
Kinara terlihat begitu senang, karena itu artinya dia bisa melakukan balap motor dengan bebas.
Tidak perlu main petak umpet lagi kalau dia mau balapan lagi, tidak perlu repot mencari alasan lagi.
Dia peluk Larasati, dia peluk Jonathan, lalu dia peluk Satria. Dia meluapkan kebahagiaannya dengan memeluk anggota keluarganya.
"Kinar seneng banget, Bang. Karena akhirnya Kinar diizinin buat balapan," kata Kinara seraya memeluk Satria dengan erat.
Satria tersenyum lebar, karena dia juga ikut senang dengan keputusan yang sudah diambil oleh Larasati dan juga Jonathan.
"Abang ikut senang, bagaimana kalau kita rayakan dengan minum kopi di Cafe langganan kita," ajak Satria.
Kinara melerai pelukannya, kemudian dia menatap wajah Satria dengan lekat.
"Abang benar, tapi Abang yang traktir." Kinara mengedipkan sebelah matanya.
"Genit!" kata Satria seraya menyentil jidat Kinara.
"Sakit Abang," kata Kinara manja.
Larasati dan Jonathan langsung tertawa melihat tingkah dari Kinara.
"Sudah-sudah, jangan berantem. Sama sodara harus akur," kata Jonatnan.
"Siap, Daddy." Satria dan juga Kinara langsung menghampiri Jonathan dan Larasati, lalu memeluk keduanya.
****
Satria sudah terlihat tampan dengan memakai kaos pendek berwarna putih dipadupadankan dengan celana jeans berwarna biru.
Dia akan pergi ke Cafe bersama dengan Kinara, dia sudah duduk anteng di atas motor sport kesayangannya.
"Pake jaketnya," kata Larasati.
Larasati memakaikan jaket berbahan levis, Satria tersenyum lalu dia kecup pipi Larasati.
"Maksih, Buna." Satria mengambil helm dan memakainya.
"Hati-hati bawa motornya, mainnya jangan lama-lama." Larasati berpesan.
"Iya, Buna," jawab Satria.
Di saat Larasati dan juga Satria tengah mengobrol, datanglah Kinara yang terlihat memakai kaos putih panjang dipadupadankan dengan celana jeans berwarna hitam.
Tidak ada yang salah dengan bajunya, namun di bagian paha celana jeans tersebut, terdapat beberapa robekan yang menampilkan paha mulus miliki Kinara
Satria dan Larasati hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat penampilan dari Kinara, Kinara benar-benar terlihat selalu percaya diri dengan apa yang dia pakai.
"Ayo, Bang. Kita berangkat," ajak Kinara.
Setelah mengatakan hal itu, Kinara langsung memeluk Larasati. Dia mencium pipi kanan dan kiri bundanya tersebut, lalu dia naik atas motor Satria dan memakai helm.
"Jalan, Bang!" kata Kinara seraya menepuk pundak Satria.
Satria merasa tersinggung dengan perlakuan dari Kinara, dia itu abangnya. Namun, kenapa selalu saja Kinara memperlakukan dirinya seperti tukang ojek?
__ADS_1
"Ya Tuhan, durhaka sekali punya adik yang satu ini. Aku bukan tukang ojek, jangan bersikap seperti itu," kata Satria.
Mendengar kata protes dari Satria, Kinara terlihat menekuk wajahnya. Setiap Kinara melakukan hal itu, Satria selalu saja protes, pikirnya.
"Lalu, aku harus bersikap seperti apa, Bang?" tanya Kinara.
"Peluklah Abangmu ini, nanti kalau kamu jatuh terjengkang tahu rasa kamu," kata Satria.
"No! Aku tidak mau peluk-peluk Abang, Abang bukan pacar aku. Tapi Abang adalah kakak aku," kekeh Kinara.
Mendengarkan perkataan dari Kinara, Satria terlihat menggelengkan kepalanya. Ini bukan masalah memeluk pacar, tapi masalahnya mereka menaiki motor.
Kalau Kinara tidak memeluk Satria, takutnya Kinara akan jatuh terjengkang. Setidaknya, Kinara mau berpegangan padanya.
"Kamu itu benar-benar berbeda dengan Putri, Putri selalu memelukku dengan penuh kasih sayang. Tapi, kamu tidak pernah mau memelukku," keluh Satria.
"Sudahlah, Bang. Jangan samakan aku dengan kak Putri, Bang. Pokoknya aku tidak suka memeluk Abang," kata Kinara ketus.
"Ya, terserah! Tapi, jangan salahkan aku kalau nanti kamu jatuh di jalan," kata Satria.
Setelah mengucapkan hal itu, Satria terlihat berpamitan kepada Larasati. Lalu, dia mulai menyalakan mesin motornya dan melajukan motornya tersebut menuju Cafe.
Larasati terlihat tersenyum seraya melambaikan tangannya, dia merasa senang karena keduanya buah hatinya tumbuh dengan baik. Walaupun terkadang keduanya selalu saja bersitegang.
Sepanjang perjalanan menuju Cafe, Kinara benar-benar tidak memeluk Satria atau bahkan berpegangan.
Anak itu benar-benar terlihat mempertahankan dirinya agar tidak memeluk abangnya tersebut.
Dengan terpaksa Satria melajukan motornya dengan perlahan, karena walau bagaimanapun juga, dia merasa takut jika Kinara akan terjatuh karena ulahnya.
