Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
S2. Bab 40


__ADS_3

Setelah Satria dan juga Rachel mengatakan kata setuju, akhirnya mereka pun melakukan acara makan malam bersama.


Sesekali terdengar obrolan, canda dan juga tawa yang menggema di seluruh ruangan. Apalagi Rachel, dia terlihat menjadi bahan ledekan untuk Rama dan juga Raja.


Ketiga saudara kembar itu terlibat adu mulut, tapi mereka tetap terlihat saling menyayangi. Karena itulah saudara.


Setelah selesai makan malam, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Namun, ada hal yang membuat Satria merasa sangat bahagia.


Bu Airin meminta Satria untuk mengantarkan Rachel untuk pulang, Bu Airin beralasan agar Rachel tidak kembali adu mulut dengan kedua saudara kembarnya Raja dan Rama.


Tentu saja Satria sangat senang dengan tugas dari calon mertuanya tersebut, berbeda dengan Rachel yang nampak cemberut.


Dia memang senang kalau bisa berduaan dengan Satria. Namun, hatinya tetap deg-degan kala mengingat dirinya yang pernah dipeluk oleh Satria.


"Silakan masuk Tuan putri," kata Satria setelah dia membukakan pintu mobil untuk Rachel.


"Terima kasih, Abang," jawab Rachel seraya duduk di samping kemudi.


Satria tersenyum, kemudian dia dengan cepat menyusul Rachel dan duduk tepat di balik kemudi.


"Mau langsung aku antarkan pulang atau mau pergi ke mana dulu?" tanya Satria.


Rachel yang sedang fokus melihat ke depan langsung menolehkan wajahnya ke arah Satria, kemudian dia memberanikan diri untuk berkata


"Ini sudah malam, Abang. Lebih baik kita pulang," kata Rachel.


"Baiklah, terserah apa kata kamu, Nona Cantik," kata Satria.


Rachel tentu saja senang mendengar sapaan dari Satria, dia terlihat mengatupkan mulutnya menahan tawa.


Lalu, dia terlihat memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil. Satria tersenyum lalu dia mengusap pundak Rachel dengan lembut.


"Cie, geer," kata Satria.


"Apaan sih, Bang!" jawab Rachel seraya menggedikkan bahunya tanpa menoleh ke arah Satria.


Satria hanya bisa tertawa melihat tingkah dari calon istrinya tersebut, terus terang saja awalnya Satria merasa sangat kaget.


Dia merasa ketakutan karena tiba-tiba saja dirinya disuruh untuk berkumpul dengan keluarga dari wanita yang dia cintai.

__ADS_1


dia sempat merasa jika dirinya akan mendapatkan sebuah kemalangan, dia merasa jika dirinya tidak akan mendapatkan restu dari kedua pihak keluarga.


Namun, kini dia merasa sangat bahagia. Karena pada akhirnya, sebentar lagi dia akan menikah dengan Rachel.


Bahkan kedua keluarga besar tersebut termasuk Yudha sudah berencana akan menikahkan mereka berdua bulan ini juga.


Mereka hanya takut jika Satria dan juga Rachel tidak bisa menahan diri, mengingat Rachel yang begitu genit sedari kecil.


Mengingat sikap Satria juga yang terlalu posesif terhadap Rachel. Padahal, menurut mereka seharusnya Satria mendekati Rachel secara perlahan.


Karena sedari dulu Satria selalu saja bersikap cuek terhadap Rachel, bisa saja Rachel malah akan ketakutan dengan sikap Satria yang berubah total.


Bukannya Rachel akan mau menikah dengan lelaki yang kini genap berusia dua puluh dua tahun itu, tapi malah akan pergi untuk menghindar.


"Iya, Sayang. Abang antar kamu pulang," kata Satria.


Satria tersenyum, kemudian dia mengecup kedua pundak Rachel yang terekspos karena bajunya yang memiliki belahan rendah.


Rachel terlihat kaget, bahkan dia sampai menyikut perut Satria dengan cukup kencang. Satria langsung mengadu kesakitan.


"Aduh, Sayang. Sakit banget perut aku," keluh Satria.


