
Bu Airin merasa sangat senang jika sedang bersama seperti ini, terkadang dia bertanya-tanya dalam hatinya.
Apakah dia bisa melihat ketiga buah hatinya tumbuh sampai dewasa dan menikah nanti? Atau mungkin dia akan dipanggil sebelum menyaksikan kebahagiaan ketiga buah hatinya tersebut?
"Jangan melamun," kata Ridwan seraya mengusap lengan istrinya.
"Ngga, Sayang." Bu Airin tersenyum hangat.
"Oiya, Ayah sudah lelah. Pengen istirahat, kita pulang aja, ya?" ajak Ridwan pada ketiga biah hatinya.
"No, Ayah. Aku masih pengen main," sahut Raja.
"Aku mau ke Panti, boleh?" tanya Rama.
"Aku setuju, di sana banyak temen. Sekalian puas-puasin main," kata Rachel.
"Bunda," panggil Ridwan lembut.
"Baiklah, kita ke Panti. Sekalian aku mau lihat keadaan anak-anak Panti, sudah seminggu ini aku tidak ke sana," kata Bu Airin.
"Yes!" kata Raja, Rama dan Rachel secara bersamaan.
Ridwan dan bu Airin nampak saling pandang, kemudian mereka terlihat tertawa. mereka merasa sangat lucu dengan tingkah dari ketiga buah hatinya tersebut.
Bu Airin nampak merapikan minuman dan camilan bekas mereka makan, setelah itu mereka langsung masuk ke dalam mobil dan pergi menuju Panti sesuai dengan keinginan putra-putrinya.
Saat di pertengahan jalan, Ridwan terlihat menepikan mobilnya di sebuah supermarket. Dia membeli banyak makanan dan juga mainan untuk anak-anak Panti.
Anak-anak Panti sangat senang jika diberi oleh-oleh, entah itu hanya makanan sederhana ataupun berupa mainan.
Sebenarnya tanpa diberikan barang mahal pun mereka akan sangat bahagia, karena dengan hanya ditemui dan diajak mengobrol saja mereka bisa terlihat menikmati hidup.
Setelah membeli banyak mainan dan juga makanan, Ridwan kembali melajukan mobilnya menuju Panti.
Tiba di Panti, Yudha langsung menyambut kedatangan dari pemilik Panti tersebut. Putri dan juga Satria terlihat berada di sana, mereka sedang menemui papanya.
Mereka sengaja datang ke Panti untuk menghabiskan waktu liburannya bersama papa kandung mereka
Satria dan juga Putri selalu berpikir, selama ini Yudha tidak pernah berniat untuk berumah tangga lagi walaupun kondisi kesehatannya sudah sangat stabil.
Oleh karena itu, mungkin lebih baik jika mereka menemani Yudha di masa-masa liburan mereka.
"Selamat pagi, Nyonya. Selamat pagi, Tuan." Yudha menyapa.
Bu Airin dan Ridwan langsung tersenyum dan membalas sapaan dari Yudha.
"Pagi," sapa keduanya.
"Ehm," Rachel nampak berdehem.
Lalu, anak perempuan dari bu Airin dan Ridwan tersebut nampak menghampiri Satria, dia tersenyum lalu berkata.
__ADS_1
"Hai, Abang. Abang ganteng banget deh," kata Rachel malu-malu.
Rachel, bocah berusia tiga belas tahun itu memang menyukai Satria. Dia selalu menyempatkan waktu untuk pergi ke Panti hanya untuk menemui Satria saja.
Sayangnya, Satria sangatlah jarang bicara. Dia hanya membalas sapaan Rachel dengan senyum tipisnya.
"Ish! Abang tuh kebiasaan, bilang apa kek biar aku seneng," kata Rachel.
Bu Airin dan juga Ridwan langsung tertawa melihat tingkah putrinya, berbeda dengan kedua putranya, mereka langsung berlalu dan bermain dengan anak-anak Panti.
"Maaf, aku tidak terbiasa." hanya kata itu yang keluar dari bibir Satria.
Yudha terlihat tersenyum tipis melihat kelakuan dari Satria, selama ini Yudha begitu memperhatikan tingkah putranya tersebut.
Dia merasa beruntung karena Satria tidak memiliki sikap seperti dirinya, Satria terlihat begitu kalem, irit bicara dan tidak banyak bertingkah.
Namun, walaupun seperti itu Satria terkenal sebagai siswa berprestasi di sekolahnya. Siswa yang memiliki segudang prestasi.
"Abang jahat!" keluh Rachel.
Ridwan terlihat menggelengkan kepalanya, kemudian dia merangkul pundak putrinya dan mengelus lembut lengan putrinya tersebut.
