
Leana terlihat tersenyum puas kala keluar dari markas para preman tersebut, ternyata begitu menyenangkan bisa bermain dengan lima orang sekaligus, pikirnya.
Bukan hanya Leana yang terlihat puas, kelima preman tersebut juga merasa sangat puas dengan permainan yang disuguhkan oleh Leana.
Leana benar-benar luar biasa, masih muda tapi sangat handal dalam urusan ranjang. Bahkan dia sangat hebat kala digerayangi dan digilir oleh kelima preman tersebut, karena dengan mudahnya dia bisa melayani dan memuaskan kelima preman tersebut.
Setelah pergumulan panas mereka selesai, kelima preman tersebut bahkan langsung tertidur dengan pulas.
"Lebih baik aku pulang," kata Leana setelah hasratnya terpuaskan.
Leana nampak tersenyum lega, karena uangnya tetap utuh, tapi keinginannya bisa terpenuhi. Setelah itu, dia langsung pulang menuju kamar penginapan yang dia tempati sekarang.
Tiba di sana, dia langsung mandi. Dia menggosok tubuhnya dengan sabun beberapa kali, dia ingin menghilangkan bau dari tubuh para preman tersebut.
Setelah itu, Leana langsung merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang berukuran sedang yang ada di kamar penginapan tersebut.
"Akhirnya tubuhku kembali wangi, mereka bau sekali, tapi lumayan," kata Leana seraya memejamkan matanya yang terasa sangat berat.
Tak lama kemudian, Leana nampak tertidur dengan pulas. Rasa letih dan juga lelah yang mendominasi, membuat dia dengan cepat bisa tidur dengan lelap.
*/*
Pagi ini Satria begitu rewel, dia seolah tak mau berpisah dengan bundanya. Tuan Elias sudah membujuknya agar mau ditinggal bersama dengan nyonya Meera, Omanya.
Karena dia juga masih harus pergi untuk bekerja, perusahaan masih membutuhkan dirinya. Dia belum bisa mempercayakan perusahaan miliknya kepada orang lain.
Tuan Elias pernah meminta Larasati untuk mengelola perusahaan keluarga Dinata, namun dia menolak. Alasannya, dia ingin mengelola usahanya sendiri.
Jonathan juga berusaha untuk membujuk calon putra sambungnya tersebut, namun... tetap saja dia ingin terus menempel pada bundanya. Padahal hari ini Larasati ada pembahasan penting tentang pembukaan cabang Cafe yang baru.
"Sayangnya Buna maunya gimana?" tanya Larasati pada akhirnya.
"Mau ikut kelja, mau bantu Buna." Satria memeluk erat Larasati seolah tak ingin lepas.
"Baiklah, tapi... jangan nakal. Buna harus kerja," kata Larasati.
"Siyap, Buna." Satria melerai pelukannya, kemudian dia pun mengecupi setiap inci wajah Larasati .
Semua orang yang ada di sana nampak tertawa melihat tingkah lucu dari Satria, balita tampan berusia 2 tahun itu memang selalu saja bertingkah menggemaskan.
"Kalau begitu, kita berangkat sekarang." Jonathan terlihat mengulurkan tangannya, dengan senang hati Satria masuk ke dalam gendongan Jonathan.
Jonathan terlihat melangkahkan kakinya seraya membawa Satria dalam gendongannya, Larasati terlihat mengekori langkah kedua pria tampan berbeda generasi tersebut.
Tentunya setelah mereka berpamitan kepada Tuan Elias dan juga nyonya Meera terlebih dahulu.
Tiba di depan kediaman Dinata, Jonathan langsung membuka pintu mobilnya. Dia duduk di balik kembali dengan Satria yang duduk di atas pangkuannya.
__ADS_1
Larasati yang baru saja masuk ke dalam mobil, langsung duduk di samping kemudi. Kemudian dia berkata.
"Duduknya sama Buna ya, Sayang?" pinta Larasati.
Satria terlihat menggelengkan kepalanya, kemudian dia pun memeluk Jonathan dengan erat.
"No, aku mau syama Daddy Jo. No syama Buna," ucap Satria seraya menggoyangkan jari telunjuknya.
Melihat akan hal itu, Jonathan dan Larasati nampak tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, Buna mengalah." Larasati terlihat mengkerucutkan bibirnya, dia berlaga seperti orang yang sedang merajuk.
Satria yang melihat tingkah bundanya langsung tertawa dibuatnya.
"Kita berangkat ya, Sayang," ucap Jonathan.
"Ya, Jo," jawab Larasati.
Setelah mendapatkan persetujuan dari calon istrinya Jonathan pun langsung melajukan mobilnya menuju Cafe.
