
Mini terlihat mengekori langkah Angga menuju dapur, di sana ada beberapa karyawan yang juga sedang membuat kue.
Angga terlihat mengambil bahan-bahan yang diperlukan dan mulai membuat kue, Mini terlihat menghampiri Angga dan memperhatikan apa yang dilakukan oleh Angga.
"Mau buat cup cake, ya?" tanya Mini.
"Ya," jawab Angga dengan tangan yang terus bekerja.
Melihat Angga yang sangat sibuk, Mini mengambil salep dari tasnya. Kemudian dia mengoleskan salepnya ke wajah Angga.
Angga sempat menghentikan kegiatannya, lalu dia menatap wajah Mini. Tak lama kemudian, dia kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Biar cepat hilang biru-birunya," kata Mini.
"Iya," jawab Angga tanpa mengalihkan pandangannya.
"Mau dibantuin ngga?" tanya Mini lagi.
Mini tahu Angga sangat gesit dan cekatan, dia terlihat tak memerlukan bantuan. Namun, rasanya mulut Mini tak ingin berhenti bertanya.
"Kamu banyak nanya, mending duduk aja," kata Angga.
Mini terlihat nyengir kuda, lalu dia nampak duduk anteng sambil memangku wajahnya dengan kedua tangannya.
Dia terlihat asik memperhatikan apa yang dilakukan oleh Angga, hingga tiba-tiba saja Mini melihat seorang karyawan yang sedang membawa kue yang baru diangkat dari oven terlihat jatuh terpeleset.
Kue panas yang baru saja keluar dari dalam oven jatuh menimpa tangan Angga, hal itu membuat Angga kaget dan mengaduh kesakitan karena tangannya yang terasa panas dan terbakar.
"Aduh!" ringis Angga.
Dengan sigap Mini bangun dan menarik Angga, lalu mengguyur tangan Angga dengan air keran yang terus saja dia alirkan ke tangan lelaki yang dia suka.
Angga hanya diam terpaku dengan apa yang dilakukan oleh Mini, sedangkan beberapa karyawan langsung membantu karyawan yang jatuh dan langsung menghampiri Angga.
"Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja," ucap karyawan tersebut.
__ADS_1
"Tidak apa-apa," jawab Angga seraya meringis menahan rasa panas yang menjalar di tangannya.
Mini yang melihat tangan Angga yang memerah, langsung mengambil ponselnya. Tentu saja dia menelpon Jonathan untuk meminta salep.
"Mau apa?" tanya Angga.
"Mau telpon, Kak Jo. Mau minta salep buat luka kamu," kata Mini.
"Ngga usah, di kotak P3K juga ada," kata Angga.
"Baiklah, kalau begitu di mana salepnya? Aku akan mengambilkannya untukmu," kata Mini.
Setelah Angga memberitahukan di mana letak kotak P3K'nya, dengan sigap Mini langsung mengambilnya dan mengajak Angga untuk duduk di salah satu bangku yang ada di sana.
Dengan telaten Mini mengolesi luka Angga, sesekali dia terlihat meniupi tangan Angga yang memerah.
"Sudah selesai, sekarang kamu duduk anteng saja. Biar aku yang meneruskan membuat kuenya," kata Mini.
Mini pun terlihat sibuk dengan pekerjaannya, Angga hanya duduk menjadi penonton setia.
Jika Angga tengah asik memperhatikan pekerjaan Mini, berbeda dengan Larasati dan Bi Narti. Mereka terlihat sibuk melayani pengunjung, sesekali bi Narti akan memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh putranya bersama dengan Mini.
Di lain tempat.
Jesicca terlihat sibuk menata barang dagangan yang sudah dia beli di pasar yang ada di pusat kota, Maman tetangga bi Minah dengan telaten menurunkan semua barang dari mobil bak terbuka miliknya.
Setiap kali Jesicca belanja, dia akan meminta bantuan Maman. Karena memang hanya Maman tetangga terdekat bi Minah yang mempunyai mobil.
Tentu saja tidak gratis, karena Jesicca akan membayar Maman dengan ongkos yang layak. Setelah semuanya terlihat rapih, Maman pun langsung berpamitan kepada Jesicca.
