seraya meninggalkan Angga.
Mini langsung menyibukkan diri, dia membantu karyawan yang ada di dapur untuk membuat kue. Dia bahkan sama sekali tak menoleh ke arah Angga, dia begitu fokus pada pekerjaannya.
Selesai membuat kue, Mini sama sekali tak terlibat obrolan apa pun dengan Angga. Dia langsung mengambil celemek, bolpoin dan kertas.
Setelah itu, dia langsung pergi ke depan sambil memakai celemeknya untuk melayani para pengunjung.
Sesekali Angga memperhatikan Mini yang terlihat cuek padanya, bi Narti yang melihat kelakuan putranya hanya mampu menggelengkan kepalanya.
Adzan dzuhur telah berkumandang, biasanya Mini akan segera mengikuti Angga dan bi Narti untuk melakukan salat berjamaah.
Namun, kali ini terlihat berbeda. Dia langsung mengambil mukena miliknya dan pergi ke mushola yang tidak jauh letaknya dari Cafe milik Larasati.
Angga sempat tertegun melihat hal itu, apa lagi dari pagi Mini begitu kuat tidak menegurnya. Namun, tak apa pikirnya. Mungkin itu lebih baik.
Selepas salat dzuhur, bi Narti menghampiri Angga. Kemudian, dia mengelus lembut punggung putranya tersebut.
"Kamu tuh Le, sama persis kaya almarhum bapakmu. Jangan terlalu cuek, jangan pernah berkata hal yang tidak sesuai dengan isi hati kamu. Nanti nyesel loh," kata Bi Narti.
Angga sempat terdiam mendengar ucapan bi Narti, namun beberapa detik kemudian dia nampak tersenyum.
"Aku ngga ngerti ibu ngomong apa," kata Angga.
Mendengar jawaban dari putranya, bi Narti nampak tersenyum. Lalu, dia menggelengkan kepalanya.
"Ah, sudahlah. Ibu mau pulang saja boleh?" tanya Bi Narti.
Mendengar pertanyaan dari Ibunya, Angga nampak kaget. Dia terlihat khawatir, takut-takut jika ibunya sedang tidak enak badan.
__ADS_1
"Ibu sakit, sakit apa? Kenapa ngga bilang-bilang? Kan, bisa segera Angga antar ke Rumah Sakit untuk berobat," kata Angga cemas.
Bi Narti terlihat menggelengkan kepalanya, kemudian dia pun berkata.
"Ibu tidak sakit, Ibu hanya pusing melihat kalian berdua yang saling diam seperti itu. Mending ibu pulang nonton drama korea, lebih romantis dan bisa membuat ibu senyum-senyum senang," kata Bi Narti.
"Ya ampun," keluh Angga.
"Ibu pulang ya," pamit Bi Narti.
"Iya, mau aku anter?" tanya Angga.
"Ngga usah, mau minta tolong anter Fredy aja. Biar cepet kalau naik motor," jawab Bi Narti.
"Oke, hati-hati ya, Bu," kata Angga.
"Iya," jawab Bi Narti.
Bi Narti nampak pulang di antar Fredy, sedangkan Angga nampak pergi ke dapur untuk makan siang.
Tiba di dapur, dia melihat Mini yang sedang asik makan mie ayam. Bahkan bibirnya sampai blepotan dengan saos, Angga tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
Dia mengambil tisu lalu duduk di depan Mini, dia usap bibir Mini menggunakan tissu tersebut.
"Biarin!" kata Mini seraya mencebikkan bibirnya.
Angga tersenyum, kemudian dia bangun dan mengambil kotak makan yang sudah disiapkan oleh bi Narti.
Mini terus saja memperhatikan apa yang Angga lakukan, tapi dia tak menegurnya. Hanya ekor matanya yang terlihat begitu sibuk memperhatikan apa yang dilakukan oleh pria yang dia sukai itu.
"Mau?" tanya Angga saat membuka kotak bekalnya.
Untuk sesaat Mini menatap kotak bekal milik Angga yang berisikan nasi, sepotong ayam goreng, sambal terasi dan juga lalapan.
Kemudian, dia menggelengkan kepalanya tanpa bersuara. Setelah itu dia kembali melanjutkan ritual makan siangnya.
Angga terlihat menghela napas panjang, lalu memulai ritual makan siangnya. Sesekali Angga melihat ke arah Mini, pandangan mereka bertemu lalu kembali saling membuang muka.
Beberapa karyawan yang melihat akan hal itu hanya saling pandang, kemudian mereka tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Selepas makan siang, baik Mini ataupun Angga tak terlibat obrolan, mereka langsung menjalankan tugas merek masing-masing.
Pukul 15:45.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Angga yang melihat Mini sudah terlihat rapih.
Selepas shalat ashar Mini sempat mematut kembali penampilannya, memoleskan bedak tipis dan memakai gincu berwarna merah muda.
"Mau jalan-jalan," jawab Mini seraya menyampirkan tas ranselnya.
"Jadi emang?" tanya Angga.
"Jadilah!" jawab Mini ketus.
Setelah mengatakan hal itu, Mini nampak keluar dari Cafe. Dia langsung tersenyum kala melihat Frans yang sudah menunggunya di depan Cafe, bahkan Frans dengan cepat langsung membukakan pintu mobil untuk Mini.
"Terima kasih," ucap Mini.
"Ya, masuklah!" kata Frans.
Angga hanya bisa tersenyum kecut melihat kepergian Mini, Angga sempat menyangka jika Mini akan kembali merengek untuk mengajaknya pergi. Sayangnya, hal itu tidak terjadi.
"Aku kira dia... ah, sudahlah. Lebih baik aku kembali bekerja," ucap Angga lesu.
Angga kembali melakukan pekerjaannya, hingga pukul sembilan tiba Angga pun menutup Cafe tersebut.
Dia sudah lelah, dia ingin istirahat. Namun, hatinya merasa tidak tenang. Lagi pula dia belum makan malam, Angga pun memutuskan untuk makan di pinggir jalan.
Karena menurutnya, makan di pinggir jalan lebih asik dan lebih murah dari pada harus makan di restoran mewah. Rasanya tetap sama, namun ia harus mengeluarkan kocek yang lebih besar.
Setelah beberapa saat dia melajukan mobilnya, Angga melihat beberapa pedagang yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan. Dia terlihat menepikan mobilnya, lalu menghampiri pedagang nasi goreng.
"Kang, nasi gorengnya satu. Pedes ya," pesan Angga.
"Siap, Jang. Tunggu di sana saja, nanti saya antarkan." Kang nasi goreng menunjuk tikar yang ada di bawah pohon.
Angga mengangguk, kemudian dia pun berlalu ke tempat yang sudah ditunjukkan oleh Kang nasi goreng tersebut.
Angga duduk dan menyandarkan tubuhnya pada batang pohon, lalu dia mengedarkan pandangannya.
Ternyata di sana banyak muda-mudi yang sedang duduk bersantai sambil menikmati makanan yang mereka pesan.
Tak lama kemudian, matanya menangkap sosok wanita yang tadi sore berpamitan untuk jalan-jalan.
Wanita itu nampak duduk termenung sambil memegang kedua lututnya, pandangannya terlihat menatap ke sembarang arah.
Bibirnya terlihat mengkerucut, wajahnya pun terlihat sedih. Angga menjadi penasaran dibuatnya, dia bangun dan langsung menghampirinya.
__ADS_1
"Mini!"