Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Merasa Rendah Diri


__ADS_3

Dalam hati Juki merasa khawatir, dia takut jika Jesicca akan kembali lagi kepada mantan suaminya tersebut. Jika itu terjadi, itu artinya dia tidak akan bisa bertemu lagi dengan Putri.


"Ya ampun, kenapa aku yang galau? Bukankah bagus kalau Mbak Jesicca balikan sama suaminya? Itu artinya Putri akan mempunyai keluarga yang utuh, tapi... bagaimna dengan aku?" gumam Juki.


Bu Sari seperti mendengar sesuatu dari bibir Juki, sayangnya tidak terlalu jelas. Dia menolehkan wajahnya ke arah Juki, lalu bertanya.


"Kamu ngomong apa sih?" tanya Bu Sari.


Mendapatkan pertanyaan yang secara tiba-tiba, membuat Juki terlihat kaget.


"Eh? Ngga, Bu. Juki ngga ngomong apa-apa, ayo ke dalam saja. Hawanya dingin, nanti ibu masuk angin." Juki terlihat menghampiri Bu Sari, kemudian dia mendorong kursi roda yang bu Sari duduki.


Juki membawa bu Sari ke ruang keluarga, dia mendudukkan Ibunya di atas sofa. Kemudian, Juki mengajak bu Sari untuk menonton TV.


Matanya memang menatap layar televisi tersebut, namun pikirannya sedang memikirkan Putri dan juga Jesicca.


Dia penasaran, namun jika dia keluar untuk melihat Yudha dan Putri, rasanya itu tidak baik. Secara Yudha adalah ayah biologis dari Putri.


Di luar rumah.


Yudha nampak sangat senang, karena akhirnya bisa bertemu dengan Putri dan bisa bermain dengan baby lucu itu. Buah hatinya dengan Jesicca.


Hampir satu jam bi Minah mengobrol dengan Jesicca di dalam kamar kostnya, hal itu Yudha pergunakan untuk bermain dengan Putri.


"Ehm, Nak Yudha. Bibi sudah selesai bicara dengan Jesicca, urusan Bibi juga sudah selesai. Tapi, untuk malam ini Bibi ingin menginap di sini. Karena besok Bibi sudah harus pulang, Bibi ingin tidur bersama Putri dan Jesicca," kata Bi Minah.


"Iya, Bi. Yudha paham, kalau begitu Yudha pamit." Pandangan Yudha beralih pada Jesicca, "Mas pulang ya, kamu sama Putri baik-baik." Yudha terlihat menyerahkan Putri kepada Jesicca.


Jesicca terlihat menyambut Putri dan menggendongnya, Putri seakan enggan saat hendak berpisah dengan Yudha. Bahkan matanya nampak berkaca-kaca saat menatap Yudha


"Jangan nangis, ya, Sayang. Nanti Papa ke sini lagi," kata Yudha seraya mengelus lembut pipi Putri.


"Papapa, dududu," celoteh Putri.


Yudha tertawa saat melihat Putri yang kembali ceria. Yudha lalu merogoh saku celananya, lalu dia memberikan amplop kepada Jesicca.


"Ini apa, Mas?" tanya Jesicca.


"Ehm, Mas ada sedikit rezeky. Kemarin ada yang memesan lukisan untuk di kantor, uangnya tidak seberapa. Tapi semoga cukup untuk membeli camilan dan makanan pendamping asi untuk Putri," kata Yudha.


Sebenarnya Jesicca merasa tidak tega jika harus menerima uang dari Yudha, namun jika Jesicca tak menerimanya, dia takut Yudha akan tersinggung.


Lagi pula Yudha memang Ayah biologis dari Putri, biarlah dia menerima uang tersebut. karena mungkin itu adalah bentuk dan cara Yudha untuk menafkahi putrinya, pikir Jesicca.

__ADS_1


"Iya, Mas. Aku terima, terima kasih," kata Jesicca.


"Sama-sama, Mas pulang dulu. Ngga enak sudah malam," kata Yudha.


"Iya, hati-hati," kata Jesicca.


Setelah berpamitan, Yudha menyempatkan diri untuk mencium pipi gembil Putri. Kemudian, dia meninggalkan kostan milik Jesicca menuju rumah kontrakannya.


Selepas kepergian Yudha, Jesicca langsung menemui bu Sari. Tentu saja tujuannya karena dia ingin memberitahukan kepadanya jika bi Minah akan menginap di kamar kostannya.


Di sinilah, Jesicca, Putri dan bi Minah sekarang. Di ruang tamu bersama dengan Juki dan juga bu Sari.


