
Suasana di ruang tamu berubah menjadi hening, bu Sopia terlihat terus saja menatap pak Lukman dengan tatapan penuh intimidasi.
Bu Airin nampak terdiam menunggu keputusan dari Ridwan, sedangkan bi Imas, pak Sopir dan juga Yudha nampak saling pandang. Mereka bertiga merasa bingung ikut andil dalam bagian drama yang dirasa aneh ini.
"Beri saya waktu untuk berpikir," celetuk Ridwan.
"Satu hari, besok malam saya sudah harus mendengar apa jawaban kamu." Bu Airin menegakkan tubuhnya dan menatap Ridwan dengan tatapan penuh harap.
"Baiklah," jawab Ridwan pasrah.
Bu Airin tersenyum karena Ridwan mau mendengarkan permintaannya, tatapan bu Airin kini beralih kepada bu Sopia.
"Ekhm, maaf Bu Sopia. Kisah yang terjadi si masa lalu tidak usah diungkit kalau hanya akan membuat sakit, lagi pula bunda Maudy sudah tiada," kata Bu Airin.
Bu Sopia hanya memalingkan wajahnya ke arah lain, saat mendengar ucapan bu Airin. Dia tetap saja merasa cemburu, karena bunda Maudy adalah cinta pertama dari suaminya.
Bahkan bu Sopia pernah menemukan buku diary milik pak Lukman saat pertama mereka menikah, semua torehan tangannya tentang bunda Maudy.
Padahal pacaran dengan dirinya hampir satu tahun, namun dia tidak pernah menemukan nama dirinya di dalam buku diary pak Lukman.
"Saya pamit, sudah malam. Tidak enak sama tetangga," kata Bu Airin.
Bu Airin terlihat mengulurkan tangannya ke arah bu Sopia, mau tak mau dia membalas uluran tangan bu Airin.
Bu Airin terlihat mencium punggung tangan bu Sopia, bergantian dengan mencium punggung tangan pak Lukman.
Setelah itu, dia menghampiri Ridwan dan berkata.
"Saya pulang dulu, besok malam saya tunggu jawaban kamu." Tanpa Ridwan duga, Bu Airin langsung meraih tangan Ridwan dan mencium punggung tangannya.
"Ya ampun... tangan Ridwan dicium calon istri, Mak!" refleks Ridwan langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan kirinya.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Ridwan, bu Airin nampak tersenyum. Berbeda dengan pak Sopir, Yudha dan juga bi Imas, mereka langsung menertawakan Ridwan.
"Nggak usah lebay!" kata Bu Sopia seraya memukul lengan Ridwan.
Setelah berpamitan, bu Airin nampak pulang. Ridwan, bu Sopia dan juga pak Lukman masih berdiri di halaman rumah sambil memperhatikan mobil yang semakin menjauh.
"Ayo, Wan. Kita masuk!" ajak Bu Sopia.
Bu Sopia langsung menarik tangan Ridwan untuk segera masuk ke dalam rumah, pak Lukman yang khawatir tidak bisa tidur bersama sang istri langsung menyusul dan merangkul pundak bu Sopia.
__ADS_1
"Ayang, Abang kok ngga di ajak?" tanya Pak Lukman.
Mendengar pertanyaan dari pak Lukman, bu Sopia nampak mendelik sebal. sempat-sempatnya dia merayu, pikirnya.
"Bapak tidur di sofa aja ditemani bayangan mantan, aku lagi ngga mood." Bu Sopia menggedikkan bahunya dan langsung berlalu.
Pak Lukman hanya bisa menghela napas kasar, Ridwan yang menyaksikan drama antara kedua orang tuanya hanya bisa tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
Dia tidak menyangka jika bapaknya pernah berhasil menaklukkan hati seorang wanita kaya dan juga cantik, pastinya.
Karena menurutnya bu Airin itu sangat cantik, pasti wajah cantiknya menurun dari almarhumah bundanya, pikirnya.
*/*
Di perjalanan menuju rumah utama, Yudha malah meminta turun di tepi jalan. Dia beralasan ingin pulang ke Panti saja, karena lebih nyaman tidur di sana.
"Ya sudah, kamu pulang naik taksi saja." Bu Airin memberikan uang kepada Yudha untuk ongkos.
