
Mendengar apa yang diucapkan oleh bu Sari Jesicca terlihat hendak melangkahkan kakinya, namun sebelum itu bu Sari dengan cepat berseru kepada Jesicca.
"Tunggu dulu, biar Putri sama saya," pinta bu Sari.
"Tapi, Bu. Saya takut merepotkan," kata Jesicca.
"Tidak apa, justru nanti kamu yang kan kerepotan karena membawa Putri." Bu Sari langsung merentangkan kedua tangannya.
Putri tersenyum dan langsung menggoyang-goyangkan kedua tangan dan kakinya.
Jesicca tersenyum melihat tingkah laku putrinya, padahal Putri belum lama bertemu dengan bu Sari. Namun mereka sudah terlihat sangat dekat.
"Sini sayangnya, Nenek!" Bu Sari mengayun-ayunkan tangan kanannya.
Putri langsung tertawa seraya bertepuk tangan, Jesicca pasrah. Dia manghampiri bu Sari dan menyerahkan Putri.
"Maaf karena saya sudah merepotkan," kata Jesicca.
"Tidak merepotkan, justru saya sangat senang," kata Bu Sari seraya menerima Putri dan mendudukkannya di sampingnya.
"Kalau begitu saya permisi," kata Jesicca.
Jesicca terlihat melangkahkan kakinya menuju gerbang, di sana nampak kurir tersebut masih menunggu Jesicca.
"Saya mau mengambil bonekanya, Pak," kata Jesicca.
"Ah, iya Nyonya. Ini bonekanya, tolong tanda tangan di sini sebagai tanda terimanya." Kurir tersebut nampak memberikan secarik kertas dan bolpoin kepada Jesicca.
Jesicca menurut, dia mengambil bonekanya lalu membubuhkan tanda tangannya di kertas yang diserahkan oleh kurir tersebut.
"Terima kasih," kata Jesicca.
Setelah kepergian kurir tersebut, Jessica nampak membawa boneka Hello Kitty tersebut ke dalam kamar bu Sari.
"Bonekanya mau disimpan di mana Bu?" tanya Jesicca.
Bu Sari tersenyum, lalu dia pun berkata.
"Boneka itu dari Juki untuk Putri, jadi boleh kamu bawa pulang untuk teman bermain Putri," jawab Bu Sari.
"Hah? Maksudnya bagaimana, Bu? Boneka ini untuk Putri, anak saya?" tanya Jesicca.
"Ya, Katanya dia sih begitu. Dia begitu menyukai putri Kamu, makanya dia memberikan sebuah boneka untuk Putri mainkan," jelas Bu Sari.
__ADS_1
Mendengar apa yang dikatakan oleh bu Sari, Jesicca nampak kebingungan. Karena setahunya nama anaknya bu Sari adalah Juki, sedangkan pria yang memesan boneka Hello Kitty tersebut bernama Julian Uzi Kiandra.
Lalu, siapa Julian Uzi Kiandra? Kenapa dia bisa mengenal Putri? Kenapa dia bisa membelikan boneka untuk Putri karena begitu menyukainya?
Melihat raut bingung di wajah Jesicca, bu Sari seperti mengerti akan kebingungan yang Jesicca alami. Bu Sari lalu berkata.
"Anak saya memang bernama Julian Uzi Kiandra, namun saat Baba'nya masih ada, beliau selalu memanggil putra kami dengan sebutan Juki. Jadinya sampai sekarang keterusan," jelas Bu Sari.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Bu Sari, Jesicca nampak manggut-manggut tanda mengerti.
"Jadi maksud Ibu, boneka ini buat Putri anak saya dari Mas Juki?" tanya Jesicca.
"Ya, itu untuk Putri," Jawab Bu Sari.
Entah apa yang harus dia lakukan saat ini, dia merasa senang sekaligus merasa sedih. Karena Juki yang hanya orang lain dan baru pertama kali bertemu dengan Putri, sudah memberikan hadiah.
Berbeda dengan Yudha, saat dia mau melahirkan saja. Yudha malah asik mengejar wanita lain yang lebih cantik dari dirinya, mantan yang pernah Yudha sia-siakan.
"Tapi, Bu. Apa ini. tidak berlebihan?" tanya Jesicca.
