
Angga yang melihat Jonathan memperlakukan Larasati dengan sangat manis, langsung tersenyum kecut, lalu dia pun berkata dalam hatinya.
'Aku sayang kamu, Mbak. Tapi aku sangat tahu di mana posisiku, semoga Bang Jo adalah lelaki terbaik untuk kamu, Mbak.'
"Ayah!" teriak Satria.
"Ya, Boy." Angga langsung menatap wajah tampan Satria.
"Ayah ngga boleh pulang, Ayah bobo syama aku aja," pinta Satria.
Mendengar ucapan Satria, Angga terlihat bingung. Dia bahkan berkali-kali mengusap tengkuk lehernya yang terasa dingin.
Kalau mengiyakan, dia takut Jonathan akan merasa cemburu. Kalau menolak permintaan Satria, dia takut jika Satria akan marah dan kecewa terhadap dirinya.
"Nginepnya Lain kali aja, ya? Om harus pulang, karena nenek Narti sendirian di rumah. Nanti dia nangis kalau Om gak pulang," jawab Angga.
Sebenarnya Angga sangat nyaman dipanggil ayah oleh Satria, namun dia sangat sadar jika Larasati sebentar lagi akan menikah dengan Jonathan.
Dia takut Jonathan akan tersinggung, dia juga harus menjaga perasaan Jonathan mulai sekarang.
Mendengar ucapan Angga, bibir Satria sudah terlihat mengkerucut tajam. Matanya bahkan terlihat memerah, tak lama kemudian cairan bening pun keluar dari pelupuknya.
Larasati dan juga Jonathan yang melihat Satria menangis langsung menghampirinya, Jonathan bahkan mengangkat tubuh mungil Satria dan mendudukkannya di pangkuannya.
"Kamu kenapa, Sayang? Cerita sama Daddy Jo, kenapa kamu menangis?" tanya Jonathan.
Satria melirik ke arah Angga, lalu kemudian dia pun menatap Jonathan dan bercerita.
"Ayah Angga jahad! Dia tidak mau tidul sama aku, aku syangat syedih, jadinya aku nangis," ucap Satria seraya terisak.
Ada rasa cemburu dihati Jonathan, karena ternyata Satria begitu dekat dengan Angga. Namun dia juga sangat paham, jika Angga'lah yang selalu mengurus Satria sejak Satria lahir.
"Sama Daddy Jo, aja ya? Ayah Angga' kan sibuk," tawar Jonathan.
Mendengar ucapan dari Jonathan, Satria bertambah sedih. Bahkan dia pun langsung menangis dengan sangat kencang.
"Huwaaaaa, aku syedih. Aku mau Ayah Angga tapi ngga boleh, aku syedih banget." Satria turun dari pangkuan Jonathan dan memeluk Larasati.
Larasati langsung membalas pelukan Satria, dia mengusap lembut punggung putarannya agar lebih tenang.
Tuan Elias yang mendengar kegaduhan di ruang keluarga pun langsung keluar dan menghampiri mereka.
__ADS_1
"Ada apa ini? Kenapa Satria menangis?" tanya Tuan Elias.
Untuk sesaat Larasati menatap Jonathan, dia sebenarnya merasa tak enak hati terhadap lelaki yang selalu mencintai dirinya itu.
"Satria ingin tidur bersama dengan Angga, Dad," jawaban Larasati.
Tuan Elias tersenyum, dia tahu jika cucunya sangat menyayangi Angga, karena dia pun menyadari jika Angga pun begitu menyayangi Satria dengan tulus.
Jadi, dia merasa sangat wajar saja jika diantara mereka ada ikatan yang begitu kuat, walaupun tidak sedarah.
"Biarkan Satria tidur dengan Angga, lagi pula Daddy sudah menyiapkan kamar untuk Satria." Tuan Elias tersenyum kepada Angga.
Angga membalas senyuman Tuan Elias, kemudian dia mengalihkan tatapannya kepada Jonathan.
Dia seakan meminta izin kepada lelaki yang sebentar lagi akan menjadi ayah sambung untuk Satria tersebut.
Jonathan tersenyum, lalu dia pun menganggukkan kepalanya. Melihat akan hal itu, Larasati merasa senang karena ternyata Jonathan bisa bersikap sangat dewasa.
"Boy, kemarilah! Om akan menginap di kamar kamu," ucap Angga.
Mendengar perkataan dari Angga, Satria pun menghentikan tangisnya. Dia mengurai pelukannya dengan Larasati, kemudian dia pun berlari ke arah Angga.
