
Selepas kepergian Satria, Putri terlihat masuk ke dalam kamarnya. Dia terlihat sedih sekali, bahkan matanya terlihat berkaca-kaca.
Dia sudah terbiasa pergi ke mana-mana bersama dengan Satria, jika ada sesuatu yang membuatnya kesal pun selalu Satria yang menenagkannya.
"Hah! Sepertinya aku harus mulai belajar tanpak Abang. Aku harus belajar mandiri, aku tidak boleh bergantung kepad orang lain. Walaupun kepada abangku sendiri."
Tok! Tok! Tok!
"Kakak, ini Baba. Boleh Baba masuk?"
Ternyata Juki yang mengetuk pintu, dia merasa khawatir kala melihat putri sulungnya bersedih.
"Boleh, Ba. Masuk saja, pintunya tidak terkunci," kata Putri.
Ceklek!
Pintu kamar nampak terbuka, Juki terlihat menghampiri Putri dan langsung duduk tepat di samping putrinya tersebut.
"Jangan sedih, abang kamu akan pergi untuk menimba ilmu. Kamu harus mendukungnya, agar abang kamu bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi," kata Juki seraya mengelus lembut puncak kepala Putri.
Putri terdiam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Juki, hal itu memang benar adanya. Namun, tetap saja dia merasa sedih jika Satria akan pergi jauh dari dirinya.
Selama ini Satria selalu menjadi sosok kakak yang baik, dia juga mampu menjadi sahabat yang baik.
"Putri mengerti," jawab Putri.
"Baguslah, inget! Jangan meminta Baba untuk menyekolahkan kamu ke luar negeri, bukannya tidak sanggup. Hanya saja Baba merasa tidak rela kalau putri cantik Baba pergi jauh. Pasti Baba akan rindu," kata Juki.
Hati Putri terenyuh mendengar apa yang dikatakan oleh Juki, walaupun Juki hanya ayah sambung untuk dirinya.
Namun, perlakuan Juki sama seperti Yudha memperlakukan dirinya. Bahkan, Juki selalu menawarkan apa pun yang terkadang belum Putri pikirkan.
Mata Putri terlihat berkaca-kaca, dia langsung menghambur ke dalam pelukan Juki. Lalu, Putri memeluknya dengan sangat erat.
"Putri tidak akan meninggalkan Baba, Putri akan terus tinggal sama Baba," kata Putri.
Juki terlihat kaget dan sekaligus senang saat mendengar apa yang dikatakan oleh Putri.
"Masa?" tanya Juki.
Dia seolah bertanya dengan nada tidak percaya kepada Putri, padahal ia sangat percaya jika Putri begitu menyayanginya dan tidak mungkin akan meninggalkan dirinya.
"Iyes, Putri akan terus dekat dengan Baba. Bantu Baba buat jagain twins A," kata Putri.
__ADS_1
Juki terlihat terkekeh kala mendengar ucapan Putri, karena pada kenyataannya Putri memang selalu saja membantu dirinya dan juga Jesicca untuk membantu mengurusi Alex dan juga Alsel.
"Terus, kalau Putri menikah nanti, apa Putri akan tetap tinggal sama Baba?" tanya Juki.
Putri terlihat menggelengkan kepalanya di dalam pelukan Juki, tentu saja dia tidak mau jika harus tinggal bersama dengan Juki setelah menikah nanti.
Setiap anak yang sudah menikah artinya terlepaals dari tanggung jawab orang tua. Jika mampu dia akan membeli rumah sendiri, jika belum mampu maka dia akan mengontrak rumah terlebih dahulu.
Masa iya sesudah menikah masih saja tinggal bersama dengan orang tuanya, pikirnya. Hanya akan merepotkan dan itu artinya dia tidak akan belajar bertanggung jawab.
"Setelah lulus sekolah Putri akan bekerja untuk membangun rumah di dekat rumah Baba, jadi... walaupun sudah tidak tinggal satu rumah, Putri akan tetap sering menemui Baba," kata Putri.
Hati Juki benar-benar meleleh mendengar apa yang diucapkan oleh Putri, dia tidak menyangka jika Putri yang notabene bukan darah dagingnya sendiri malah terlihat begitu menyayanginya.
"Anak pandai, Baba sayang Putri." Juki melerai pelukannya, kemudian dia mengecup kening Putri dengan penuh kasih.
"Putri juga sayang Baba," kata putri.
Jesicca yang melihat Juki yang begitu menyayangi putrinya begitu bahagia, rasanya dia tidak salah memilih Juki untuk menjadi suaminya, suami mesummnya.