"Ada apa, ya?" tanya Bu sari membuka obrolan.


"Itu, Bu. Saya mau minta izin, Bibi saya mau menginap di kamar kost saya. Apa boleh?" tanya Jesicca.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Jesicca, bu Sari nampak tersenyum. Kemudian dia pun menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja boleh, mana mungkin saya melarangnya. Yang penting jangan mantan suami kamu yang menginap," kata Bu Sari.


"Ngga dong, Bu. Kami sudah bercerai, haram hukumnya untuk tinggal bersama," jawab Jesicca.


"Bagus kalau kamu paham," kata Bu Sari.


"Kalau begitu saya pamit dulu," kata Jesicca.


Jesicca terlihat bangun dari duduknya bersama dengan bi Minah, namun sebelum Jesicca melangkahkan kakinya, Juki terlihat menghampirinya dan dia berkata.


"Bolehkah aku menggendong Putri?" tanya Juki.


"Tentu, tentu saja boleh, Mas," jawab Jesicca.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Jesicca, Juki terlihat begitu senang. Dia terlihat membawa Putri ke dalam dekapannya, Putri yang terlihat sangat mengantuk langsung memeluk leher Juki, lalu dia mengusakkan wajahnya di dada bidang pria yang sudah hampir satu tahun menjadi duda itu.


"Yah, kok malah tidur, sih?" tanya Jesicca kala melihat putrinya memejamkan matanya.


"Tidak apa-apa, biar aku yang antarkan dia," tawar Juki.


"Emm, iya, Mas," jawab Jesicca tak enak hati.


Setelah berpamitan kepada bu Sari, Jesicca dan bi Minah nampak berjalan terlebih dahulu. Juki terlihat mengekori langkah kedua wanita berbeda usia tersebut.


Tiba di depan kamar kostannya, Jesicca nampak membukakan pintu kamarnya. Juki masuk dan dengan perlahan merebahkan tubuh mungil Putri.

__ADS_1


Satu kecupan dia labuhkan di kening Putri, sebelum dia pergi meninggalkan kamar kostnya Jesicca.


selepas kepergian Juki


"Dia baik ya, pengertian, penyayang dan cocok buat dijadikan suami." Bi Minah terlihat menyenggol lengan Jesicca.


"Bibi!" ucap Jesicca penuh protes.


"Kenapa?" tanya Bi Minah.


"Rasanya aku malu untuk kembali berumah tangga, Bi. Aku terlalu hina, kesalahan aku terlalu besar terhadap Mbak Laras. Andai dulu aku tidak merebut Mas Yudha dari Mbak Laras, pasti--"


"Sudah-sudah, jangan diteruskan lagi. Itu hanya masa lalu, setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Kamu dan Putri juga berhak bahagia," kata Bi Minah.


Jesicca sangat terharu mendengar ucapan dari bi Minah, dia terlihat memeluk bi Minah lalu mengeluarkan semua kesedihannya lewat tangisan.


"Rasanya aku tidak layak untuk berumah tangga kembali, Bi. Terlalu besar kesalahan yang sudah aku lakukan," kata Jesicca disela isak tangisnya.


Bi Minah mencoba menenangkan Jesicca dengan mengelus lembut punggung ibu muda tersebut.


Tanpa mereka ketahui, Juki masih berada di balik pintu kostan milik Jesicca. Dia ternyata mendengarkan semua apa yang dikatakan oleh Jesicca dan juga Bi Minah.


🌼


🌺


BERSAMBUNG....


*


*


Selamat siang kesayangan, semoga masih kuat dalam menjalankan puasanya, ya.


Bagaimana ya, reaksi Babang Juki setelah mengetahui masa lalu Jesicca?


Mundur ata maju, kita lihat di bab selanjutnya.


Suara hati pembaca:


~Ah, untuk part Jesicca aku ngga mau baca. Othornya nyebelin! Mantan pelakor saja dikasih kesempatan untuk bahagia, kalau Otornya deket pasti udah aku cubit.


Hehehe,,, Maafkeun Othor, ya. Menurut Othor setiap manusia mempunyai kesempatan kedua, termasuk Othor.

__ADS_1


Semua orang memang mempunyai pandangan masing-masing, semoga kalian tetap mau membaca karya receh Othor, ya. Walau terkadang kita tidak selalu berjalan beriringan seperti sepasang sendal jepit.


Untuk yang menanyakan tentang Babang Yudha, nanti dia akan mendapatkan kebahagiaannya. Tentunya setelah balasan untuk Yudha terselsaikan, terima kasih semuanya. Semoga kalian selalu semangat dalam menjalani hari.


__ADS_2