Selama perjalanan menuju Cafe, Satria terus saja berceloteh. Jonathan yang memang sangat menyukai Satria, terus saja menanggapi semua hal yang dikatakan oleh Satria.
Larasati yang menyaksikan interaksi antara keduanya terlihat senang, baginya yang terpenting adalah Satria. Baginya yang terpenting Jonathan bisa menerima dan menyayangi Satria.
"Sudah sampai," kata Jonathan.
Mereka sudah seperti keluarga kecil yang begitu bahagia ketika masuk ke dalam Cafe tersebut, Angga yang sedang berada di balik meja kasir, hanya bisa tersenyum kecut melihatnya.
Hatinya sedikit tercubit melihat akan hal itu, namun... dia sangat sadar di mana posisinya berada.
"Ayah!" teriak Satria.
Angga tersenyum lalu melambaikan tangannya, Satria meminta diturunkan dari gendongan Jonathan. Lalu dia berlari dan langsung memeluk kaki Angga.
Angga langsung menunduk dan mengangkat tubuh mungil balita tampan tersebut, dia kecup pipi Satria, lalu dia mengusakkan wajahnya di perut Satria.
"Hahaha, geli, Ayah!" keluh Satria.
Angga bukannya berhenti, dia malah sengaja mengusakkan wajahnya, bahkan dia berlaga seperti akan menggigit perut Satria.
Sontak Satria langsung mendorong wajah Angga.
"Stop, Ayah!" seru Satria.
"Yes, Boy," ucap Angga.
Angga pun langsung menghentikan aksinya, kemudian dia mengelus lembut puncak kepala Satria. Satria tersenyum, lalu Satria terlihat mengalungkan kedua tangan mungilnya di leher Angga, kemudian dia berbisik tepat di telinga Angga.
__ADS_1
"Aku kangen syama, Ayah. Makanya aku ikut Buna kelja, aku mau liatin Ayah bikin kue," jawab Satria jujur.
"Nakal!" kata Angga seraya menoel hidung bangir Satria.
"No, aku ngga akan nakal. Aku anak baik, aku mau duduk aja syambil liatin Ayah kelja," kata Satria.
"Tapi, hari ini Om ngga bikin kue. Om bantuin melayani pembeli di meja kasir," kata Angga.
"Ngga apa-apa, yang penting syama Ayah," kata Satria.
"Baiklah, apa pun kata pangeran. Paduka akan laksanakan," kata Angga. Satria langsung tertawa, dia suka pada Angga yang selalu berusaha untuk membahagiakan dirinya. Dia suka pada Angga yang selalu mau direpotkan olehnya.
Larasati tersenyum melihat kebahagiaan di mata putranya, dia lalu mengantar Jonathan sampai depan Cafe. Karena dia masih ada pekerjaan.
"Ra, sebenarnya aku pengen banget nemenin kamu. Karena hari ini aku off, tapi aku dimintai tolong sama om Hendry. Jadi, aku harus pergi dulu," pamit Jonathan.
"Jo, bukankah Om Hendry ada di negara B?" tanya Larasati.
"Yes, tapi tetap saja dia membutuhkan bantuan keponakan tampannya ini," ucap Jonathan seraya terkekeh.
"Baiklah, hati-hati," kata Larasati.
"Ya, Sayang," jawab Jonathan.
Jonathan nampak mengecup kening Larasati, kemudian setelah itu dia segera pergi untuk melaksanakan tugas dari pamannya tersebut.
Selepas kepergian Jonathan, Larasati langsung masuk ke dalam Cafe dan menghampiri Angga yang sedang bercanda dengan Satria, putranya.
"Ga, Mbak mau pergi dulu. Mau ketemuan sama klien," ucap Larasati.
"Mau di temenin engga, Mbak?" tanya Angga.
"Ngga usah, kamu di sini saja. Jangan kerja, masih banyak karyawan yang lain. Kamu urusin Satria saja, bisa?" tanya Larasati.
"Bisa dong, Mbak. Untuk Mbak yang cantik sama Satria, apa sih yang ngga?" ucap Angga seraya tersenyum hangat.
"Terima kasih, karena kamu selalu bisa diandalkan. Aku pergi dulu," pamit Larasati.
"Ya, pergilah. Satria aman bersama aku," ucap Angga.
Setelah berpamitan kepada Angga, Larasati menghampiri putranya. Dia memeluk Satria dan mengecupi setiap inci wajahnya.
"Buna pergi dulu, kamu tidak boleh nakal. Yang nurut sama Om Angga, oke?" pinta Larasati.
"Ya, Buna. Aku akan menulut, aku anak baik. Aku ngga nakal," ucap Satria dengan cepat.
Setelah berpamitan, Larasati pun segera pergi meninggalkan Satria dan juga Angga.
__ADS_1