Karena sikap Juki tetap saja tidak berubah, walaupun usia Juki semakin bertambah, tapi Juki selalu bersikap romantis terhadap dirinya dan messum.
"Ehem, sepertinya Ibu sudah tidak sabar untuk berduaan dengan Baba. Maaf ya, Sayang," kata Juki seraya mengerling nakal ke arah Jesicca.
"Mas! Jangan suka ngeracunin pikiran anak kecil deh," kata Jesicca.
"Siapa yang ngeracunin pikiran Putri?" tanya Juki dengan raut wajah dibuat sepolos mungkin.
Putri langsung tertawa, dia memang masih kecil. Namun, Putri sudah paham jika Juki selalu saja ingin berduaan dan bermesraan bersama dengan ibunya, walaupun Putri belum paham dengan konsep bermesraan sepasang suami istri seperti apa.
Karena pada kenyataannya, jangankan paham akan hubungan suami istri itu seperti apa. Putri bahkan belum tahu yang namanya bermesraan dengan pacar itu seperti apa.
"Ish! Mas selalu saja nyebelin," kata Jesicca dengan bibir yang sudah maju dua centi.
Juki dan Putri langsung tertawa melihat tingkah Jesicca, sedangkan Jesicca terlihat pergi begitu saja.
"Baba temuin ibu dulu, biasanya kalau sudah seperti itu ibu kamu itu lagi ngambek. Ibu kamu itu perlu Baba jinakkin," kata Juki.
Putri langsung tertawa, "hem, aku paham. Bukan ibu yang perlu dijinakin, tapi Baba." Putri kambali tertawa.
"Sok tahu!" kata Juki seraya berlalu.
Putri hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Juki, dia turun dari tempat tidurnya, lalu dia menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
Berbeda dengan Juki yang langsung berlari untuk segera masuk kedalam kamarnya, karena dia takut jika Jesicca akan mengunci pintu kamarnya tersebut.
"Ehm, Yang. Jangan marah-marah, nanti aku kasih dari belakang," rayu Juki.
Juki langsung menghampiri istrinya, lalu dia memeluknya dengan erat. Jesicca terlihat melerai pelukannya, kemudian dia menatap wajah Juki dengan lekat.
"Itu mah maunya kamu, Mas. Aku. mana suka seperti itu," keluh Jesicca.
"Iya, Mas paham. Kamu tuh sukanya naikin aku, yuk! Mas udah pengen banget," kata Juki seraya membuka bajunya.
"Ya mapun!" keluh Jesicca kala melihat tubuh Juki yang kini sudah tidak memakai sehelai benang pun.
Juki terlihat tersenyum nakal, kemudian dia mengulurkan tangannya dan meraih tangan Jesicca. Lalu, dia mengarahkan tangan Jesicca untuk mengusap miliknya.
"Ya ampun, Mas! Aku lagi ngga pengen, ngga usah nakal!" keluh Jesicca.
Mulut Jesicca boleh berkata jika Jesicca sedang tidak menginginkan Juki. Namun, matanya terlihat melirik beberapa kali ke arah milik Juki yang sudah mengacung dengan sempurna.
Juki tertawa, kemudian dia berkata kembali.
"Yang, dia butuh belaian. Memangnya kamu ngga kasihan sama dia?" tanya Juki.
"Ngga!" jawab Jesicca lantang.
"Oh, oke. Kalau begitu aku mau keluar aja, mau cari Ayam. Siapa tahu ada yang mau kasih servis yang enak buat aku," canda Juki.
"No!" kata Jesicca.
Jesicca langsung mendorong tubuh Juki hingga terjerembab ke atas kasur, dengan lihainya Jesicca melepaskan semua kain yang menempel di tubuhnya.
Lalu, Jesicca terlihat naik ke atas tubuh Juki dan mulai mengecupi setiap inci wajah Juki sampai dada dan perutnya.
Juki terlihat memejamkan matanya, dia begitu menikmati sensasi kecupan hangat dari bibir Jesicca yang terasa hangat dan kenyal.
"Kamu sudah siap, Sayang?" tanya Jesicca dengan nada sensual.
"Si---aaakh!"
Juki langsung memekik, dia merasakan kenikmatan yang luar biasa kala Jesicca menyatukan tubuh mereka.
***
Selamat malam kesayangan, selamat beristirahat. Sedikit bercerita, biasanya kalau mau up Othor akan edit kembali. Tadi malam belum Othor edit sudah ke up, Ya Allah... Othor malu banget. Maafkeun, 😘😘😘
__ADS_1