
Tak lama kemudian, matanya menangkap sosok wanita yang tadi sore berpamitan untuk jalan-jalan.
Wanita itu nampak duduk termenung sambil memegang kedua lututnya, pandangannya terlihat menatap ke sembarang arah.
Bibirnya terlihat mengkerucut, wajahnya pun terlihat sedih. Angga menjadi penasaran dibuatnya, dia bangun dan langsung menghampirinya.
"Mini!"
Angga bangun dan langsung menghampiri Mini, untuk sesaat dia memandang Mini yang terlihat asik dengan lamunannya. Lalu, dia duduk tepat di samping Mini.
"Ehm, kamu kenapa sendirian? Bukankah tadi kamu pergi berdua?" tanya Angga.
Mendengar ada yang menegurnya, Mini langsung memalingkan wajahnya. Kemudian dia nampak tersenyum kala melihat Angga yang sedang duduk tepat di sampingnya.
"Mas Angga ngapain di sini?" tanya Mini.
"Ck! Jangan suka menjawab pertanyaan dengan pertanyaan," kata Angga.
Mini terkekeh mendengar ucapan dari Angga, kemudian dia pun berkata.
"Tadi sore aku pergi ke mall, shopping dan melakukan perawatan. Sekarang aku lapar, ingin makan di pinggir jalan."
Mendengar jawaban dari Mini, Angga merasa heran. Karena sedari tadi dia melihat Mini melamun dengan wajah sendunya, bukan sedang makan.
"Kalau kamu lapar cepat pesan makanan, bukan melamun saja," kata Angga.
"Siapa yang melamun, aku hanya sedang berpikir tentang makanan apa yang ha--"
"Jang, nasi gorengnya. Saya cariin taunya malah pacaran sama Neng Cantik," kata Kang Nasi goreng seraya menyodorkan sepiring nasi goreng beserta segelas teh hangat.
Angga tersenyum, lalu dia mengambil alih nasi dan teh hangat dari kang nasi goreng tersebut.
"Terima kasih, Kang," kata Angga.
"Sama-sama, Jang. Itu pacarnya dihibur dulu, kayaknya lagi sedih banget," kata Kang nasi goreng.
"Ih, Abangnya sok tahu!" ketus Mini.
Angga terkekeh, begitupun dengan kang nasi gorengnya.
Setelah menyerahkan pesanan nasi goreng Angga, kang nasi goreng tersebut nampak kembali untuk membuatkan pesanan nasi goreng milik pembeli yang lainnya.
Angga terlihat tersenyum, lalu dia pun menawarkan nasi goreng miliknya kepada Mini.
"Mau? Ini enak loh," tawarnya seraya mengendokkan nasi gorengnya.
Untuk sesaat Mini nampak terdiam, dia hanya memandang satu sendok nasi goreng yang ada di tangan Angga.
"Mau tidak? Kalau tidak mau, aku akan me--"
Belum selesai dia berucap, Mini sudah memasukan satu sendok nasi goreng yang ada di tangan Angga ke dalam mulutnya.
"Enak, pedes!" kata Mini dengan mulut yang penuh.
Angga terkekeh, kemudian dia menyodorkan kembali satu sendok nasi goreng ke arah bibir Mini. Dengan senang hati Mini menyambutnya, dia langsung melahap nasi goreng tersebut.
__ADS_1
"Makan yang banyak," kata Angga.
"He'em," jawab Mini seraya mengambil alih nasi goreng dari tangan Angga.
"Mau apa? Biar aku suapin," kata Angga.
"No, Mas Angga belum makan. Mini suapin ya? Biar romantis gitu," kata Mini.
Angga tersenyum. "Iya," jawab Angga.
Wajah Mini yang tadinya sendu berubah ceria, dengan penuh semangat dia mengendokkan nasi dan menyuapi Angga.
Mini terus saja menyuapi Angga bergantian dengan dirinya, hingga tanpa terasa satu piring nasi goreng pesanan Angga pun telah habis tidak tersisa.
"Masih mau lagi, ngga? Kalau masih mau aku pesenin lagi," tawar Angga.
"Ngga usah, Mas. Liat Mas aja udah kenyang," ucap Mini seraya tersipu.
"Ya ampun, bisa banget ngomongnya. Entar ada yang marah loh," kata Angga.
"Ngga ada, Mas. Siapa juga yang mau marah?" tanya Mini.
"Cowok itu tuh, yang suka nganterin kamu pulang pergi." Angga terlihat memalingkan wajahnya, dia melambaikan tangannya kepada kang nasi goreng.
"Siapa sih?" goda Mini.
