Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 86


__ADS_3

Kinara terus saja bergelayut manja kepada Mich, dia terus saja menempelkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya pada lengan kokoh Mich.


Dia sekolah tidak peduli dengan tatapan para karyawan wanita yang terlihat cemburu, terlebih lagi dia tidak peduli dengan tatapan Jeremy yang seakan menguliti dirinya.


"Silakan masuk!" ucap Mich seraya membuka pintu mobilnya.


Kinara terlihat tersenyum dengan dibuat semanis mungkin, kemudian dia masuk dan duduk tepat di samping kemudi.


Mich membalas senyuman Kinara, lalu dia terlihat menutup pintu mobil tersebut dan dia memutari mobilnya untuk segera masuk dan duduk di balik kemudi.


"Mau langsung pergi ke rumah Merlin atau mau membeli sesuatu dulu?" tanya Mich seraya menyalakan mesin mobilnya.


Kinara nampak berpikir kala mendapatkan pertanyaan tersebut dari Mich, dia akan pergi ke rumah seseorang. itu artinya di harus membawa buah tangan, tidak mungkin bukan jika dia datang tanpa membawa apa pun.


"Bagaimana kalau kita ke toko kue dulu? Sepertinya membeli sekotak kue bukan hal yang buruk," usul Kinara.


"Ya, seperti itu ide yang bagus. Kue coklat adalah kue kesukaannya," kata Mich seraya tersenyum kala mengingat kakak perempuannya itu.


"Aku juga mau kue, Om. Kue coklat juga, tapi dikasih parutan keju," kata Kinara.


"Boleh," jawab Mich.


Akhirnya Mich terlihat melajukan mobilnya menuju toko kue terlebih dahulu, setelah membeli dua kota kue akhirnya mereka pergi ke rumah Merlin.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Merlin, Mich terus saja tersenyum. Dia begitu senang karena hari ini Kinara terlihat begitu manis kepada dirinya.


Walaupun dia tidak bisa menjadi kekasih dari Kinara atau bahkan menjadi suaminya pun tidak apa, pikir Mich. Yang penting dia bisa menjalani hari-hari indah bersama Kinara.


"Ehm, Om lagi seneng ya?" tanya Kinara yang melihat senyum di bibir Mich tidak pernah luntur.


Mendengar pertanyaan dari Kinara, sontak Mich terlihat menolehkan wajahnya ke arah Kinara sebentar. Kemudian, dia fokus kembali dalam mengemudi.


"Ya, aku sedang senang," jawab Mich.


Sudah sangat lama sekali hati Mich terasa membeku, kini dengan kehadiran Kinara di sampingnya rasanya bongkahan es batu yang mengelilingi hatinya terasa mencair.


Apalagi melihat senyum di bibir Kinara, seakan ada hawa panas yang mengaliri tubuhnya.


"Oh, tapi Om aneh saat ini. Wajah Om terlihat memerah," kata Kinara seraya menatap wajah Mich dengan lekat.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Kinara, rasanya Mich sangat malu sekali. Kalau saja bukan sedang menyetir, pasti Mich sudah menyembunyikan wajahnya. Agar kinara tidak bisa melihat rona merah di wajahnya karena begitu dekat dengan Kinara.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku hanya kepanasan saja," jawab Mich yang menurut Kinara sangat tidak masuk akal.


"Oh," jawab Kinara seraya menggedikkan kedua bahunya dengan acuh.


Akhirnya Kinara memutuskan untuk menatap jalanan saja, dia seolah acuh kepada Mich. Mich merasa bersyukur karena akhirnya Kinara tidak banyak bertanya lagi, karena semakin Kinara bertanya degub jantungnya seakan berdebar tidak karuan.


Saat tiba dirumah Merlin, ternyata wanita hamil itu sedang duduk dengan wajah ditekuk. Mich langsung memeluk Merlin dan mengecup pipinya, Melin terlihat kaget bahkan dia langsung memukul pundak Mich.


"Aku kira Max," kata Merlin dengan bibir yang semakin mengerucut.


"Ya ampun, Kakak ini kenapa sih? Ini belum waktunya Max pulang, kenapa malah ngarepin Max pulang sekarang?" tanya Mich.


Merlin terlihat melingkarkan tangan kirinya pada tubuh Mich, tapi tangan kanannya terus saja memukul lengan adik kandungnya tersebut.


"Kakak lagi sedih, Mich. Kakak pengen kue coklat, tapi Max nggak mau beliin. Katanya sebentar lagi ada operasi," kata merlin dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Kinara tersenyum mendengar Merlin yang sedang mengadu, lalu dia menghampiri Merlin seraya menyimpan kue di atas meja.


Lalu dia duduk tepat di samping Merlin dan menepuk-nepuk punggung Merlin dengan lembut, Merlin langsung melerai pelukannya dan menatap wajah Kinara.


