Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Rindu


__ADS_3

Wajah Larasati yang tadinya terlihat panik kini berubah menjadi kesal, hal itu dikarenakan sandiwara yang dilakukan oleh Tuan Elias bersama dengan sahabatnya dan juga ayah dari sahabatnya tersebut.


Dia merasa dipermainkan, dia merasa ditipu oleh orang tuanya sendiri. Larasati terlihat duduk sambil membelakangi tuan Elias, sedangkan Jo dan juga tuan Keanu masih terlihat memegangi perutnya.


Karena perut mereka terasa sakit setelah tertawa begitu lama, mereka merasa tak tahan dengan sandiwara yang mereka lakukan.


Mungkin ini adalah hal yang tidak baik, namun semua ini tuan Elias lakukan agar Larasati mau kembali.


Tuan Elias sangat yakin, jika Larasati pasti akan merasa malu untuk kembali berkumpul bersama dengan keluarganya.


Tuan Elias sangat tahu, jika Larasati pasti terpuruk dan sangat menyesal karena lelaki pilihannya adalah lelaki yang membuat hidupnya justru tersungkur ke dalam lumpur kesedihan.


Walaupun mereka sempat marah dan sangat kesal terhadap putrinya tersebut, namun tuan Elias dan nyonya Meera tetaplah begitu menyayangi putrinya tersebut.


"Maafkan Daddy, Daddy rindu. Hanya cara ini yang bisa Daddy lakukan agar kamu mau kembali," kata Tuan Elias.


"Daddy jahat! Aku sangat sedih, aku khawatir, aku merasa sesak napas dan seakan mau mati kala mendengar kabar Daddy sakit. Tapi kenapa Daddy tega menipuku!?" kesal Larasati seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Karena Daddy, ingin kamu kembali." Tuan Elias nampak turun dari ranjang.


Tuan Elias menghampiri Larasati dan menarik lembut tubuh putrinya ke dalam pelukannya, dia elus punggungnya dan dia kecup kening putrinya.


"Daddy rindu," ucapnya seraya terisak.


Larasati tak menjawab, dia malah mempererat pelukannya seraya menangis. Semakin lama tangisannya semakin kencang.


"Huwaaa, Daddy. Rara minta maaf, Rara ngga dengerin omongan Daddy. Rara anak durhaka," Larasati menangis dengan sangat kencang.


Jonathan dan Tuan Keanu bahkan sampai menghampiri Larasati dan mengelus lembut punggung Larasati.


Mereka mencoba menenangkan hati Larasati yang tengah mengeluarkan penyesalan dan rasa sesak di dalam hatinya.


"Daddy jangan marah lagi sama Rara, Rara janji ngga bakalan ngebantah lagi ucapan Daddy, jangan marah pokonya!" kata Larasati.


Srook!


Larasati terlihat mengelap ingusnya dengan kemeja yang dipakai oleh Tuan Elias, Tuan Elias dengan cepat mendorong kepala putrinya.


"Kamu tuh dari dulu tetep jorok," keluh Tuan Elias.


Tuan Elias terlihat hendak membuka kemeja yang dia pakai, namun Larasati langsung melayangkan protesnya.


"Daddy!"


"Ya, Daddy buka di kamar mandi." Tuan Elias langsung mengambil baju ganti dan langsung melangkah kakinya menuju kamar mandi.


Setelah Tuan Elias masuk ke dalam kamar mandi, Larasati langsung menatap tajam kearah Jonathan.

__ADS_1


"Jo! Tega sekali kamu ikut bersandiwara di depanku! Kenapa kamu melakukan ini semua padaku? Padahal, kita bersahabat dari kecil!" kesal Larasati.


"Karena aku juga ingin kamu segera kembali," jawab Jonathan.


"Jo!"


"Perasaanku tetap sama, aku tetap mengharapkan kamu untuk jadi--"


"Ehm, sepertinya Daddy harus segera pergi," kata Tuan Keanu.


Dia seakan paham jika putranya butuh waktu untuk mengungkapkan rasa rindunya pada Larasati, sahabat sekaligus cinta pertamanya.


Walaupun Larasati selalu menolaknya, bahkan meninggalkan Jonathan untuk menikah dengan pria lain, tetap saja Jonathan mencintai seorang Larasati.


Selepas kepergian tuan Elias, Jonathan kembali mengungkapkan perasaannya.


"Aku masih tetap mencintai kamu, Laras." Jonathan hendak memeluk Larasati.


"Stop, Jo! Kita hanya sahabat, aku menyayangi kamu tapi hanya sebagai sahabat. Please, ngertiin perasaan aku?" pinta Larasati.


"Baiklah," jawab Jonathan sendu.


"Ehm, apa ada yang Daddy lewatkan?" tanya Tuan Elias.


