
Melihat Kinara yang melajukan motornya dengan sangat kencang, kak Jefry terlihat bersorak kegirangan.
Bahkan, dia sampai melompat-lompat seraya menepuk-nepuk pundak Satria. Dia tidak menyangka dengan kemampuan yang dimiliki oleh gadis kecil seperti Kinara.
Usianya boleh saja baru empat belas tahun, namun kemampuannya ternyata sangat mumpuni. Kak Jefry terlihat begitu bangga.
"Wow, keren! Pantas saja om Jo, meminta aku untuk melatih Kinar dengan baik. Ternyata dia sangat jago," kata Kak Jefry.
"Hem!" hanya itu jawaban yang keluar dari bibir Satria.
Pandangannya tidak lepas dari Kinara, dia benar-benar takut jika Kinara akan terjatuh. Karena anak itu benar-benar melajukan motornya dengan kekuatan penuh.
Beberapa menit kemudian, sorak-sorai terdengar riuh. Kinara melewati garis finish, bahkan Kinara terlihat melakukan standing Seraya berdiri.
Kepala Satria langsung terasa berdenyut, dia merasa kepalanya sangat sakit dan juga pusing. Dia benar-benar takut jika Kinara akan terjatuh.
"Luar biasa, dia pasti akan menjadi pembalap internasional," kata Kak Jefry memuji.
Satria tidak menyahuti, dia hanya memijat kepalanya yang benar-benar terasa sakit.
"Abang! Kinar menang," kata Kinara.
Kinara terlihat berlari, lalu dia melompat ke dalam pelukan Satria. Satria hanya bisa tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, dia tidak menyangka dengan tingkah yang dilakukan oleh adiknya tersebut.
"Ade jago, kan, Bang?" tanya Kinara.
"Ya, kamu jago. Kamu kuat, kamu bukan wanita lemah yang bisa dimanfaatkan oleh orang lain. Kamu kesayangan Abang," jawab Satria.
Kinara tersenyum kecut mendengar apa yang dikatakan oleh Satria, Kinara lalu melerai pelukannya.
"Makasih atas dukungannya, Bang," kata Kinara.
"Iya, adikku, Sayang." Satria mengacak pelan rambut adiknya.
"Abang!" ucap protes Kinara.
Satria tersenyum melihat kekesalan di wajah adiknya, Kak Jefri yang melihat interaksi antara Satria dan juga Kinara terlihat tersenyum.
Kemudian, dia menepuk-menepuk pundak Kinara dengan perlahan. Dia bangga dengan murid barunya.
"Kamu hebat, Kakak bangga sama kamu. Sepertinya kamu akan menjadi pembalap kesayangan Kakak," kata Kak Jefry.
Kinara tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh kak Jefry, lalu dia berkata.
__ADS_1
"Terima kasih atas pujiannya, Kak. Tapi--"
"Kinar!" panggil Jeremy.
Kinara menolehkan wajahnya ke arah Jeremy, dia tersenyum hangat kepada lelaki yang sudah membuat dirinya terobsesi itu.
"Ya, ada apa, Kak Jeje?" tanya Kinara.
"Soal tawaran gue yang tadi, gue... serius loh." Jeremy terlihat tersenyum manis.
Kinara membalas senyuman Jeremy tidak kalah manis, dia mendekati Jeremy, lalu dia berkata.
"Terima kasih, Kak. Tawaran Kakak sangat menggiurkan," kata Kinara masih dengan senyumnya.
Jeremy terlihat begitu senang dengan apa yang dikatakan oleh Kinara, dia langsung meraih tangan Kinara dan hendak mengecupnya.
Pacar Jeremy terlihat cemberut, dia takut jika Jeremy akan jadian dengan Kinara. Namun, Kinara langsung menarik tangannya dengan lembut.
"Maaf, Kak. Tapi tawaran Kakak sudah tidak menarik lagi untuk Kinar," kata Kinara.
Jeremy terlihat bengong, dia merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Padahal selama ini dia selalu mengejar-ngejar dirinya, lalu... setelah dia memberikan tawaran, kenapa Kinara malah menolaknya?
"Maksud kamu?" tanya Jeremy.
Kinara tidak menjawab pertanyaan dari Jeremy, dia tersenyum lalu meninggalkan Jeremy dan menghampiri Kak Jefri.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Kinara, kak Jefry terlihat sangat kaget. Padahal dia mengira jika dirinya akan mempunyai bintang baru di dunia balap.