Dia merasa kesal dengan apa yang diperbuat oleh Satria. Namun, dia juga merasa kasihan saat melihat wajah Satria yang memerah karena menahan sakit.


Bahkan dia terlihat mengelus-elus perutnya yang terkena sikutan Rachel, tapi Rachel merasa jika itu bukan sepenuhnya salah dia, bukan.


"Iya, Sayang. Maaf, abisnya kamu juga salah. Ngapain coba make baju terbuka kaya gitu," protes Satria.


Rachel terlihat menunduk dan memperhatikan baju yang dia pakai, baju yang dipakai memang memperlihatkan tubuh bagian atas Rachel yang begitu menggoda.


Namun, saat dia melihat ukuran dadanya yang tidak besar. Dia terlihat menggelengkan kepalanya.


Biasanya lelaki akan tidak tahan jika melihat bentuk dada seorang wanita yang begitu besar.


Namun, kenapa Satria malah terlihat begitu tergoda akan bentuk dadanya yang terlihat kecil? Karena sedari tadi dia terus saja menetap ke arah dada Rachel.


"Ya ampun," keluh Rachel.


Rachel terlihat mengedarkan pandangannya, kemudian dia melihat jaket milik Satria yang tersampir di kursi penumpang.

__ADS_1


Rachel langsung mengambilnya dan memakainya dengan cepat, dia tidak mau Satria tergoda lagi dengan bentuk tubuhnya.


"Abang lama-lama messum ih!" keluh Rachel seraya mendorong wajah Satria. Satria terkekeh, kemudian dia berkata.


"Aku tidak messum, Sayang. Aku hanya mengagumi kecantikanmu, sikapmu dan juga bentuk tubuhmu," kata Satria jujur.


"Abang Ih, ngeselin! Lagian apanya juga yang dikagumi, orang aku ini cerewet. Terus punya aku juga kecil," kata Rachel seraya menatap dadanya.


"Tenang aja, Yang. Nanti aku gedein," kata Satria seraya menatap ke arah dada Rachel.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Satria, Rachel langsung menatap Satria dengan tatapan tajam.


kemudian dia mengusap wajah Satria dengan Kedua telapak tangannya. Dengan melakukan hal seperti itu, Rachel berharap jika Satria akan cepat sadar dari konsumannnya.


"Sadar, Bang. Sadar, kita belum halal. Jadi, tidak sepantasnya Abang mengatakan hal itu kepada aku," kata Rachel.


"Iya Iya, maaf. Kalau begitu kita sekarang pulang saja, kalau lama-lama berduaan begini nanti Abang takut ngga tahan," kata Satria.


Rachel terlihat merapatkan jaket milik Satria di tubuhnya, sedangkan Satria langsung mulai melajukan mobilnya menuju kediaman bu Airin.


Selama perjalanan menuju kediaman bu Airin, tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Rachel masih merasa kesal dengan Satria yang kini berubah drastis.


Satria selalu saja mengucapkan apa yang ada di dalam isi hatinya dan di dalam pikirannya, berbeda dengan Satria, dia terlihat diam karena takut Rachel malah akan marah lagi terhadap dirinya.


"Sudah sampai, Sayang. Turun gih, kalau kelamaan bersama aku, aku takut bibir kamu tidak akan perawan lagi," kata Satria.


Rachel hanya bisa memutar bola matanya, dia benar-benar tidak menyangka jika Satria kini berubah menjadi laki-laki yang sangat messum.


Setelah itu, dia langsung turun dari mobil Satria dengan cepat dan berlari menuju rumah kedua orang tuanya.


Rachel bahkan tidak menoleh sama sekali ke arah Satria, Satria hanya tersenyum melihat akan apa yang dilakukan oleh calon istrinya tersebut.


"Maaf, tapi... entah kenapa aku selalu saja tidak tahan saat berdekatan dengan kamu," kata Satria lirih.


Setelah mengatakan hal itu, Satria nampak melajukan mobilnya menuju kediaman kedua orang tua.


***


Masih berlanjut.

__ADS_1


Terima kasih untuk kalian yang selalu hadir untuk membaca karya Othor yang satu ini, terima kasih juga untuk kalian yang selalu like, komen dan memberikan hadiahnya untuk karya receh Othor.


__ADS_2