
Pak Arman terlihat mengambil kunci mobil dari tangan Yudha, Yudha hanya bisa pasrah tanpa perlawanan. Karena melawan pun terasa percuma, malu nanti yang akan dia rasa.
Karena memang mobil tersebut bukanlah miliknya, bahkan Yudha masih mengingat perkataan dari Larasati.
Jika dua mobil milik Larasati akan Larasati ambil kembali, itu artinya satu lagi mobil milik Larasati yang berada di rumahnya akan kembali Larasati ambil.
Perasaannya kini menjadi campur aduk, antara sedih, kesal dan juga ingin meluapkan amarah. Namun sayangnya, Yudha tak bisa meluapkan amarahnya di sana.
"Tunggu sebentar, taksi online yang sedang saya pesan sebentar lagi akan segera datang," ucap Pak Arman.
Setelah mengatakan hal itu, Pak Arman pun langsung masuk ke dalam Cafe. Yudha hanya bisa menghela napas berat melihat kepergian Pak Arman, dia benar-benar tidak menyangka jika kehidupannya akan berubah hanya dalam sekejap saja.
Kini Yudha terlihat berdiri sambil melamun di pinggir jalan, dia masih belum percaya dengan apa yang terjadi kepada dirinya.
Satu hal yang lebih dia tidak bisa percaya lagi, Larasati yang selalu bersikap lemah lembut, kini berubah menjadi sosok wanita yang begitu tangguh dan sulit untuk ditaklukkan.
Bahkan dirayu dengan wajah memelas pun sudah tak mempan lagi, padahal... dulu Larasati selalu luluh jika Yudha sudah memasang wajah seperti itu.
"Sial!" umpat Yudha.
Yudha terlihat mengumpat kasar di pinggir jalan, sesekali dia meninjukan tangannya ke udara. Tak lama kemudian, sebuah taksi online berhenti tepat di hadapan Yudha.
"Dengan Bapak Yudha?" tanya sopir taksi online tersebut.
"Ah iya, saya sendiri," jawab Yudha.
Sopir taksi tersebut nampak turun dan membukakan pintu untuk Yudha, Yudha tersenyum kecut lalu dia masuk ke dalam taksi tersebut.
Tak lama kemudian, pak sopir pun melajukan mobilnya menuju kediaman Yudha. Sepanjang perjalanan, Yudha terlihat melamun.
Dia masih belum percaya dengan apa yang kini dialami oleh Yudha, dia pun langsung berpikir untuk segera mencari tempat tinggal yang baru.
"Sudah sampai, Pak," ucap sopir taksi online tersebut.
Yudha yang terlihat sedang melamun pun, seakan tertarik ke dunia nyata.
"Ah, iya Pak. Terima kasih," ucap Yudha.
Yudha terlihat merogoh saku celananya, dia mengambil dompetnya. Lalu, dia pun bertanya kepada sopir taksi online tersebut.
"Berapa ongkosnya?" tanya Yudha.
__ADS_1
"Oh, maaf Pak. Sudah dibayar lewat aplikasi," jawab sopir taksi online tersebut.
Lagi-lagi Yudha hanya bisa tersenyum kecut mendengar jawaban dari sopir taksi tersebut.
"Kalau begitu terima kasih," kata Yudha.
Sebenarnya dalam hati dia merasa terhina, karena untuk membayar taksi saja Larasati sampai membayarnya terlebih dahulu.
Yudha terlihat masuk kedalam rumahnya dengan langkah gontai, saat dia membuka pintu utama, dia melihat Jesicca yang sedang duduk di ruang tamu.
Ternyata dia sedang menunggu Yudha, karena sudah seharian ini Yudha tak kunjung pulang. Bahkan saat Jessica menelepon, Yudha sama sekali tidak mengangkatnya.
"Baru pulang, Mas?" tanya Jesica seraya melirik jam yang ada di dinding.
Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, sedangkan Yudha baru saja sampai di rumah. Kemana saja Yudha selama seharian ini?
Bahkan yang Jesicca herankan, kenapa Yudha pulang dengan menggunakan taksi online. Lalu, kemana mobil yang biasanya Yudha pakai, pikirnya.
"Seperti yang kamu lihat," jawab Yudha acuh.
Setelah berkata seperti itu, Yudha langsung meninggalkan Jesicca. Dia lebih memilih untuk masuk kedalam kamarnya, dari pada menanggapi ocehannya Jesicca.
