Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Putri Sakit


__ADS_3

Sudah satu minggu Yudha selalu saja pulang tengah malam, setiap Jesicca bertanya, pasti Yudha menjawab jika dia membantu di Resto.


Nyari uang tambahan, katanya. Selalu itu yang menjadi alasan, Jesicca tak mempermasalahkan. Yang terpenting, Yudha jangan sampai berbuat macam-macam, pikirnya.


Sebenarnya dia rindu saat bermesraan dengan suaminya, karena sudah lebih dari dua bulan mereka tak pernah melakukannya.


Namun, dia paham jika suaminya itu pasti cape setelah bekerja seharian. Apa lagi jika melihat wajah lelah dan baju kusut yang dia pakai ketika dia pulang, Jesicca sudah tak berani mengatakan apa pun.


Hanya saja, Jesicca merasa jika Yudha terlihat aneh. Dia sering mencuci baju sendiri dan juga sudah tak pernah sarapan lagi di rumah.


Namun dia berpikir, tidak mungkin jika Yudha berbuat macam-macam. Duit sudah tak punya apa-apa lagi, sudah tidak ada lagi hal yang bisa dia banggakan.


Jesicca mencoba untuk berpikir positif, dia tak mau jika nantinya dia akan bertengkar dengan Yudha hanya karena kecurigaan dirinya yang tanpa bukti.


Lagi pula mulai besok Jesicca pun akan sibuk dengan usaha barunya, berjualan kebab dan es boba dengan aneka rasa yang sedang banyak digemari banyak kalangan. Mulai dari anak kecil, remaja sampai orang dewasa juga menyukainya.


Jesicca tatap wajah suminya yang terlihat tertidur dengan wajah begitu lelah, ada rasa iba dalam hatinya. Karena Yudha harus bekerja bating tulang hingga larut malam.


"Lebih baik aku tidur, biar besok bisa bangun pagi-pagi." Jesicca memejamkan matanya.


Dia berusaha untuk masuk ke alam mimpinya, jika esok hari bangun, dia akan berusaha untuk menggapai mimpinya itu.


*/*


Pagi pun telah menjelang, Yudha terlihat sudah rapi dan terlihat sedang bersiap untuk pergi. Padahal waktu baru menunjukkan pukul enam pagi, namun dia begitu tergesa.


"Mas, sudah seminggu ini tidak pernah sarapan di rumah. Pergi pagi, pulangnya tengah malem. Mas ngga rindu gitu sama aku, sama Putri juga?" tanya Jesicca.


"Rindu, tapi Mas harus kerja. Semuanya buat kalian, jangan protes." Yudha langsung berlalu setelah mengatakan hal itu.


Jesicca terlihat menghela napas berat mendengar ucapan dari suaminya, dia harus bersabar. Dia sadar betul jika sekarang ekonomi mereka sedang di bawah, mungkin Yudha sedang menyesuaikan diri, pikirnya.


"Lebih baik aku sarapan, terus bersiap untuk jualan." Jesicca melangkahkan kakinya menuju ruang makan.


*/*


Satu minggu kemudian.


Jesicca terlihat begitu kelelahan, karena ternyata jualannya begitu laris. Bahkan dia hampir tak pernah menggendong Putri larena terlalu sibuk, Putri malah sering diasuh oleh bi Minah.


Beruntung Putri tak pernah rewel, sehingga Jesicca merasa tenang untuk meninggalkan Putri bersama bi Minah.


"Lelahnya," ucap Jesicca seraya mengusap dahinya yang berkeringat.


Jesicca baru saja selesai berjualan, dia juga baru saja selsai mencuci semua perabotan yang selalu dia gunakan untuk berjualan.


Jesicca melihat jam yang bertengger cantik di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.

__ADS_1


"Waktunya mandi terus istirahat sambi nenenin Putri," ucap Jesicca.


Tiba di depan kamar bi Minah, Jesicca langsung mengetuk pintunya. Tak lama kemudian, bi Minah pun nampak membuka pintu kamarnya.


Wajahnya terlihat cemas, bahkan tangannya tak hentinya memilin ujung baju yang dia pakai.


"Bi, Putri mana?" tanya Jesicca.


"Anu, Nyonya. Putri panas, dari tadi sudah saya kompres, sudah saya borehin bawang merah juga. Tapi tetep aja ngga turun panasnya," adu Bi Minah.


Jesicca nampak panik, dia langsung masuk dan langsung menghampiri Putri yang tengah tertidur di atas tempat tidur Bi Minah.


Matanya nampak terpejam, dahinya dipenuhi dengan keringat. Namun bibirnya terus saja merintih seperti orang kesakitan.


Jesicca langsung mengecek suhu tubuh putrinya dengan punggung tangannya, ternyata sangat panas.


Dia segera mengambil termometer dan segera kembali untuk memastikan suhu tubuh putrinya.


Dia sangat kaget, saat melihat suhu tubuh Putri yang mencapai 39.4°c.