"Bawalah dia ke kamarnya, Om sengaja menyiapkan kamar depan untuk Satria. Ini sudah larut," ucap Tuan Elias.
Angga menurut, dia pun langsung masuk ke sebuah kamar yang sudah dibuatkan khusus untuk Satria. Tentunya diantar oleh seorang pelayan, yang ada di sana.
Tiba di dalam kamar barunya, Satria begitu senang. Karena ternyata di setiap dinding kamarnya penuh dengan gambar superhero kesayangannya.
"Sekarang kamu tidur, hari sudah malam.Besok pagi kita jalan-jalan ke taman belakang," ucap Angga.
Satria mengangguk setuju, kemudian dia pun meminta Angga untuk membacakan dongeng sebelum tidur untuknya.
Dengan senang hati Angga pun langsung menceritakan cerita 'Sakadang Kuya', cerita yang begitu di sukai oleh Satria.
Padahal Angga berasal dari Jawa Tengah, namun entah kenapa dia begitu suka dengan cerita tersebut.
Tak lama kemudian, Satria nampak tertidur. Angga pun tersenyum, dia kecup kening Satria dengan penuh kasih sayang.
"Selamat tidur, Boy. Ayah sayang kamu, Ayah juga sayang sama buna kamu. Tapi, Ayah ngga bisa menjangkau wanita yang berkilau bagai berlian seperti buna kamu. Ayah sangat sadar siapa Ayah, semoga kamu bahagia bersama Daddy Jo. Ayah tahu dia begitu menyayangi kalian," kata Angga.
Angga terlihat menyelimuti Satria, kemudian dia turun dari ranjang dan membuka gorden untuk melihat keadaan di luar.
__ADS_1
Tanpa sengaja netranya menangkap bayangan tubuh Jonathan dan juga Larasati di halaman rumah.
Jonathan terlihat berpamitan untuk pulang, Larasati tersenyum. Kemudian Angga melihat Jonathan mengecup kening Larasati dengan lembut sekali.
Hatinya terasa ngilu, bagaikan ada benda tajam yang menyayatnya. Namun Angga dengan cepat mengusap-usap dadanya, berharapa rasa itu akan segera berangsur membaik.
"Kenapa aku tidak tahu diri sekali? Kenapa aku harus mencintai wanita yang tidak bisa aku gapai?" ucap Angga lirih.
Angga pun menutup gordennya kembali, kemudian dia merebahkan tubuhnya di dekat Satria. Dia pandang lamat-lamat wajahnya yang begitu mirip dengan Larasati.
Dia pun tersenyum kala mengingat pertemuan pertamanya dengan Larasati yang saat itu bertubuh gempal.
Walaupun kata orang dia jelek, namun menurut Angga, Larasati terlihat cantik dan menggemaskan.
Kalau saja tidak ingat jika Larasati adalah istri orang, Angga ingin sekali mencubit pipi cabinya yang terlihat menggemaskan.
"Sebaiknya aku tidur, karena besok harus ke pasar untuk membeli bahan-bahan kue," ucap Angga.
Angga pun berusaha untuk memejamkan matanya, dia berharap mimpi indah akan datang menjemputnya.
*/*
Keesokan harinya, Angga pun mengajak Satria ke taman yang ada di belakang rumah milik keluarga Dinata. Mereka berjemur di bawah hangatnya sinar mentari seraya menghirup udara segar.
Angga bahkan sengaja membawa sarapan pagi milik Satria dan menyuapi balita tampan itu dengan telaten.
Rasa sayangnya yang begitu besar terhadap putra Larasati itu, membuat dirinya ingin selalu dekat dengannya.
"Sudah habis, sekarang Om kerja dulu," kata Angga.
"Tapi, Yah. Nanti Ayah akan kesyini lagi, kan?" tanya Satria.
Angga tersenyum, dia elus puncak kepala Satria dengan penuh kasih sayang.
"Dengarkan, Om. Kapan-kapan Om akan main lagi, tapi ngga janji. Soalnya Om harus kerja," jawab Angga.
"Baiklah, aku akan menunggu." Satria tersenyum manis.
"Anak pintar," kata Angga.
Larasati sempat memperhatikan kedekatan antara Angga dan juga Satria, dia tersenyum. Dia merasa bangga terhadap Angga yang selalu tersenyum ceria, serta memberikan energi positif kepada dirinya dan juga Satria.
__ADS_1