"Duduklah, De. Sekarang pesanlah kopi dan juga cake kesukaanmu," kata Satria.
"Iya, Bang. Kinara mau kopi latte sama cake coklat," kata Kinara seraya menunjuk menu yang ada di sana.
"Kalau begitu, Abang pun mau itu," kata Satria.
"Abang suka ikut-ikutan," kata Kinara.
"Tapi Abang pengen, udah jangan protes!" kata Satria seraya mengacak pelan rambut adiknya.
Kinara terlihat menekuk wajahnya dengan sempurna kala mendapatkan perlakuan manis dari Satria, dia tidak suka.
"Bang, jangan acak-acak rambut aku. Nanti rusak," protes Kinara.
Mendengar kata protes dari Kinara, Satria terlihat menghela napas berat. Beda sekali pikirnya, antara Putri dan juga Kinara.
Putri selalu saja bersikap manis dan juga tidak pernah banyak protes terhadap dirinya, namun Satria sadar, jika yang namanya manusia itu memiliki kepala yang berbeda.
Sudah dapat dipastikan pikirannya pun akan berbeda, tidak akan ada yang sama walaupun satu darah
"Ya, maafkan Abang," akhirnya Satria mengalah.
"Iya, Bang. Nggak apa-apa," jawab Kinara.
Kinara dan Satria terlihat memesan kopi dan juga cake yang mereka inginkan, hanya menunggu lima menit saja pesanan mereka sudah datang.
__ADS_1
Satria dan juga Kinara terlihat mengobrol dengan asyik sambil menikmati pesanan mereka, namun tiba-tiba senyum Kinara langsung memudar.
Dia melihat seorang pria seumuran dengan Satria masuk ke dalam Cafe tersebut dengan menggandeng seorang wanita cantik di sampingnya, Satria langsung mengikuti arah tatapan adiknya tersebut.
"Kak Jeje," kata Kinara lirih.
Jeremy adalah pembalap muda yang sangat Kinara kagumi, dia rela menjadi pembalap karena ingin mendekati pria bernama Jeremy tersebut.
Bahkan Kinara rela ikut balap liar hanya untuk menarik simpati darinya, Kinara bahkan pernah menyatakan cintanya terhadap laki-laki bernama Jeremy tersebut.
Sayangnya, cintanya ditolak. Jeremy beralasan jika Kinara masih sangat kecil dan yang kedua, dia belum ingin berpacaran.
Lalu, apa ini? Kenapa dia melihat Jeremy berjalan dengan perempuan cantik? Mereka terlihat bergandengan dengan sangat mesra, bahkan sesekali mereka terlihat saling tatap dengan penuh cinta, Kinara kecewa.
"Kita pulang, Bang. Tiba-tiba saja Kinar meriang, Kinar tunggu diparkiran." Tanpa menunggu jawaban dari Satria, Kinara langsung bangun dari tempat duduknya.
Dia berjalan dengan raut wajah datar namun di matanya terlihat kesedihan yang mendalam, Kinara sempat berpapasan dengan Jeremy.
Jeremy terlihat kaget saat bertemu dengan Kinara, bahkan dia terlihat melepaskan tangannya dari wanita cantik tersebut.
Namun, Kinara seolah tidak peduli. Dia berjalan dengan cepat dan keluar dari Cafe tersebut, Satria yang melihat gelagat adiknya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Sepertinya Satria mulai paham dengan apa yang terjadi terhadap adiknya saat ini, namun Satria tidak bisa berkata apa-apa.
Dia terlihat berjalan ke kasir dan membayar kopi dan juga cake yang sudah dia makan bersama dengan Kinara. Setelah itu, dia terlihat pergi dari sana untuk menyusul Kinara.
Tiba di parkiran, Satria melihat Kinara yang sedang menyusut air matanya. Dia langsung menghampiri adiknya dan memeluknya dengan penuh kasih.
"Kalau mau nangis, jangan di sini. Kita pergi ke taman, mau?" ajak Satria.
"No, aku mau pulang saja. Aku mau tidur di rumah, kepalaku pusing. Rasanya ngantuk, mau tidur aja," kata Kinara beralasan.
"Ya, baiklah!" jawab Satria.
Setelah mengatakan hal itu, Satria terlihat mengambil helmnya lalu memakainya. Dia juga mengambilkan helm untuk Kinara dan memakaikannya.
"Ayo kita pulang," ajak Satria setelah dia menstater motornya.
"Iya," jawab Kinara.
Kinara terlihat naik ke atas motor sport tersebut, lalu memeluk Satria dengan sangat erat.
Bahkan, dia langsung menyandarkan kepalanya di punggung abangnya tersebut. Satria langsung menggelengkan kepalanya, dalam hati dia ingin tertawa.
Karena Kinara selalu saja tidak ingin memeluk dirinya, katanya Satria bukan pacarnya. Namun, ternyata di saat dia sedih seperti ini, Kinara malah memeluk Satria dengan sangat erat.
Bahkan, Satria merasa sesak karena Kinara memeluk dirinya dengan terlalu erat.
"Dasar!" rutuk Satria sebelum melajukan motornya.
**//
Masih berlanjut.
Selamat malam, selamat beristirahat. Kuy ramein kolom komentar, jangan lupa tinggalkan komen yang berkesan ya.
__ADS_1