Dia terlihat lebih segar, setelah keluar dari kamar mandi. Sepertinya dia sudah mencuci muka, wajahnya sudah tidak pucat seperti tadi.


"Tidak ada, Dad. Itu wajah Daddy kenapa bisa berubah dalam sekejap?" tanya Larasati.


"Dad!"


Jonathan tersenyum, lalu dia pun berkata.


"Suster Kanaya yang memakaikan make up, biar lebih menghayati peran." Jonathan terkekeh.


"Ya ampu, Dad. Niat banget buat ngerjain aku," kesal Larasati.


"No, Daddy tidak berniat untuk mengerjai kamu. Daddy hanya ingin kamu pulang, Daddy rindu. Daddy ingin kembali berkumpul bersama kamu," kata Tuan Elias.


"Maaf, karena aku terlalu egois." Larasati terlihat menunduk.


"Sudahlah, lebih baik kita pulang." Tuan Elias merangkul pundak Larasati, lalu dia menuntun Larasati untuk segera keluar dari ruangan tersebut.


"Aku pulang dulu, Jo," ucap Larasati seraya berlalu.


Jonathan hanya bisa terdiam sambil memperhatikan kepergian wanita yang dari dulu dia cintai, sayangnya cintanya tak pernah terbalas.


*/*

__ADS_1


Selama perjalanan menuju kediaman Dinata, Larasati terlihat memeluk tubuh daddynya seraya menyandarkan kepalanya di pundak sang daddy.


Setelah pertemuan penuh tipu itu, mereka langsung terlihat akrab. Bahkan mereka seakan tak ingin berpisah kembali.


Sampai di kedimana Dinata, Larasati langsung masuk ke dalam rumah yang sudah lima tahun dia tinggalakan.


Rasa haru langsung terasa kala nyonya Meera, bi Narti dan juga Angga terlihat menyambut kedatangan Larasati.


"Selamat datang kembali di rumah kita, Sayang. Jangan pernah berniat untuk pergi lagi," kata Nyonya Meera.


"Mom!"


Larasati langsung memeluk erat tubuh mommynya, dia benar-benar sangat senang karena bisa kembali diterima di dalam keluarga Dinata.


"Masuk dan beristirahatlah, Satria juga sedang tidur di kamar kamu," ucap Nyonya Meera.


"Aku masih ingin melepas rindu dengan Mom dan Daddy," kata Larasati.


"Baiklah, kalau begitu kita berkumpul di ruang keluarga," kata Nyonya Meera.


"Ehm, Nyonya. Saya pamit pulang saja," kata Angga.


"Apa tidak sebaiknya kita berkumpul sambil menikmati teh hangat?" tanya Nyonya Meera.


"Saya harus ke Cafe milik Mbak Laras, mau ceki-ceki," kata Angga.


"Baiklah, hati-hati," kata Nyonya Meera.


"Saya juga mau sekalian pamit," ucap Bu Narti.


Rasanya dia tak enak hati jika harus ikut berkumpul dengan Larasati, menurutnya Larasati butuh waktu untuk meluapkan rasa rindunya terhadap sang daddy dan mommynya.


"Iya, Bi. Terima kasih karena selama ini sudah mau membantu anak saya. Terima kasih juga untuk kerja samanya," kata Nyonya Meera.


Mendengar ucapan nyonya Meera, dahi Larasati terlihat mengernyit dalam. Apa maksud dari nyonya Meera mengatakan hal itu kepada Bi Narti, dia pun menjadi bertanya-tanya.


Namun, dia memutuskan untuk menanyakannya nanti. Karena dia memerlukan waktu untuk menikmati kebersamaannya bersama dengan kedua orang tuanya.


"Sama-sama, Nyonya," jawab Bi Narti.


Setelah berpamitan, bi Narti dan juga Angga langsung pergi meninggalkan kediaman Dinata. Setelah kepergian Angga dan juga bi Narti, Larasati begitu menikmati kebersamaannya bersama dengan tuan Elias dan juga Nyonya Meera.


Berbeda dengan Yudha yang kini sedang bekerja di Resto yang biasa dia kelola, sekarang dia harus memakai seragam pelayan dan mengantarkan makanan dan minuman pesanan para pengunjung yang datang.


Tak jarang makanan dan minuman yang dia bawa tumpah karena dia tak bisa memegang nampan dengan benar.


Hal itu membuat Rendy memarahi Yudha beberapa kali, dia merasa beruntung karena diberikan kepercayaan oleh Larasati untuk mengurus Resto.

__ADS_1


Karena dia bisa dengan mudah memarahi lelaki yang sudah tiga tahun ini selalu saja bersikap semena-mena terhadap dirinya.


'Sial, kenapa dunia jadi terbalik seperti ini? Kenapa sekarang aku harus menjadi seorang pelayan?' kata Yudha dalam hati.


__ADS_2