"Neng Jes, saya pamit pulang dulu," kata Maman.
"Iya, Kang. Terima kasih banyak untuk bantuannya," ucap Jesicca.
"Sama-sama," jawab Maman.
__ADS_1
Setelah berpamitan, Maman terlihat meninggalkan Jesicca di warung sendirian. Bi Minah sedang mengantarkan barang pesanan dengan menggunakan sepeda karena jaraknya yang jauh, sedangkan Putri di asuh oleh Amalia di rumahnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang, itu artinya sudah masuk waktu dzuhur. Jesicca memutuskan untuk menutup warungnya sebentar, karena dia harus melaksanakan kewajibannya terhadap Sang Khalik.
"Sebaiknya tutup sebentar tidak apa, karena bi Minah sepertinya akan lama," ucap Jesicca lirih.
Setelah menutup warungnya, Jesicca langsung masuk ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Setelah itu, dia nampak melakukan shalat dzuhur sendiri di dalam kamarnya.
"Ya Allah, terima kasih atas nikmat yang telah engkau berikan kepada hamba dan juga Putri. Baik itu nikmat sehat, ataupun nikmat rezeky yang engkau limpahkan. Terima kasih ya Allah, karena engkau begitu baik kepada hamba yang berlumur dosa ini, semoga engkau selalu memberikan jalan yang terbaik untuk hamba dan juga anak hamba, Aamiin." Jesicca nampak mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Selesai melakukan shalat dzuhur, Jesicca terlihat duduk di tepian ranjang. Dia mengambil album foto dari dalam laci, lalu membukanya.
Nampak di sana foto pernikahan sederhana antara Jesicca dan juga Yudha, walaupun mereka hanya menikah siri, namun Jesicca sangat bahagia kala itu.
Karena dia merasa sukses telah mendapatkan pria berharta, dia merasa hidupnya tidak akan lagi kekurangan.
Namun, pada kenyataannya. Semua kemewahan hilang hanya dalam sekejap mata saja, tak ada yang abadi. Apa lagi, dia sangat sadar dengan cara apa dia mendapatkan hal itu.
"Mas Yudha apa kabar? Mas Yudha lagi apa?" tanya Jesicca seraya mengusap foto pernikahan mereka.
Jesicca begitu asik membuka lembar demi lembar foto pernikahan mereka, hingga sebuah usapan lembut di pundaknya mengangetkan dirinya.
"Kanga Maman, ngapain kamu di sini? Kenapa kamu bisa ada di dalam kamar aku?" tanya Jesicca dengan suara lantang.
"Suuut! Jangan keras-keras, kamu pasti haus belaian karena sudah lama tidak di panasin. Lakinya aja ngga pernah dateng, saya panasin mau ngga?" tanya Maman seraya menarik Jesicca kedalam pelukannya.
Jesicca yang mendapatkan perlakuan seperti itu langsung berusaha untuk melepaskan diri, dia memukul-mukul dada Maman agar bisa lepas dari lelaki yang sudah lama menduda itu.
"Jangan gila, Kang. Suami saya memang ngga ada, tapi saya bukan perempuan yang bisa tidur dengan siapa saja!" teriak Jesicca.
"Halah, jangan sok jual mahal. Akang tahu kalau milik kamu teh pasti sudah kedut-kedutan pengen dimasuki batang, punya Akang gede. Pasti bisa bikin kamu merem-melek, udah nurut aja," kata Maman.
Maman langsung menghempaskan tubuh Jesicca ke atas ranjang, lalu dia mengungkung tubuh Jesicca. Tangannya langsung mengunci pergerakan tangan Jesicca agar tidak memberontak.
"Kamu tuh seksi, badan kamu bahenol. Bikin saya terangsang setiap deket sama kamu, sekarang kamu harus tanggung jawab." Maman langsung menautkan bibirnya dengan bringas.
__ADS_1
Jesicca terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya agar Maman tidak bisa menikmati bibir Jesicca, hal itu membuat Maman marah hingga akhirnya Maman menampar pipi Jesicca dengan keras.
PLAK!