Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Pertemuan Menegangkan


__ADS_3

Malam pun menjelang, pukul tujuh malam Angga sudah memutuskan untuk pulang. Karena dia tidak mungkin mengantarkan Mini pulang pada pukul sepuluh malam.


Apa lagi malam ini om Hendry ingin berbicara dengannya, tentu saja Angga lebih mementingkan hal itu.


Karena walau bagaimanapun juga, om Hendry adalah calon mertunya. Tidak mungkin dia mengabaikan keinginan dari calon mertuanya tersebut.


Untungnya bi Narti mengerti, Freddy pun mau membantu. Lelaki yang selalu rajin bekerja dalam setip harinya itu, kini menjadi orang kepercayan Angga.


Ya, Angga merasa membutuhkan orang yang bisa dia andalkan. Karena dia tidak mungkin mengerjakan semuanya sendiri.


Semenjak Larasati tidak pernah datang lagi ke Cafe, Angga dan bi Narti sangat sibuk sekali. Awalnya Larasati memang berkata akan sering ke Cafe, walaupun hanya untuk ceki-ceki saja.


Namun, pekerjaan di perusahaan Dinata sangat banyak. Hal itu membuat Larasati tidak punya waktu untuk datang ke Cafe ataupun Resto miliknya.


Sepanjang perjalanan menuju rumah om Hendry, Angga hanya diam saja. Hatinya berdetak tak karuan, bukan karena sedang deg-degan karena Mini terus menempel padanya.


Namun, dia takut jika om Hendry akan berubah pikiran. Dia takut jika om Hendry akan menyuruh dirinya untuk menjauhi Mini.


Karena rasanya itu akan sulit, karena Angga sudah mencintai Mini. Angga sudah berharap bisa hidup berumah tangga dengan wanita bar-bar yang membuat dirinya jatuh hati.


"Kamu kenapa tegang banget sih, Yang?" tanya Mini.


Mini terlihat betah sekali memeluk tangan Angga seraya menyandarkan kepalanya di pundak Angga.


"Gugup," jawab Angga jujur.


Mendengar jawaban dari Angga, Mini terlihat mencebik kesal. Jika bertemu dengan dirinya Angga tidak pernah merasa gugup sama sekali.


Namun, giliran ingin bertemu dengan sang daddy. Angga malah terlihat gugup dan gelisah, wajahnya bahkan terlihat sangat tegang.


"Jangan gugup, kan ada aku. Mau aku kasih sesuatu yang tidak akan membuat kamu gugup lagi, tidak?" tanya Mini.


Untuk sesaat Angga memalingkan wajahnya ke arah Mini, lalu dia kembali fokus dalam menyetir.


"Apa?" tanya Angga.


Mini tersenyum menyeringai, kemudian dia melerai pelukannya.


"Berhenti dulu sebentar!" kata Mini.


Angga menurut, dia langsung menepikan mobilnya. Beruntung jalan yang Angga lalui terbilang sepi, sehingga tidak membahayakan pengunjung yang lain saat dia memberhentikan mobilnya.

__ADS_1


"Terus habis ini, aku harus ngapain?" tanya Angga.


Mini tak menjawab, dia terlihat melepaskan sabuk pengamannya lalu dia langsung duduk di atas pangkuan Angga.


Dia terlihat mengalungkan kedua tangannya di leher Angga, kemudian dia tersenyum dengan sangat manis.


"Aduh, Yang." Angga sangat kaget saat merasakan paha kekasihnya bersentuhan dengan miliknya yang sedang tertidur.


"Apa?" tanya Mini seraya tersenyum nakal.


Angga terlihat kesal, karena Mini malah menggodanya. Coba saja kalau Angga berbalik menggodanya, pasti Mini akan ketakutan, pikirnya.


"Ish! Kamu tuh, seharusnya aku yang bertanya. Kamu mau apa?" tanya Angga.


"Mau menghilangkan hal yang membuat kamu gugup, biar wajah kamu ngga tegang lagi," kata Mini.


"Ya ampun, Sayang. Kalau kamu terus seperti ini, yang ada milikku yang langsung menegang." Angga langsung menggelengkan kepalanya.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Angga, Mini langsung tertawa dengan terbahak-bahak. Dia merasa lucu kala Angga mengatakan hal itu.


Menurutnya Angga yang sekarang terlihat lebih jujur dalam mengatakan apa pun, tidak ada lagi Angga yang judes, dingin, jutek dan juga menyebalkan.