Karena kemampuan Kinara sangatlah luar biasa, Kinara bisa menjadi pembalap yang handal. Namun, harapannya langsung pupus.
"Tapi, Kinar. Kamu mempunyai bakat yang luar biasa, loh. Sayang tahu, kalau tidak dikembangkan," kata Kak Jefry.
Dia masih saja berusaha membujuk Kinara, siapa tahu Kinara akan berubah pikiran, pikirnya.
"Tidak apa-apa, Kak. Aku sadar kok, aku ini seorang perempuan. Sepertinya mencari bakat yang lain tidaklah buruk," jawab Kinara.
Sebenarnya, Jefry merasa sangat bingung dengan apa yang dikatakan oleh Kinara. Pasalnya Jonathan berkata jika Kinara benar-benar menggebu atas keinginannya, dia ingin menjadi seorang pembalap.
Bahkan, Kinara rela menjadi pembalap liar untuk menyalurkan hobinya. Namun, kenapa dengan mudahnya Kinara memutuskan untuk berhenti?
Padahal, dia baru melakukan satu kali sesi pelatihan. Itu pun belum selesai, masih ada pelajaran yang belum dia sampaikan.
"Tapi, Kinar. Om Jo sudah membayar lunas pelatihan kamu untuk satu tahun, loh," kata Kak Jefry.
__ADS_1
Kinara tertawa, lalu dia mengalihkan pandangannya kepada Satria. Kemudian, dia berkata.
"Daddy Jo adalah orang kaya, dia tidak akan bangkrut hanya dengan memberikan uang pelatihan selama satu tahun kepada Kakak," kata Kinara seraya terkekeh.
Kak Jefry dan Satria ikut tertawa saat mendengar apa yang dikatakan oleh Kinara, berbeda dengan Jeremy yang terlihat cemberut.
"Yayaya, terserah apa kata kamu saja. Ya, udah. Sukses selalu untuk kedepannya," kata Kak Jefry.
"Ya, terima kasih. Kalau begitu Kinar pamit," kata Kinara.
Setelah mengatakan hal itu, dia langsung memeluk Satria dan mengajaknya untuk pergi dari sana.
Jeremy terlihat menatap kepergian Kinara dengan tatapan nanarnya, dia tidak menyangka jika Kinara akan mengatakan hal seperti itu.
Padahal sedari dulu dialah yang selalu menolak Kinara, namun kali ini Kinara langsung mempermalukan dirinya dengan menolak tawarannya.
"Ade aku emang paling keren," puji Satria seraya memakaikan helm di kepala adik kesayangannya.
"Hem," jawab Kinara.
Setelah mengatakan hal itu, akhirnya mereka berdua terlihat meninggalkan tempat pelatihan balap motor tersebut.
Kinara merasa jika hatinya kini sudah lega, tidak ada lagi rasa sesak di dalam dadanya. Namun, tetap saja dia tidak bisa menahan air matanya.
Kinara mengeratkan pelukannya, lalu dia menangis dalam diam. Satria tahu jika adiknya sudah mengambil keputusan yang berat.
Namun, saat ini dia sangat yakin jika apa yang sudah diputuskan oleh Kinara, adalah hal yang terbaik.
Tanpa Kinara duga, Satria terlihat menepikan motornya. Kemudian, dia langsung mengajak Kinara untuk turun dan duduk di bangku pinggir jalan.
Dia membuka helm yang dipakai oleh Kinara dan juga miliknya, kemudian dia mengusap air mata adiknya dengan lembut.
"Kamu mau langsung pulang, apa mau menenangkan diri dulu?" tanya Satria.
"Sepertinya aku ingin langsung pulang saja, Bang. Aku tidak terlalu cengeng, kok," kata Kinara dengan air mata yang berurai.
Satria tertawa, lalu dia menarik tubuh mungil Kinara ke dalam pelukannya. Dia mencoba menenangkan hati adik kecilnya.
"Menangislah!" kata Satria.
Kinara terlihat menenggelamkan wajahnya di dada bidang abangnya, lalu dia menangis dengan posisi ternyamannya.
***
__ADS_1
Masih berlanjut....
Kuy kasih dukungan buat Kinar biar ngga sedih lagi.