
Kini bu Airin, Ridwan, Yudha dan juga Imelda sudah berada di dalam kamar ibu Panti. Bu Airin yang selama ini selalu memercayakan Panti asuhan miliknya kepada Ibu Panti, terlihat sangat sedih saat dia melihat kondisi Bu panti yang sangat lemah.
Bu Airin nampak duduk di tepian ranjang, dia usap dan dia genggam tangan bu Panti dengan lembut. Bu Panti tersenyum, lalu dia berkata.
"Sepertinya saya sudah tidak sanggup mengurus Panti lagi, saya akan pergi ke Surabaya saja untuk ikut bersama dengan putra saya," kata Ibu Panti.
Bu Airin tersenyum hangat kembali dia mengelus lembut punggung tangan Ibu Panti, kemudian dia berkata.
"Pergilah, Bu. Jika itu yang terbaik untuk ibu, maaf karena selama ini aku sudah merepotkan dirimu," kata Bu Airin.
Bu Airin terlihat begitu menghormati wanita paruh baya tersebut, karena walau bagaimanapun juga wanita paruh baya tersebut begitu berjasa dalam mengurus Panti miliknya.
"Tidak, tentu saja Ibu tidak repot. Ibu sangat senang bisa menguruskan Panti milik kamu ini, berada di Panti ini membawa kebahagiaan tersendiri bagi ibu," kata Ibu Panti.
Ya, wanita paruh baya tersebut dulunya hanya seorang kepala pelayan yang diangkat menjadi pengurus Panti oleh Bu Airin. Tentu saja hal itu dia lakukan karena kebaikan yang selalu dilakukan oleh wanita paruh baya tersebut.
"Ya, Airin tahu. Tapi, jika Ibu pergi ke Surabaya, apakah tidak berbahaya dengan keadaan yang lemah seperti ini?" tanya Bu Airin.
"Tidak, aku masih sangat kuat untuk pergi ke Surabaya. Hanya saja aku membutuhkan seseorang untuk menemaniku selama di perjalanan, aku juga membutuhkan seseorang untuk merawatku selama aku di Surabaya," kata Ibu Panti.
Bu Airin nampak berpikir, siapakah kira-kira yang bisa menemani dan merawat Ibu Panti.
"Lalu, apakah aku harus mencarikan seorang perawat untukmu, Bu?" tanya Bu Arin.
Ibu Panti tersenyum mendengar pertanyaan dari bu Aiirin, sesungguhnya dia sudah sangat menyayangi Imelda. Selain itu dia juga merasa iba dengan gadis yang kurang beruntung tersebut.
"Sebenarnya aku ingin Imelda untuk ikut bersamaku," kata Ibu Panti.
Tatapan Ibu Panti tertuju kepada Imelda yang kini sedang berdiri seraya memeluk Putri di dalam dekapannya, merasa namanya disebut Imelda nampak memberikan Putri kepada Yudha, lalu dia menghampiri Ibu Panti.
"Maksud Ibu bagaimana?" tanya Imelda.
"Kamu tahu sendiri, kan, Mel, kalau anak Ibu adalah seorang lelaki. Dia begitu sibuk bekerja, karena baru saja memulai usahanya. Jadi, maukah kamu menemani Ibu selama perjalanan menuju ke Surabaya? Maukah kamu menjadi perawat Ibu selama Ibu di sana?" tanya Ibu Panti.
Imelda tersenyum, kemudian dia berdiri diatas kedua lututnya. Dia mengelus lembut tangan Ibu Panti.
"Imelda bersedia, Bu. Sangat bersedia, bagi Imelda Ibu sudah seperti Ibu kandung Imelda sendiri," jawab Imelda dengan senyum manisnya.
__ADS_1
Bagaimana Imelda bisa menolak ajakan dari Ibu Panti, kalau selama dia bersedih saja Ibu Panti selalu saja berusaha untuk menenangkan dirinya.
"Terima kasih, Nak. Segeralah berkemas, sebentar lagi kita berangkat," kata Ibu Panti.
"Baik," jawab Imelda.
🌷🌷🌷
Satu jam kemudian, Ibu Panti nampak berangkat menuju Surabaya bersama Imelda. Mereka pergi menggunakan jalur udara agar lebih cepat sampai.
Setelah kepergian Ibu Panti, bu Airin nampak meminta Yudha untuk mengurus Panti. Awalnya Yudha menolak, karena menurutnya dia tidak pantas mengurus Panti tersebut.