"Iya, Bu," jawab Yudha.
Sebenarnya bu Airin merasa khawatir terhadap Yudha, makanya dia meminta Yudha untuk tidur di rumah utama saja. Namun ternyata, Yudha malah memilih untuk pulang ke Panti.
Setelah kepergian bu Airin, Yudha nampak menyusuri jalanan. Sudah lama dia tak menikmati udara malam.
"Satria!" celetuk Yudha.
Yudha terlihat mengedarkan pandangannya, dia mencari arah asal suara. Ternyata tak jauh dari sana ada Larasati, Jonathan dan juga Satria yang sedang duduk sambil menikmati sate padang.
Ya, semenjak hamil Larasati hanya mau memakan sate padang jika malam tiba, jika siang hari dia hanya akan memakan buah-buahan segar yang diblender.
Hanya kedua makanan itu saja yang masuk ke dalam perutnya, sebenarnya Jonathan merasa sangat khawatir. Akan tetapi, dokter berkata jika itu sangat normal untuk masa awal kehamilan.
"Satria!" panggil Yudha.
Satria yang mendengar suara Yudha terlihat sangat senang, dia memang sedang merasa bosan karena harus menunggu Larasati untuk menghabiskan makanannya.
"Papa! Gendong," kata Satria manja.
Yudha terkekeh, dia langsung menghampiri Satria dan menggendongnya. Setelah itu, dia kecup pipi gembil Satria.
"Kalian di sini?" tanya Yudha seraya mengalihkan tatapannya kepada Larasati dan juga Jonathan.
__ADS_1
"Ya, kami sedang menikmati makanan ini." Jonathan mengangkat piring berisikan lontong dan sate padang.
"Oh, kalian apa kabar?" tanya Yudha dengan tatapan mata tak beralih dari perut Larasati.
"Baik, Mas. Kami baik," jawab Larasati.
"Syukurlah!" kata Yudha.
"Papa, aku mau ikut syama Papa. Mau nginep," kata Satria manja.
Mata Yudha langsung beralih menatap Larasati dan Jonathan secara bergantian
"Bolehkah Satria menginap bersamaku malam ini? Aku janji akan menjaganya dengan baik, bolehkah?" tanya Yudha dengan tatapan penuh permohonan.
Terus terang Yudah sangat senang saat Satria ingin bermalam bersama dengan dirinya, baginya ini benar-benar sebuah anugerah dan juga sebuah kebaikan dari Tuhan yang patut disyukuri.
Karena baik Satria ataupun Putri terlihat begitu menyayangi dirinya, walaupun pada awalnya dia tidak menginginkan kedua buah hatinya tersebut.
Larasati dan Jonathan saling pandang, kemudian mereka tersenyum.
"Tentu saja boleh, sini peluk Buna dulu kalau mau ikut Papa," kata Larasati.
Satria dan juga Yudha terlihat begitu senang, bahkan Satria langsung turun dari gendongan Yudha dan memeluk Larasati dengan erat.
"Telima kasyih, Buna. Telima kasyih kalena syudah mengizinkan aku untuk menginap dengan Papa, Buna syama Dede baik-baik," kata Satria.
Satria terlihat mengelus lembut perut Larasati, kemudian dia mengecupi perut Larasati dengan bertubi-tubi.
Setelah itu, Satria langsung menghampiri Jonathan lalu dia berkata.
"Aku mau menginap belsyama Papa, Daddy jangan nakal! Jangan nakalin Buna, Daddy halus jaga Buna syama Dede," kata Satria dengan tatapan yang serius.
Jonathan langsung terkekeh mendapatkan perlakuan seperti itu dari Satria, dia angkat tubuh Satria dan dia dudukkan di atas pangkuannya.
"Daddy Jo, tidak akan nakal. Kamu juga harus jadi anak baik, oke?" pinta Jonathan.
"Yes, Daddy." Satria mengecup pipi Jonathan.
BERSAMBUNG....
Selamat pagi, selamat beraktivitas. Semoga kalian sehat selalu, murah rezeky dan selalu setia untuk membaca karya receh Othor.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak, yes. Sambil nunggu babang Ridwan mikir, kita bahas Papa Yudha dulu. See you next episode.