
Angga pulang ke rumahnya dengan hati riang, selama perjalanan menuju kediamannya, bibirnya tidak berhenti mengembang.
Apalagi saat mengingat apa yang dia lakukan bersama dengan Mini sebelum dia pulang, hatinya senang bukan main.
Terus terang dia menginginkan hal yang lebih dari itu, namun dia sadar jika dirinya bersama dengan Mini belum terikat tali pernikahan.
Angga benar-benar harus memikirkan cara agar bisa dengan cepat mengumpulkan uang untuk menikah, agar dia tidak harus menahan hasratnya lagi.
Agar dia bisa segera memiliki Mini seutuhnya, bisa memulai hubungannya dalam biduk rumah tangga.
Tiba di depan rumahnya, Angga langsung memarkirkan mobilnya. Lalu, dia masuk ke dalam rumahnya.
"Sudah pulang?" tanya Bi Narti.
Bi Narti terlihat sedang duduk di sofa yang ada di ruang tamu, dia memang sengaja menunggu putra tampannya itu.
"Sudah, Bu. Ibu belum tidur?" tanya Angga seraya duduk di samping Bi Narti lalu memeluknya dari samping.
"Ibu sedang menunggu kamu, Nak."Bi Narti mengelus lembut punggung putranya dengan lembut.
"Harusnya kalau Ibu sudah lelah tidur saja, jangan menunggu aku." Angga terlihat melerai pelukannya.
"Tidak apa, Ibu hanya ingin bertanya. Apa kamu sudah siap menikahi Michele?" tanya Bi Narti.
"Siap banget, Bu. Duitnya yang belum siap," kata Angga dengan cengir kudanya.
Mendengar apa yang diucapkan oleh putranya, bi Narti langsung terkekeh seraya menggelengkan kepalanya.
Bi Narti sangat tahu jika Angga sudah mempunyai tabungan, apa lagi di kampung saja Angga mengelola Cafe milik Larasati selama 2 tahun.
Ditambah lagi mengelola Cafe Larasati yang ada di Ibu kota selama delapan bulan ini, bisa dipastikan jika uang tabungannya sudah lumayan banyak.
Karena selama bekerja uang Angga tidak pernah terpakai sama sekali, selalu saja Larasati yang mencukupi kebutuhan hidup mereka berdua.
Satu hal yang dia yakini, Angga ingin memberikan pernikahan yang luar biasa untuk pujaan hatinya.
Dia juga pasti tidak ingin mengecewakan calon mertuanya dengan hanya mengadakan pernikahan yang sederhana saja.
Padahal Mini sudah berulang kali berkata jika dia tidak menginginkan pernikahan yang mewah, karena menurut Mini rumah tangga yang mereka akan jalani yang harus mereka pikirkan.
Bukan seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk resepsi pernikahan, namun Angga bersikukuh ingin memberikan yang terbaik untuk istrinya tersebut.
"Ada apa, Bu? Kenapa malah melamun?" tanya Angga.
__ADS_1
Bi Narti tersenyum, lalu dia mengambil sebuah buku tabungan yang sejak tadi tergeletak di atas meja.
Buku tabungan tersebut dia serahkan kepada Angga, Angga terlihat bingung. Namun, dia tetap mengambil buku tabungan tersebut dari tangan bi Narti.
"Ini apa, Bu?" tanya Angga.
"Itu uang tabungan Ibu, upah yang Larasati berikan ketika ibu mengasuhnya selama dua tahun. Di situ juga ada uang upah dari Larasati, karena Ibu sudah membantu di Cafe," kata Bi Narti.
Mendengar apa yang dikatakan oleh bi Narti, Angga nampak bingung. Untuk apa pikirnya bi Narti memberikan buku tabungannya kepada dirinya. Bukankah itu uang untuk jaminan masa tuanya?
"Maksud ibu apa sih ngasih ini ke aku?" tanya Angga.
"Uang tabungan Ibu buat kamu aja, biar uang tabungan kamu bisa lebih banyak lagi. Karena Ibu sangat tahu jika kamu ingin segera meminang Michele," kata Bi Narti.
"Angga memang ingin segera menikahi Michele, Bu. Tapi bukan berarti Angga harus mengorbankan uang tabungan Ibu untuk kebahagiaan Angga, ini uang untuk jaminan masa tua Ibu. Jangan Ibu berikan kepada Angga!" tolak halus Angga.
Bi Narti tampak menggelengkan kepalanya saat Angga menyerahkan kembali buku tabungan miliknya.