"Jadi, ngga mau nih aku kasih terapi rileksasi?" tanya Mini.


"Mau ini." Mini langsung mengusap bibir Angga dengan lembut.


"Jangan, Yang. Lebih baik kita segera ke rumah kamu, kamu duduklah yang benar!" kata Angga.


Walaupun terlihat kesal dengan apa yang Angga ucapkan, namun Mini menurut. Dia langsung turun dari pangkuan Angga dan kembali memakai sabuk pengamannya.


Angga hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Mini. Kemudian, dia terlihat melajukan mobilnya kembali.


Sepanjang perjalanan menuju kediaman om Hendry, Mini terlihat memalingkan wajahnya ke arah jendela.


Bukannya marah, tapi dia merasa malu karena Angga selalu saja berusaha untuk menolak dirinya kala dia ingin bermesraan dengan pacarnya tersebut.


Sebenarnya Mini sangat tahu kenapa Angga melakukan hal itu, Angga sedang menjaga Mini. Angga berusaha membuat Mini agar tetap bisa menjaga kesuciannya sampai waktunya tiba.


Tiba di kediaman om Hendry, Angga terlihat memarkirkan mobilnya. Kemudian dia segera turun agar bisa membukakan pintu mobil untuk Mini.


"Terima kasih," kata Mini.

__ADS_1


"Sama-sama," jawab Angga.


Walaupun hatinya merasa sangat kesal terhadap Angga, namun dia tetap menggandeng mesra lengan pacarnya tersebut.


Kemudian, dia mengajaknya untuk segera masuk ke ruang keluarga. karena di sana om Hendry dan juga mom Delina sudah menunggu.


"Selamat malam Om, Tante," sapa Angga.


"Malam, duduklah!" kata Om Hendry.


Angga menurut, dia terlihat duduk di sofa yang berada tepat di hadapan om Hendry dan mom Delina. Mini juga terlihat ikut duduk di samping Angga, kekasihnya.


"Ada apa ya, Om?" tanya Angga sopan.


Untuk sesaat om Hendry dan juga mom Delina terlihat saling menatap, kemudian mereka tersenyum dan menatap Angga dengan intens.


"Tidak ada apa-apa, saya hanya ingin menawarkan sesuatu sama kamu," kata Om Hendry.


Mendengar apa yang diucapkan oleh om Hendry, perasaan Angga tiba-tiba saja tidak enak. Dia takut jika tawaran dari om Hendry akan memberikan pilihan yang memberatkan dirinya.


"Menawarkan apa, Om?" tanya Angga.


"Begini Nak Angga, perusahaan Om membutuhkan tambahan karyawan. Kalau Nak Angga berkenan, Om ingin kamu bekerja di perusahaan Om sebagai wakil dari Om," kata Om Hendry.


Mendengar apa yang ditawarkan oleh om Hendry, Angga tampak tergiur. Namun, dia tidak ingin dicap sebagai penjilat.


Dia tidak ingin dicap sebagai lelaki yang hanya numpang hidup kepada pasangannya, apalagi Angga belum menikah dengan Mini. Sudah pasti Angga akan menjadi bahan gunjingan banyak orang.


"Tidak usah, Om. Saya sudah punya pekerjaan yang harus saya pertanggungjawabkan, ya... walaupun pekerjaan saya tidak menghasilkan uang yang wah, tapi saya akan sangat bangga jika menggunakan uang tersebut untuk meminang wanita yang saya cintai," kata Angga.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Angga, om Hendry dan mom Delina tampak tersenyum.


Mereka sangat senang dengan apa yang diucapkan oleh Angga, karena ternyata lelaki yang dipilih putrinya adalah lelaki yang baik.


Angga bahkan terlihat benar-benar mencintai Mini tulus dari dasar hatinya, bukan karena harta yang Mini miliki.


"Wah, sayang sekali karena kamu sudah menolaknya. Padahal Om akan memberikan gaji yang sangat besar untuk kamu," goda Om Hendry.


Angga terlihat tertunduk lesu mendengar apa yang dikatakan om Hendry, terus terang dia merasa tersinggung sebagai lelaki.


Namun, dia juga bangga karena dia punya penghasilan yang tetap walaupun tidak wah.

__ADS_1


"Kalau Om dan Tante ingin mempunyai menantu yang berpenghasilan besar, saya rela mundur yang penting Mini bahagia dengan lelaki pili--"


"Ayang!" suara Mini terdengar begitu manja, matanya terlihat berkaca-kaca.


__ADS_2