
Pukul sepuluh malam acara resepsi pernikahan telah selesai, Angga terlihat menuntun Mini untuk masuk ke dalam kamar pengantin mereka.
Raut kebahagiaan terpancar dengan jelas di wajah keduanya, baik Mini ataupun Angga terlihat sangat bahagia sekali.
Apalagi ini adalah malam pertama mereka, Mini dan Angga terlihat gugup sekaligus senang.
Karena sebentar lagi mereka akan merasakan yang namanya nikmat surga dunia, bahkan sebentar lagi mereka akan saling memiliki seutuhnya.
"Buka bajunya, Yang!" kata Angga saat melihat Mini duduk di depan meja rias.
"Ini juga mau aku buka, Sayang," jawab Mini.
Mini terlihat mulai membuka gaun pengantin yang dia pakai, tangan Angga tidak mau diam. Dia berusaha membantu istrinya untuk melepaskan semua kain yang menempel di tubuhnya.
Setelah semua kain yang menempel di tubuh Mini terlepas, dia mengambil kimono mandi dan memakaikannya di tubuh istrinya.
Setelah itu, dia membantu Mini untuk menghapus make upnya. Lalu, dia juga membantu Mini membuka semua aksesoris yang melekat di kepalanya.
"Sudah, Yang. Sudah lepas semunya, Mas mau sekarang. Boleh Ngga?" tanya Angga.
Mini tersenyum saat melihat Angga yang begitu tidak sabar untuk menyentuhnya.
"Aku milikmu, semua yang ada di dalam diriku adalah hak kamu," kata Mini.
Angga tersenyum senang, dia menggendong Mini dan merebahkan tubuh istrinya tersebut di atas tempat tidur yang bertaburkan kelopak bunga mawar.
Setelah itu, dengan tidak sabarnya dia membuka semoga kain penghalang di tubuhnya. Dia bahkan sampai lupa untuk mandi terlebih dahulu, karena baik Angga ataupun Mini sudah tidak sabar untuk saling memiliki.
Kini keduanya sudah dalam keadaan polos, Angga mulai mengecup kening istrinya, dilanjutkan dengan mengecup bibirnya.
Mereka terlihat saling memagut dengan penuh gairah, Angga melakukan tugasnya dengan baik. Dia bisa membuat Mini sampai tidak tahan untuk segera dimasuki.
Hingga pada akhirnya, Angga mulai melakukan penyatuannya. Namun, wajah Angga berubah kecewa kala dia tidak merasakan tanda keperawanan pada milik istrinya.
Dengan begitu mudahnya miliknya masuk dan menerobos liang surga yang sudah sangat ingin dia cicipi itu, dia menggoyangkan pinggulnya namun hatinya bergemuruh hebat.
Berbeda dengan Mini yang terlihat begitu menikmati kegiatan panas mereka, beruntung lampu sudah Angga matikan saat hendak melakukan ritual malam pertama mereka.
Karena Mini tidak bisa melihat raut kecewa di wajah Angga dengan seperti itu, Angga memang merasa kecewa, tapi dia tetap melakukan tugasnya dengan baik.
Dia berusaha bersikap biasa saja, dia berusaha untuk menuntaskan hal yang sudah dia mulai.
'Kenapa rasanya kecewa sekali? Seharusnya aku sudah bisa menebak kalau dia memang sudah bukan perawan, apalagi dia besar di negeri orang.'
Dia terus mengayunkan pinggulnya dengan penuh kekecewaan, hingga pada akhirnya dia bisa menuntaskan tugasnya.
__ADS_1
Mini terlihat bahagia sekali, karena dia bisa memberikan pelayanan terbaik untuk Angga.
"Terima kasih, Mas. Karena kamu sudah mau menjadi suamiku," kata Mini seraya memeluk tubuh Angga.
"Hem, tidurlah! Kamu pasti cape jawab Angga dengan menahan gemuruh di dadanya.
"Ya," jawab Mini.
Angga terdiam seraya memeluk Mini, tangan kirinya dia jadikan bantal untuk istrinya. Tangan kanannya terus mengelus lembut punggung istrinya.
Tak lama kemudian Mini nampak terlelap dalam tidurnya, Angga tatap wajah Mini yang terlihat begitu nyaman dalam dekap hangatnya.
Tes!
Buliran bening nampak keluar dengan tidak tahu malunya, Angga tersenyum tapi matanya terus berair.
Dia bahagia bisa memiliki Mini, namun hatinya meronta penuh tanda tanya. Sesak rasanya menerima hal yang tidak terduga.