Selama ini Angga begitu kurang kasih sayang, karena bapaknya sudah meninggal sejak Angga masih kecil.
Bahkan dia juga kurang kasih sayang dari dirinya, karena sedari kecil Angga sudah ditinggalkan oleh dirinya, sedangkan dia bekerja di kota untuk menghidupi Angga.
Mungkin dengan uang yang dia punya saat ini, dia bisa membuat Angga bahagia, pikirnya.
Angga langsung membalas pelukan bi Narti, kemudian dia mengelus dengan lembut punggung Ibunya tersebut.
Dia jadi ikut merasa sedih dan pada akhirnya Angga pun ikut menangis, mereka saling berpelukan dan saling meluapkan rasa bahagia dan juga kesedihan yang mereka rasakan.
*/*
Angga kini terlihat duduk di tepian ranjang sambil memandang buku tabungan yang diserahkan oleh bi Narti, ternyata jumlahnya tidak main-main.
Nominal uang sebesar sembilan puluh enam juta tujuh ratus dua puluh satu ribu rupiah tertera di sana, Angga sampai kaget dibuatnya.
Jika tabungan bi Narti ada sebanyak itu, itu artinya selama dia bekerja di kota sama sekali tidak pernah memakai uang tersebut.
Hanya sesekali dia mengeluarkan uang untuk uang jajan Angga, makan Angga sehari-hari dan untuk keperluan bayar listrik dan air.
"Ya Tuhan, Ibu niat banget mau modalin aku nikah." Angga langsung menyimpan buku tabungan milik bi Narti ke dalam laci.
Kemudian dia mengambil buku tabungan miliknya, dia melihat jumlah tabungan yang sudah dikumpulkan selama dua tahun mengelola Cafe Larasati saat di kampung.
Dia juga melihat nominal angka gaji yang diberikan Larasati saat mengurus Cafe miliknya di pusat kota, ternyata jumlahnya tak kalah banyak.
__ADS_1
Selama mengelola Cafe di kampung, Larasati menggaji Angga sebanyak tiga juta lima ratus ribu. Sedangkan saat mengelola Cafe di pusat kota, Larasati menggaji Angga sebesar tujuh juta setiap bulannya.
"Sepertinya tidak akan sampai satu tahun aku sudah bisa menikah dengan Mini," kata Angga lirih.
*/*
Di Lain tempat.
Larasati terlihat baru saja keluar dari kamar mandi, dia hanya menggunakan handuk kecil sebatas dada.
Dia duduk di depan cermin, lalu dia mengeringkan rambut basahnya dengan hairdrayer.
Tak lama kemudian pintu kamar nampak terbuka, tentu saja pelakunya tidak lain tidak bukan adalah Jonathan.
Saat melihat tubuh Larasati yang hanya terbalut handuk saja, membuat Jonathan menelan salivanya dengan susah.
Dia takut jika dirinya tidak akan tahan saat melihat kemolekan tubuh istrinya itu, apa lagi saat ini Larasati sedang datang bulan.
"Sayang, kenapa hanya memakai handuk saja, hem? Apa kamu berniat menghodaku?" tanya Jonathan seraya memeluk tubuh istrinya.
Dia sandarkan pipinya di pundak Larasati, sedangkan bibirnya terlihat mengecupi leher jenjang istrinya.
"Aku tidak menggoda kamu, Mas. Aku hanya sedang mengeringkan rambutku saja, lagian bukannya kamu sedang bermain catur dengan daddy?" tanya Larasati.
"Main catur ngga asik, Yang. Enakan main kuda-kudaan sama kamu," kata Jonathan dengan tangan yang sudah meremat dada istrinya.
"Ya ampun!" keluh Larasati seraya menggeliatkan tubuhnya.
Tangan Jonathan terlihat turun dan mengusap area inti istrinya, dahinya mengernyit kala merasakan tambalan yang selama satu minggu menghalangi, kini sudah tidak ada.
"Kamu--?"
"Ya, sudah bersih. Aku baru saja mandi wajib," jawab Larasati dengan wajah yang terlihat merona.
Wajah Jonathan terlihat sumringah, dia langsung mengangkat tubuh Larasati dan membawanya ke dalam gendongannya.
Bibirnya dia tautkan ke bibir istrinya, dia sudah sangat rindu dengan liang kelembutan milik istrinya yang selalu terasa basah, hangat dan terasa memijat miliknya dengan kuat.
*
*
Bersambung....
__ADS_1
Selamat malam kesayangan, satu bab Othor siapkan untuk menemani saat santai kalian. See you next part....