
Besok adalah hari yang dinanti oleh Larasati dan juga Jonathan, karena besok Larasati dan Jonathan akan melaksanakan acara ijab kabul.
Itu artinya, besok Larasati dan juga Jonathan akan resmi menjadi suami-istri. Mereka akan tinggal dalam satu rumah dan tentunya mereka akan memulai hidup barunya dengan berumah tangga.
Hari ini Larasati terlihat begitu sibuk sekali, karena sedari pagi dia melakukan perawatan full body. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, tentu saja hal itu dia lakukan untuk mempersiapkan malam pertamanya dengan Jonathan.
Sore harinya, selepas shalat ashar Larasati terlihat termenung di depan meja rias. Dia teringat akan Yudha, mantan suaminya.
Dia memang sudah berpisah dengan Yudha, namun rasanya dia ingin berbagi kebahagiaan dengan lelaki tersebut.
Larasati pun berinisiatif untuk mengundang Yudha di acara pernikahannya, tentu saja hal pertama yang Larasati lakukan adalah menemui tuan Elias, dia ingin memberitahukan niatnya kepada daddy' nya tersebut.
"Dad!" panggil Larasati saat tiba di ruang tamu.
Larasati langsung duduk di tengah-tengah antara nyonya Meera dan juga tuan Elias, dia langsung memeluk tuan Elias dan menyandarkan kepalanya di pundak sang daddy.
Melihat kelakuan putrinya, tuan Elias nampak menggelengkan kepalanya. Dia sudah sangat hapal dengan sikap Larasati, jika sudah seperti ini, itu artinya Larasati sedang menginginkan sesuatu.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Tuan Elias.
Larasati terlihat mencebikkan bibirnya, karena ternyata keinginannya sudah dapat diketahui oleh sang daddy.
Larasati lalu menatap wajah daddynya dengan lekat, lalu dia berkata.
"Dad, besok adalah acara pernikahanku. Bolehkah aku mengundang Mas Yudha?" tanya Larasati hati-hati.
Mendengar permintaan dari putrinya, tuan Elias nampak mengerutkan keningnya. Untuk apa pikirnya mengundang Yudha, lelaki yang sudah meluluhlantahkan hati dan kehidupan putrinya tersebut.
Melihat daddynya yang hanya diam saja, Larasati terlihat khawatir. Lalu, dia memberanikan diri untuk kembali bertanya.
"Boleh, ya, Dad? Aku tahu jika Mas Yudha sudah melakukan kesalahan yang fatal, tapi aku juga ingin berbagi kebahagiaan di hari pernikahan aku dengan Jonathan. Please," kata Larasati memelas.
"Heh!" terdengar helaan napas panjang dari tuan Elias.
Dia memang membenci Yudha, apa lagi jika mengingat apa yang sudah Yudha lakukan terhadap putrinya. Namun, dia juga tidak mungkin menolak keinginan putri semata wayangnya.
"Boleh, tapi Angga yang harus ke sana. Kamu di rumah saja," ucap Tuan Elias.
"Siap, Dad." Larasati langsung mengecup pipi Tuan Elias karena saking senangnya.
Mendapatkan perlakuan seperti itu dari putrinya, tuan Elias hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku telepon Angga dulu," ucap Larasati.
Larasati lalu mengambil ponselnya, kemudian dia menekan nomor Angga. Tak lama kemudian terdengar suara Angga menyahuti dari seberang sana.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Mbak. Ada apa?" tanya Angga.
"Waalaikumsalam, Angga. Mbak boleh minta tolong ngga?" tanya Larasati.
"Minta tolong apa, Mbak?" tanya Angga.
"Aku mau kamu menemui Mas Yudha untuk mengundangnya di acara pernikahanku esok hari, bisa?" tanya Larasati.
"Bisa, Mbak. Aku lagi di komplek perumahan dekat rumah Mbak, siapin saja kartu undangannya. Lima menit lagi aku sampai ke rumah, Mbak," kata Angga.
"Oke, aku tunggu," jawab Larasati.
Setelah mengucapkan salam, Angga pun langsung mematikan sambungan teleponnya. Larasati terlihat tersenyum senang, kemudian dia berpamitan kepada tuan Elias untuk mengambil undangan pesanan Angga.
Setelah itu, dia langsung berlari ke arah luar rumah dan menunggu Angga di sana.