Terlalu besar tanggung jawabnya, namun bu Airin berkata jika Yudha pasti bisa mengurus Panti tersebut. Akhirnya Yudha menurut.
🌷🌷🌷
Setelah kepergian Ibu Panti, bu Airin dan juga Ridwan memutuskan untuk segera pergi ke kantor. Karena masih ada pekerjaan yang harus mereka selesaikan.
Tiba di dalam ruangan bu Airin, Ridwan terlihat mendudukan bu Airin di atas pangkuannya. Dia memeluk bu Airin dengan posesif, bahkan kepalanya dia sandarkan di dada istrinya.
"Sayang, jangan seperti ini! Aku tidak bisa bekerja," kata Bu Airin.
"Terus, aku ngapain?" tanya Bu Airin.
"Kita kerja juga, bikin dede bayi." Ridwan berbicara sambil menatap wajah istrinya.
Bu Arin terlihat salah tingkah saat mendapatkan tatapan dari Ridwan, tatapan yang menyiratkan penuh hasrat dan juga gairah.
"Tapi, Sayang. Ini di kantor, apa ngga sebaiknya kita pulang saja?" tawar Bu Airin.
"Tidak usah, aku justru ingin mencobanya di sini," ucap Ridwan.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Ridwan, Bu Airin nampak gelisah. Semalam saja Ridwan terlihat tidak bisa menahan dirinya, dia terus saja menggempur bu Airin sampai dia kesusahan untuk berjalan.
"Tapi--"
"Percaya sama aku, Yang. Aku akan melakukannya dengan lembut, boleh ya?" tanya Ridwan.
__ADS_1
Ridwan begitu berhasrat, bahkan bu Airin bisa merasakan jika milik suaminya sudah berdiri dengan tegak. Akhirnya dia pasrah, bu Airin nampak turun dari pangkuan Ridwan.
Dia berjalan dengan terlatih menuju pintu, Ridwan langsung menegakkan tubuhnya. Kemudian, dia berkata.
"Mau kemana?" tanya Ridwan dengan raut wajah kecewa.
"Mau kunci pintu sama untuk gorden," jawab Bu Airin.
Senyum sumringah langsung terlihat di bibir Ridwan kala mendengar jawaban dari istrinya, saking senangnya Ridwan langsung mengotak-atik kepala gespernya.
Kemudian dia membuka kancing pengaitnya dan menurunkan resleting celananya, bu Airin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya tersebut.
"Duduk sini lagi, Yang." Ridwan menepuk pahanya.
Bu Airin menurut, dia langsung duduk di pangkuan suaminya. Ridwan langsung menyingkap rok yang dipakai oleh istrinya, lalu dia usap paha istrinya dengan lembut.
"Jadi ini alasan kamu menyuruh aku untuk memakai rok?" tanya Bu Airin.
Ridwan tidak menjawab, dia hanya memamerkan deretan gigi putihnya. Lalu, dia membuka kancing kemeja yang bu Airin pakai.
Mata Ridwan langsung berbinar kala melihat dada istrinya yang seakan hendak tumpah dari tempatnya, Ridwan langsung membuka pengamannya dan meraup dada istrinya dengan rakus.
Dia pijat dada kiri istrinya, lalu dia sesap dengan lembut. Tak lupa dada kanan istrinya dia remat, dia juga terlihat memilin ujung dada istrinya sampai membuat bu Airin melenguh karena perbuatannya.
Bu Airin nampak menjambak rambut Ridwan kala merasakan sensasi kenikmatan yang disuguhkan oleh suaminya.
Melihat istrinya yang terlihat begitu menikmati suguhan permainannya, Ridwan tersenyum. Dia buka semua kain yang menghalangi di tubuh istrinya, lalu dia berkata.
"Sekarang, ya, Sayang." Bu Airin nampak mengangguk setuju.
Ridwan tersenyum, dia lebarkan kaki istrinya, lalu dia mulai menghentak istrinya dari bawah. Bu Airin nampak mencengkram pundak Ridwan dengan kuat, lalu dia pejamkan matanya.
Dia begitu menikmati sensasi gulungan kenikmatan yang begitu luar biasa, apalagi kini Ridwan melakukannya dengan lembut. Terasa nikmat dan juga nyaman.
BERSAMBUNG....
Terusin sendiri, ya....
__ADS_1
Othor mau bobo cantik dulu, see you next episode.