"Kenapa harus seperti ini? Tidak ada pekikkan kesakitan, tidak ada darah perawan. Semuanya sangat mulus tanpa hambatan, kenapa kamu membuat aku kecewa di malam pertama kita?" tanya Angga lirih.
*/*
Om Hendry dan mom Delina terlihat kaget saat melihat kedatangan Angga dan juga Mini, padahal waktu baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
Tentu saja hal itu dia lakukan karena takut akan mengganggu kegiaatan pengantin baru itu, sungguh pengertian cara om Hendry.
Sayangnya Angga sudah tidak ingin berlma-lama lagi tinggal di hotel, dia takut khilaf dan lebih kecewa lagi.
"Loh, kok kalian sudah pulang?" tanya Om Hendry.
Om Hendry dan mom Delina terlihat menatap wajah Angga dan juga Mini secara bergantian, wajah Mini terlihat begitu segara dan juga terlihat ceria.
Berbeda dengan wajah Angga yang terlihat begitu kusut dan terlihat lingkaran hitam di bawah matanya.
Namun, mereka tetap berpikir positif. Mungkin Angga sudah menggempur Mini semalam suntuk, sehingga lelaki itu tampak begitu lelah.
Padahal pada kenyataannya semalaman Angga tidak bisa tidur memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
Terus terang dia benar-benar kecewa menghadapi kenyataan ini, dia berpikir haruskah bertanya secara langsung kepada Mini istrinya.
Haruskah dia bertanya 'apakah kamu sudah pernah melakukan hubungan seksualitas dengan pria lain sebelumnya?'
Benar-benar pemikiran yang konyol, pikirnya. Karena walau bagaimanapun juga, dia tidak ingin menyakiti Mini.
"Mas Angga sudah tidak betah tinggal di hotel, dia meminta untuk pulang," jawab Mini.
__ADS_1
"Loh, kok bisa begitu?" tanya Mom Delina.
"Kata Mas Angga ngga enak kalau tinggal di hotel berlama-lama," jawab Mini lagi.
"Bukannyan kalian akan merasa bebas kalau tinggal di hotel?" tanya Mom Delina dengan tatapan mata mengarah pada Angga.
"Eh, itu. Anu, saya takut khilaf," jawab Angga asal.
Mendengar jawaban dari menantunya, om Hendry dan moml Delina langsung tertawa. Berbeda dengan Mini, dia terlihat malu lalu mencubit gemas perut Angga.
Angga hanya bisa tersenyum kikuk mendapatkan perlakuan seperti itu dari istrinya, dia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.
"Ya sudah, kalian sarapan dulu. Setelah itu kalian tidur saja, pasti kalian sangat lelah," ajak Om Hendry.
"Ya," jawab Angga.
Akhirnya mereka berempat langsung melangkahkan kaki mereka menuju ruang makan, tiba di ruang makan mereka langsung melakukan ritual sarapan pagi tanpa ada yang berbicara. Mereka melakukan sarapan pagi dalam diam.
Setelah selesai, Mini langsung mengajak Angga menuju kamar miliknya. Angga tersenyum saat melihat kamar Mini yang didominasi dengan warna pink.
Angga terlihat duduk di tepian tempat tidur, dia terlihat memperhatikan seluruh ruangan yang akan dia tempati untuk satu minggu ke depan.
Karena Angga dan Mini sudah sepakat, dia akan tinggal di rumah om hendri selama seminggu dan akan tinggal di rumah bi Narti selama satu minggu, begitu seterusnya.
"Sayang!" Mini terlihat duduk di pangkuan Angga dan menggoyang-goyangkan pinggulnya.
Angga tersenyum, dia mengangkat tubuh Mini dan merebahkannya di atas tempat tidur. Dia tarik tubuh Mini ke dalam pelukannya, dia kecup kening istrinya.
"Aku mau tidur, aku sangat mengantuk." Angga memejamkan matanya dan tak lama kemudian dia nampak terlelap.
"Sebenarnya kamu kenapa, Mas? Kenapa kamu terlihat aneh?" tanya Mini seraya menatap wajah damai Angga.
BERSAMBUNG....
Selamat pagi kesayangan, selamat beraktifitas. Hayo, ada yang tau nggak kira-kira bagaimana nasib pernikahan Mini dan juga Angga?
Akankah Angga menanyakan secara langsung kepada Mini tentang keperawanannya?
Ataukah Angga akan mencari tahunya sendiri akan hal itu?
Othor jadi dege-degan, takut diamuk readers. Kabur ah 💃💃💃💃💃💃💃💃
Di tunggu ya, jawabannya....
See you next episode....
__ADS_1