"Ya Tuhan, panas sekali." Jesicca segera berlari ke kamarnya, dia mengambil ponsel lalu mencoba menghubungi Yudha.


Sayangnya, berkali-kali dia mencoba menelpon suaminya, namun tak kunjung mendapat jawaban dari suaminya tersebut.


Jesicca yang kesal berlangsung membanting ponselnya ke atas kasur dan segera kembali ke kamar bi Minah.


"Kita ke Rumah Sakit, Bi. Aku takut terjadi sesuatu sama Putri," kata Jesicca.


"Iya, Bi," jawab Jesicca.


Bi Minah nampak mempersiapkan perlengkapan Putri, sedangkan Jesicca langsung berlari menuju kamarnya.


Dia membuka dompetnya dan melihat uang hasil berjualan selama satu minggu ini, ternyata uang yang dia dapat lumayan banyak.


"Lebih baik aku membawa semua uangnya, takut-takut nanti Putri harus dirawat," ucap Jesicca lirih.


Dia pun memutuskan untuk membawa uang itu, jaga-jaga takut terjadi sesuatu terhadap Putri nanti.


"Ayo, Nya. Saya sudah pesan taksinya juga," kata Bi Minah yang sudah masuk ke dalam kamar Jesicca.


"Iya, Bi," jawab Jesicca.


Bi Minah nampak menggendong Putri, sedangkan Jesicca nampak membawa tas yang berisikan perlengkapan putri.


Tiba di depan rumah, mereka langsung masuk ke dalam taksi yang sudah dipesan oleh bi Minah.


"Rumah Sakit terdekat ya, Pak," kata Jesicca.

__ADS_1


"Siap, Nya," jawab Pak sopir.


Setelah mendapatkan perintah dari Jesicca, pak sopir langsung melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit terdekat.


Hanya dengan waktu lima belas menit saja mereka pun kini tiba di depan Rumah Sakit, setelah membayar ongkos taksi tersebut Jesicca nampak turun diikuti oleh bi Minah.


"Bibi tolong bawa Putri ke ruang IGD, saya mau ke loket pendaftaran dulu," kata Jesicca.


"Iya, Nya." Bi Minah langsung melangkahkan kakinya menuju ruang IGD.


Tiba di ruang IGD, seorang dokter langsung memeriksa keadaan Putri dengan teliti. Bi Minah nampak terdiam sambil memperhatikan dokter tersebut melakukan pemeriksaan.


Dia benar-benar merasa cemas, dia takut terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan terhadap bayi berusia dua bulan setengah itu.


"Bagaimana, Bi?" tanya Jessica yang ternyata sudah berada di samping Bi Minah.


"Dokter masih memeriksa keadaan Putri, saya belum tahu hasilnya Nyonya," jawab Bi Minah.


Tak lama kemudian, dokter pun selesai memeriksa Putri. Dia langsung menghampiri Jesicca dan Bi Minah.


"Sepertinya putri anda terkena DBD, untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal kami akan mengambil sampel darah putri anda," ucap Dokter tersebut.


Mendengar ucapan dari dokter, Jesicca terlihat kaget. Namun dia berusaha untuk tenang, setelah merasa tenang dia pun berkata.


"Lakukan yang terbaik untuk putri saya, Dok," ucap Jesicca.


"Baik Nyonya," ucap Dokter tersebut.


"Lalu, apakah putri saya perlu dirawat?" tanya Jesicca.


"Ya, putri anda harus mendapatkan perawatan dan penanganan secepatnya. Agar panasnya juga bisa cepat turun dan keadaanga bisa lebih baik," ucap Dokter.


Jesicca terlihat pasrah, yang terpenting saat ini adalah keadaan putrinya. Setelah mengatakan hal itu, dokter tersebut nampak memindahkan Putri ke ruang perawatan anak.


Tiba di ruang perawatan anak, dia duduk di sofa tunggu sambil memperhatikan majikannya yang terlihat begitu sedih.


"Semoga Putri baik-baik saja," ucap Jesicca lirih.


Dia elus puncak kepala putrinya, lalu dia kecup keningnya dengan sangat lembut.


"Bibi, benar. Kalau begitu aku akan mencari makanan dulu keluar, Bibi tolong jaga Putri," ucap Jesicca.


"Ya, Nyonya," jawab Bi Minah.


Setelah berpamitan kepada Bi Minah, Jesicca nampak keluar dari ruang perawatan Putei. Dua hendak membeli nasi goreng yang berada di dekat Rumah Sakit tersebut.


Saat dia hendak memesan nasi goreng, tanpa sengaja tatapan matanya tertuju pada seorang laki-laki yang terlihat sedang bergandengan tangan dengan mesra bersama seorang wanita muda.

__ADS_1


Mereka terlihat berjalan kaki dan tak lama kemudian mereka berbelok ke arah gang yang tak jauh dari Rumah Sakit tersebut.


"Apa itu Mas Yudha?" tanya Jesicca lirih.


__ADS_2