"Hai, Cantik. Maaf belum sempat menyapa," kekeh Merlin.


"Tidak apa, Tante tidak usah bersedih lagi. Karena kuenya sudah ada," kata Kinara seraya menunjukkan kue yang dia simpan di atas meja.


"Baiklah Kakak, maaf," kata Kinara yang lupa memanggil Merlin dengan sebutan Tante.


"Tidak apa, Cantik. Oiya, Mich. Tolong pindahkan kuenya ke atas piring," pinta Merlin kepada Mich.


"Oh ya ampun, tega sekali menyuruh pria tampan sepertiku," keluh Mich dengan malas.


"Ayolah adikku, Sayang. Demi calon keponakan kamu," kata Merlin seraya mengelus lembut perutnya.


"Iya, iya!" jawab Mich.


Mich terlihat bangun dan mengambil kue yang berada di atas meja, lalu dia melangkahkan kakinya menuju dapur di mana dia akan memindahkan kue tersebut ke atas piring sesuai dengan keinginannya Merlin.


Setelah kepergian Mich, Kinara pun jadi berpikir, mungkin inilah saatnya untuk bertanya kepada Merlin. Siapa tahu Merlin mengetahui tentang foto yang disimpan oleh Mich, foto dirinya di saat dia kecil.


"Kak, ehm. Aku mau bertanya," kata Kinara dengan ragu, tapi dia ingin tahu.


"Boleh, apa yang ingin kamu tahu?" tanya Merlin.

__ADS_1


"Itu, Kak. Anu, apakah Kakak pernah tinggal di tanah air?" tanya Kinara.


Merlin tersenyum menanggapi pertanyaan dari Kinara, kemudian dia mengelus lembut lengan Kinara dan berkata.


"Ya, dulu kami tinggal di tanah air. Ibuku asli orang sana, ayahku adalah berasal dari sini. Setelah mereka menikah mereka memutuskan untuk tinggal di tanah air," Merlin terlihat menjeda ucapannya.


Dia terlihat begitu enggan untuk menceritakan masa lalunya. Kinara menyadari akan hal itu, tapi dia masih merasa penasaran.


"Dulu keluarga kecil kami sangat bahagia, sampai akhirnya Ibu berselingkuh karena merasa ayah terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Ibu dan ayah berpisah, ayah semakin sibuk dengan pekerjaannya. Aku dan Mich menjadi anak yang benar-benar kurang kasih sayang," kata Merlin seraya tersenyum kecut.


"Maaf," kata Kinara.


"Tidak apa, kamu tahu Kinar. Ada satu hal yang selalu membuat kami tersenyum ketika kami dalam kesedihan dan kesepian," kata Merlin seraya terkekeh.


"Apa?" tanya Kinara penasaran.


"Dulu kami mempunyai tetangga, keluarga mereka terlihat begitu harmonis dan juga bahagia. Ada seorang anak kecil perempuan yang selalu menjadi pusat perhatian kami, bahkan anak perempuan itu selalu bisa membuat Mich tertawa dengan sangat lepas. Padahal anak itu hanyalah anak kecil berusia lima tahun."


Merlin terlihat memejamkan matanya, dia seolah sedang mengingat-ingat masa lalunya dengan Mich.


"Kamu tahu Kinar, bahkan waktu itu Mich selalu menatap anak itu dengan tatapan penuh cinta. Aku bahkan sempat menggodanya, sungguh Mich sangat konyol. Dia berusia delapan belas tahun, tapi dia menyukai anak kecil berusia lima tahun," kata Merlin.


Deg!


Jantung Kinara seakan berdetak dengan cepat setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Merlin, dia tidak menyangka jika Mich sudah menyukai dirinya sejak lama.


Pantas saja banyak foto dirinya yang dimiliki oleh Mich, bahkan Mich sampai membuatkan album foto yang berisikan foto dirinya.


"Kuenya sudah aku pindahkan, satu piring untuk Kakak dan satu lagi untuk Kinar," kata Mich seraya menyimpan dua piring di atas meja.


Mata Merlin langsung berbinar kala melihat kedatangan Mich gang langsung menyimpan kue kesukaannya di atas meja.


"Waah! Terima kasih adikku, Sayang." Merlin langsung memeluk Mich dengan erat.


Mich sempat memperhatikan wajah Kinara, dia terlihat terdiam seperti orang yang sedang melamun. Mich tersenyum lalu berkata.


"Kinar!" panggil Mich seraya mengusap lembut lengan Kinara.


"Ya, Om." Kinara menjawab dengan kaget.


"Kamu kenapa?" tanya Mich.

__ADS_1


*****


Selamat siang, selamat beraktivitas. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky, Sayang kalaian semua. Jangan lupa like dan komentnya, terima kasih.


__ADS_2