"Ck!" hanya suara decakan yang keluar dari bibir Angga.
Mini tersenyum, lalu dia mendekatkan wajahnya ke wajah Angga.
"Apa sih? Siapa yang cemburu?" tanya Angga tanpa berani menatap wajah Mini.
"Cie, kalau cemburu bilang aja. Nanti nye--"
Ucapan Mini terhenti kala kang nasi goreng datang menghampiri mereka.
"Sudah kelar makannya?" tanya Kang nasi goreng.
"Sudah, Kang." Angga menyerahkan piring dan juga gelasnya, setelah itu dia memberikan uangnya.
"Saya tinggal, Jang." Kang Nasi goreng langsung pergi meninggalkan kedua insan berbeda jenis kelamin tersebut.
Selepas kepergian kang nasi goreng, Angga terus saja memalingkan wajahnya tanpa berani menatap Mini.
Mini tersenyum, lalu dia merapatkan tubuhnya dan memeluk Angga dari samping.
"Apa yang kamu lakukan? Menjauhlah! Aku tidak ingin membuat kelaki itu salah paham terhadapku," kata Angga.
"Lelaki siapa?" tanya Mini seraya mendongakkan kepalanya.
Untuk sesaat pandangan mereka beradu, lalu... Angga terburu-buru memalingkan wajahnya.
"Cie malu-malu, Mas suka ya sama aku?" tanya Mini.
"Mana ada aku suka sama kamu," jawab Angga.
__ADS_1
"Tapi Mas nyaman banget aku peluk kaya gini," kata Mini.
Angga langsung melepaskan pelukan Mini, kemudian dia menggeser tubuhnya.
"Kenapa?" tanya Mini heran.
"Tidak apa-apa, aku mau pulang. Kamu mau aku antar pulang tidak?" tanya Angga.
"Mau," jawab Mini.
"Cepatlah!" kata Angga seraya mengulurkan tangannya, Mini langsung menautkan tangannya dan mereka pun segera pergi dari sana.
*/*
Angga terlihat fokus menyetir, tidak ada obrolan antara dirinya dan juga Mini. Mereka hanya diam dengan pergulatan pikiran masing-masing.
"Sudah sampai," kata Angga.
"Ah, iya. Em, anu. Itu, Mas boleh aku meminta sesuatu?" tanya Mini.
"Apa?" tanya Angga seraya memalingkan wajahnya ke arah Mini.
Mini terlihat membuka sabuk pengamannya, lalu dia mendekatkan wajahnya ke wajah Angga. Angga sempat memundurkan wajahnya saat melihat wajah Mini yang semakin mendekat.
Namun, Mini tidak menyerah. Dia terus saja mendekatkan wajahnya, hingga kepala Angga terpentok kaca mobil.
"Kamu mau apa?" tanya Angga.
"Mau tahu perasaan kamu ke aku kaya apa," jawab Mini.
"Aku--"
Ucapan Angga langsung terhenti kala Mini sudah menautkan bibirnya ke bibir Angga, tangan kanan Mini bertumpu pada pundak Angga, sedangkan tangan kirinya mengusap dada Angga.
Dia bisa merasakan debaran jantung Angga yang berdetak tidak karuan, Mini tersenyum. Lalu, dia melepaskan tautan bibirnya.
Angga hanya bisa diam terpaku dengan mata membulat, dia tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Mini terhadap dirinya.
"Kamu suka, kan, sama aku?" tanya Mini.
"Hah? Ngga' lah, mana mungkin aku suka sama pacar orang." Angga berkilah.
"Bener, kamu ngga suka sama aku?" tanya Mini.
"Ngga," jawab Angga seraya menghindari tatapan wajah Mini.
"Sekali lagi aku tanya, kamu suka ngga sama aku?" tanya Mini.
"Ngga," jawab Angga.
"Oke, kalau gitu aku nyerah. Maaf kalau selama ini aku sudah mengganggu kamu, terima kasih karena kamu begitu mudahnya membuat aku jatuh cinta." Mini langsung membuka pintu mobilnya dan segara berlalu tanpa menoleh.
Angga mengerjap tak percaya dengan apa yang dia dengar dan dia merasa tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Mini.
Angga terus saja menatap kepergian Mini sampai dia tak terlihat lagi, Angga sempat menyentuh dada sebelah kirinya yang berdetak lebih cepat dari biasanya, lalu dia menyandarkan tubuhnya.
__ADS_1
"Maaf, kamu itu seperti Mbak Laras. Cantik, tajir dan sempurna. Aku bukan orang yang tepat untuk kamu," kata Angga lirih.