Tak lama kemudian Angga nampak memarkirkan mobilnya di depan rumah tuan Elias, tak lama kemudian dia turun bersama dengan Mini.
"Hey, kalin--"
Angga terlihat acuh, sedangkan Mini terlihat tersenyum lalu memeluk lengan kanan Angga. Mini terlihat tersenyum manis, sedangkan Angga nampak biasa saja.
"Aku dapet pesanan kue dari temen aku yang tinggal di komplek ini, pesanannya banyak. Jadi, aku meminta Mas Angga untuk mengantarkannya," jawab Mini.
"Oh, maaf mengganggu," kata Larasati tak enak hati melihat kedekatan Mini dan Angga.
"Kakak tidak mengganggu, justru aku berterima kasih kepada Kakak. Karena dengan Kakak menyuruh Mas Angga mengantarkan undangan, aku bisa lebih lama lagi bersama Mas Angga," ucap Mini seraya menaik turunkan alisnya.
Larasati langsung tergelak, sedangkan Angga terlihat memutar bola matanya.
"Kalian berdua kaya perangko, nempel terus," kata Larasati.
"Mbak salah," jawab Angga.
"Apanya yang salah?" tanya Larasati.
"Mini itu seperti Lintah, menempel dan sulit untuk lepas," celetuk Angga.
"Mas, ih!" protes Mini seraya menghentak-hentakkan kakinya.
"Sudah-sudah, ini sudah sore. Tolong antar undangan untuk Mas Yudha," pinta Larasati.
"Aku ngasihnya kemana, Mbak?" tanya Angga.
"Biasanya kalau sore begini Mas Yudha sedang melukis di taman," kata Larasati.
__ADS_1
"Oke," jawab Angga seraya mengambil kartu undangan dari tangan Larasati.
"Kamu selalu yang terbaik, adikku, Sayang." Larasati terlihat merentangkan kedua tangannya, dia hendak memeluk Angga.
Sayangnya, Mini langsung bergerak cepat. Dia langsung mendorong pelan tubuh Larasati, dia seolah tak ikhlas jika Angga berpelukan dengan wanita yang dia cintai.
"Besok Kakak mau menikah, ngga boleh peluk-peluk lagi. Nanti Kak Jonathan cemburu," kata Mini.
Larasati langsung mengatupkan mulutnya menahan tawa, dia tahu jika Mini begitu menyukai Angga. Bukan Jonathan yang akan merasa cemburu, namun dirinya.
"Bilang saja kamu cemburu," kata Larasati.
"Kakak, ih." Wajah Mini langsung merona malu.
"Sudah-sudah, ayo kita berangkat," ucap Angga seraya berlalu meninggalkan Mini.
Mini langsung memeluk Larasati, kemudian dia pun mengikuti langkah Angga. Setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil, Angga langsung melajukan mobilnya menuju Taman sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Larasati.
Tiba di taman, Angga langsung memarkirkan mobilnya. Kemudian, dia pun turun tanpa menunggu Mini.
Mini yang tidak mau ketinggalan, langsung berlari untuk mensejajarkan langkahnya bersama dengan pujaan hatinya. Benar saja, tiba di taman dia melihat Yudha yang terlihat sedang asik melukis.
Angga terlihat mengerutkan hidungnya kala melihat tubuh Yudha yang kini sangat kurus, bahkan wajahnya pun terlihat pucat.
Angga segera menghampiri Yudha dan duduk tepat di samping lelaki tersebut.
"Bang," sapa Angga.
Mendengar ada yang menyapanya, Yudha langsung menghentikan aktivitasnya. Kemudian, dia memalingkan wajahnya ke arah Angga.
Dia tersenyum kala melihat siapa yang datang, lalu dia bertanya.
"Ada apa? Tumben ke sini?" tanya Yudha.
"Aku hanya ingin memberikan ini untuk Abang," kata Angga seraya memberikan kartu undangan kepada Yudha.
Yudha menerima kartu undangan dari Angga, setelah membaca nama yang tertera di kartu undangan tersebut, Yudha nampak tersenyum kecut.
"Terima kasih undangannya, aku pasti datang," ucap Yudha seraya tersenyum getir.
**Bersambung....
🍎
🍎
__ADS_1
Satu bab untuk menemani malam kaleyan, selamat beristirahat**.