"Sebenarnya ada apa, Mas? Tolong katakan, jangan membuatku bingung," kata Jesicca dengan wajah memelas.
"Tidak ada apa-apa," jawab Yudha dengan wajah datarnya.
"Aku tidak percaya," kata Jesicca.
"Terserah!"
Yudha lalu menghempaskan tangan Jesicca dengan kencang, saat ini dia sedang begitu emosi, dia sedang bingung, dia sedang galau, dia sedang gundah, dia sedang tidak ingin diganggu.
Hal yang sudah sangat dia inginkan saat ini adalah mandi dan menenangkan diri, tanpa banyak bicara Yudha langsung pergi meninggalkan Jesicca yang masih terlihat kebingungan.
Karena tak mau bertengkar, Jesicca pun memilih untuk mengalah. Dia membiarkan Yudha yang langsung pergi menuju kamarnya, Jesicca hanya bisa melihat kepergian Yudha tanpa ingin berniat untuk menyusulnya.
Tiba di dalam kamar, Yudha langsung masuk kedalam kamar mandi. Dia bahkan tak sempat melihat putrinya yang kini sedang terlelap.
Dia langsung mengguyur tubuhnya dengan air dingin tanpa melepaskan busananya, beberapa kali dia mengusap wajahnya dengan kasar.
Dia tidak menyangka jika kehidupan yang dia alami akan seperti ini, dia tak menyangka jika Larasati akan berubah menjadi seorang wanita yang berbeda.
__ADS_1
**//**
Pagi pun telah menjelang, rasanya mata baru saja terpejam. Namun suara ketukan pintu, membuat Jesicca memaksakan diri untuk membuka matanya.
Dia langsung turun dari ranjang dan segera mencuci muka, setelah itu dia pun langsung melangkahkan kakinya menuju pintu utama.
"Sebenarnya Bi Minah kemana? Kenapa dari tadi ada yang mengetuk pintu, namun dia tak membukanya?" gumam Jesicca.
Jesicca terlihat membukakan pintu utama, setelah pintu terbuka dengan sempurna. Nampaklah sosok wanita cantik yang kini sedang berdiri sambil menatap dirinya.
Jesicca sempat tertegun melihat aura kecantikan wanita yang berada di hadapannya, dia terlihat benar-benar sempurna.
Bodinya sangat bagus dan terlihat sangat terawat, Jesicca yang notabene adalah seorang perempuan pun merasa begitu kagum dengan sosok wanita yang ada di hadapannya.
"Maaf, anda siapa ya?" tanya Jessica dengan raut wajah bingung.
"Saya Larasati, saya kesini ingin mengambil mobil saya. Saya juga ingin melihat-lihat rumah ini sebentar, boleh?" tanya Larasati.
Dahi Jesica terlihat mengerut dalam, dia merasa tak asing dengan nama Larasati. Mungkinkah wanita yang ada di hadapannya ini adalah mantan istri dari suaminya?
Namun, kenapa bisa cantik dan langsing seperti ini? Bukankah dulu saat dia bertemu dengan Larasati, wanita itu terlihat gemuk dan juga sangat jelek karena timbunan lemak yang menghiasi tubuhnya?
"Maksudnya bagaimana? Saya tidak mengerti," ucap Jesicca.
"Apakah suamimu belum bercerita?" tanya Larasati.
Jesicca terlihat menggelengkan kepalanya. "Tidak, saat dia pulang, dia tidak bercerita apa pun," kata Jesicca.
Larasati tersenyum kecut, mungkin Yudha belum siap bercerita terhadap istrinya, pikirnya.
"Mobil yang biasa suamimu pakai itu milik saya, saya akan ambil kembali. Rumah ini pun adalah milik saya, tentu saja saya akan mengambilnya," jawab Larasati.
Mendengar ucapan Larasati, Jesicca terlihat kaget sekali. Bahkan tubuhnya mendadak lemas, dia hampir saja terhuyung ke belakang.
Beruntung tangannya terlihat mencengkram kuat daun pintu, sehingga dia masih bisa mempertahankan posisinya.
"Ja--jadi, ka--kamu mantan istri Mas Yudha?" tanya Jessica terbata.
Jesicca terlihat memperhatikan penampilan Larasati dari atas sampai ke bawah, dia benar-benar tidak menyangka jika perempuan gempal yang dulu dia hina kini berubah mencari sangat cantik. Bahkan dirinya pun tak secantik dan tak bisa berpenampilan elegan seperti Larasati.
"Ya," jawab Larasati.
__ADS_1