"Tidak boleh berbicara seperti itu, lagian kamu itu masih kecil. Tidak boleh berpikir yang aneh-aneh, apalagi banyak maunya," kata Ridwan.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Ridwan, Rachel terlihat mendongakkan kepalanya. Dia menatap wajah ayahnya dengan lekat.
"Aku tidak menginginkan hal yang macam-macam, Ayah. Ayah sok tahu!" jawabnya.
Bu Airin terlihat tak enak hati, dia tersenyum kepada Yudha kemudian berkata.
"Maafkan tingkah putriku, dia masih sangat kecil," kata bu Airin.
" Tidak apa-apa, saya mengerti. Lagi pula Satria tidak merasa terganggu dengan sikap dari Rachel, dia malah sudah terbiasa," jawab Yudha.
Bu Airin nampak menghela napas lega saat mendengar penuturan dari Yudha, dia benar-benar merasa tidak enak hati dengan kelakuan putrinya tersebut.
Namun ternyata, dia sangat bersyukur karena Yudha dan juga Satria bisa menyikapi sikap dari Rachel dengan santai.
"Syukurlah kalau seperti itu," jawab Bu Airin.
Saat mereka sedang asyik berkumpul, tiba-tiba saja ada sebuah mobil mewah yang berhenti tepat di depan Panti tersebut.
Sontak saja perhatian dari orang-orang yang berada di depan Panti menjadi terfokuskan kepada mobil mewah tersebut.
Tidak lama kemudian, mobil mewah tersebut nampak terbuka. Terlihatlah seorang wanita sekitar berusia 40 tahunan keluar dari mobil tersebut.
Yudha langsung berinisiatif untuk menghampirinya, karena bisa saja wanita tersebut adalah calon ibu untuk anak-anak Pantinya.
"Selamat pagi, Nyonya. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Yudha.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Yudha, wanita tersebut nampak mencebikkan bibirnya. Dia terlihat sangat kesal sekali.
__ADS_1
"Apa aku terlihat sangat tua, sehingga kamu memanggil diriku dengan sebutan nyonya?" tanya wanita tersebut dengan nada kesal.
Yudha terlihat sangat kaget saat mendengar ucapan dari perempuan itu, bahkan dia terlihat memundurkan wajahnya dan memperhatikan penampilan wanita tersebut dari atas kepala hingga ujung kaki.
Dilihat dari sisi manapun juga wanita itu terlihat sudah berumur, hanya saja tubuhnya terlihat sangat ramping. Penampilannya juga terlihat sangat seksi.
"Maaf kalau saya salah," kata Yudha.
Perempuan itu nama mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa," jawab perempuan tersebut.
"Saya ingin bertemu dengan pengurus Panti, apa boleh?" tanya wanita itu.
"Tentu saja boleh, saya pengurus Pantinya di sini. Ada apa ya?" tanya Yudha.
"Oh, baguslah kalau begitu. Sebenarnya saya ingin mengadopsi seorang anak, atau mungkin beberpa anak. Saya kesepian, apakah boleh?" tanya wanita itu.
"Tentu saja boleh, Nyonya. Eh, Nona. Asalkan sesuai dengan prosedur yang ada," jawab Yudha.
"Baiklah kalau begitu, saya ingin melihat-lihat ke dalam. Apakah boleh?" tanya wanita tersebut.
"Boleh-boleh," silakan jawab Yudha.
Yudha terlihat berjalan beriringan bersama dengan wanita tersebut untuk masuk ke dalam Panti, Ridwan dan bu Airin saling pandang.
Kemudian, Ridwan merangkul pundak istrinya tersebut dengan mesra.
"Sepertinya bang Yudha sedang ada pekerjaan, jadi... bagaimana kalau kita bermain saja bersama anak-anak Panti?" tanya Ridwan.
"Ya, baiklah," jawab Bu Airin.
Bu Airin dan juga Ridwan nampak melangkahkan kakinya menuju kerumunan anak-anak yang sedang bermain.
Satria dan Putri Saling pandang, karena kini tinggal mereka saja yang berada di depan Panti.
"Sepertinya semuanya sedang sibuk, aku pulang saja. Mau bantuin Ibu jagain Alex sama Ansel," kata Putri.
"Biar Abang antar," jawab Satria.
Satria yang memang sudah berusia tujuh belas tahun diberikan kebebasan oleh Jonathan dan juga Larasati untuk menaiki motor sport kesayangannya, karena memang dia sudah memiliki SIM.
"Baiklah, Ade mau. Ade suka Abang boceng," kata Putri seraya nyengir kuda.
Satria tersenyum, lalu dia merangkul pundak adik tirinya itu.
**
Masih berlanjut...
Selamat malam kesayangan, selamat beristirahat. Jangan lupa tinggalkan jejak, yes.
__ADS_1