"Tentu saja tidak, tolong diterima. Mungkin dia sedang rindu pada putrinya," jawab Bu Sari dengan wajah yang tiba-tiba saja berubah sendu.
Melihat perubahan raut wajah bu Sari, Jesicca nampak tidak enak hati.
"Tentu saja, nanti saya sampaikan," kata Bu Sari.
Jesicca nampak menghampiri Putri, lalu dia menidurkan boneka besar itu di samping Putri. Putri langsung tertawa, dia berusaha menaiki boneka Hello kitty tersebut sambil tertawa riang.
Bibir bu Sari tampak tersenyum, namun matanya berair. Dia langsung teringat akan cucunya yang telah pergi.
'Andai kamu masih ada, Nak. Pasti Nenek akan sangat senang, pasti kita bisa bermain bersama,' ucap Bu Sari dalam hati.
Di rumah kontrakan Yudha.
Dia nampak duduk sambil melamun, setelah pertemuannya dengan Jesicca dan juga Putri, rasa sesal semakin mendalam dia rasakan.
Dia sangat menyesal karena telah menyia-nyiakan wanita yang sudah mengandung dan melahirkan seorang putri untuknya. Dia sangat menyesal karena sudah tergoda oleh perempuan seperti Leana.
Andai saja dia setia pada Jesicca, andai saja dia tidak bermain-main lagi dengan wanita lain, pasti dia tidak akan tertular penyakit mematikan yang kini dia derita.
Namun, dia benar-benar merasa beruntung. Karena penyakitnya belum sampai ke tahap AIDS, sehingga dia masih memiliki kesempatan untuk sembuh.
Walau pada kenyataannya, kini badannya habis seperti ada yang menggerogoti. Kini tubuhnya sudah seperti gala, seperti tulang terbalut kulit saja.
__ADS_1
"Ya Tuhan, ampuni segala dosaku. Izinkan aku untuk sembuh, agar aku bisa bertaubat dan berusaha untuk membahagiakan Putri dan juga Satria. Walaupun aku tidak bisa bersama lagi dengan mereka," kata Yudha lirih.
Yudha terlihat menyugar rambutnya dengan kasar, tak lama kemudian bibirnya terlihat bergetar. Air matanya luruh tak tertahan, dia menangisr tersedu layaknya anak ayam kehilangan induknya.
Tubuhnya bergetar sampai-sampai badannya terjatuh ke lantai, kini Yudha hanya bisa meratapi nasib sialnya.
"Sebaiknya aku mandi, membersihkan diri dan bersiap untuk shalat dzuhur," ucap Yudha lirih.
Tangan Yudha berusaha menggapai tembok, dia berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dengan langkah berat.
Di Caffe.
Angga terlihat begitu sibuk, dia bahkan sampai lupa untuk makan siang. Karena pengunjung yang datang sangat banyak.
Entah ada acara apa Angga pun tidak tahu, beruntung bi Narti selalu sigap membantu putranya itu.
"Sayang, makan siang dulu," ajak Mini yang sudah datang dengan membawa kotak bekal di tangannya.
"Eh? Sejak kapan kamu di sini? Katanya ngga enak badan?" tanya Angga.
"Hanya sakit perut karena sedang datang bulan, sekarang sudah berasa lebih baik." Mini langsung memindahkan makanan yang dia bawa ke atas piring.
"Sebentar dulu, masih banyak pengunjung yang belum aku layani," kata Angga.
"No, kamu duduk. Biar aku suapi, masih banyk karyawan lain yang melayani. Jangan terlalu lelah, nanti kamu sakit. Entar ngga bisa ngumpulin uang buat nikah, loh!" kata Mini.
"Baiklah, kalau begitu aku akan makan dulu. Tapi suapin," ucap Angga manja.
"Ya ampun, calon imamku jadi manja dan menggemaskan." Mini langsung mencubit gemas pipi Angga.
"Yang, sakit. Di sun aja," pinta Angga.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Angga Mini langsung memelototkan matanya. Bisa-bisanya Angga meminta sun disaat banyak orang seperti itu.
"No! Duduk yang anteng, aku suapin," kata Mini.
Angga menurut, dia diam dan menunggu Mini menyuapinya.
*
*
Bersambung....
__ADS_1