
"Emang ngga percaya, pokoknya sebelum aku ketemu sama Mini, aku ngga bakal percaya sama kamu. Kita putus aja," kata Larasati.
"Jangan, Yang. Itu dia masalahnya, Mini kabur lagi. Tadi malam dia kabur lewat jendela, aku lagi pusing ini. Kayaknya ngga kerja dulu, nyari Mini dulu," kata Jonathan.
"Memangnya ngga ada orang suruhan Om Keanu yang nyari?" tanya Larasati.
"Ada, tapi Om Hendry tetep minta aku ikut nyari," jawab Jonathan lesu.
"Ish! Kamu tuh nyebelin," keluh Larasati.
Satria yang sedari tadi melihat perdebatan antara Jonathan dan bundanya terlihat kebingungan, dia menatap wajah Larasati dan juga Jonathan secara bergantian.
"Buna syama Daddy belantem?" tanya Satria.
"Tidak, Sayang," jawab Larasati dan juga Jonathan secara bersamaan.
Mendengar jawaban kompak dari Larasati dan juga Jonathan, Satria terlihat menggelengkan kepalanya dengan wajah yang sangat menggemaskan. Setahunya dari film kartun yang dia tonton, jika ada dua orang yang berdebat itu artinya sedang berantem.
"Sudah, anak tampan tidak boleh banyak pikiran. Sekarang kita ke dapur, bantu Oma untuk masak," ucap Jonathan seraya mengangkat tubuh mungil Satria.
Satria menurut, dia langsung menganggukkan kepalanya dan memeluk Jonathan dengan erat. Larasati tersenyum, lalu mereka pun akhirnya keluar dari kamar Larasati.
"Jo, kamu mau kapan mulai mencari Mini? tanya Larasati.
Jonathan menghentikan langkahnya, lalu dia menatap Larasati sambil tersenyum hangat.
"Setelah sarapan aku akan mencari Mini, memangnya kenapa? Apa kamu mau ikut? Kamu masih belum percaya sama aku?" tanya Jonathan.
Larasati terlihat mendengkus sebal, dia merasa jika Jonathan tidak peka dengan perasaannya.
"Tentu saja aku tidak percaya, aku tidak mau dibohongi untuk yang kedua kalinya, Jo. Sudah cukup mas Yudha yang membohongi dan menyakitiku," ucap Larasati dengan wajah sendunya.
Rasa bersalah langsung menyeruak di dalam hati Jonathan, dia tahu jika luka yang ditorehkan oleh Yudha begitu dalam.
"Baiklah-baiklah, setelah sarapan kita akan mencari Mini. Jangan cemberut lagi, aku tidak suka lihat wajah cantik kamu berubah sendu seperti itu," ucap Jonathan.
"Hem," jawab Larasati.
Setelah terjadi kesepakatan di antara Larasati dan juga Jonathan, mereka pun melakukan sarapan bersama. Tentunya bersama dengan tuan Elas dan juga nyonya Meera.
Setelah selesai sarapan, Jonathan pun langsung mengajak Larasati dan juga Satria untuk mencari Mini. Tentu saja tujuannya agar Larasati percaya, jika Jonathan tidak pernah berselingkuh di belakangnya.
__ADS_1
🌹🌹🌹
Di lain tempat.
Bi Narti sedang kebingungan, karena setelah Michele melaksanakan ritual mandinya. Dia tidak mempunyai baju ganti, alhasil bi Narti memberikan dastar miliknya kepada Michele untuk dia pakai.
Beruntung bi Narti mempunyai perawakan yang kecil. Sehingga daster milik bi Narti terlihat pas di tubuh Michele.
Sebenarnya Michele merasa risih karena harus memakai daster tersebut, namun menurutnya itu lebih baik dari pada dia tidak mengganti pakaiannya sama sekali.
"Bu, Michele jadi merasa sudah punya suami kalau pake daster seperti ini," ucap Michele seraya tertawa konyol.
Michele terlihat membantu bi Narti untuk menata makanan yang sudah bi Narti masak, nasi goreng, telor ceplok, acar dan juga tiga gelas susu hangat.
"Kamu itu loh, katanya ngga mau dijodohin. Tapi ngebayangin menjadi istri," ucap Bi Narti seraya menggelengkan kepalanya.
"Kalau jadi istri anak ibu, aku mau," ucap Michele dengan senyum konyolnya.
"Sudah jangan bicara terus, sekarang kita sarapan. Duduklah! Biar Ibu memanggilkan Angga terlebih dahulu," kata Bi Narti.
Michele menurut, dia nampak duduk di salah satu bangku yang ada di ruang makan tersebut. Berbeda dengan bi Narti yang langsung melangkahkan kakinya menuju kamar Angga.
Lima menit kemudian, bi Narti sudah datang bersama dengan Angga. Mereka langsung duduk dan melakukan ritual sarapan paginya.
"Jangan menertawakanku!" kata Michele yang menyadari jika Angga seakan ingin menertawakan dirinya.
Angga tak menggubris ucapan Michele, dia meneruskan sarapannya. Melihat kelakuan Michele dan juga Angga, bi Narti hanya menggelengkan kepalanya.
Tak lama kemudian, acara sarapan pagi pun sudah selesai. Angga sudah bersiap untuk pergi menuju Cafe, tanpa Angga duga, Michele langsung memeluk tangan Angga dengan erat dan menyandarkan kepalanya di pundak Angga.
"Hey! Lepaskan tanganmu, jangan bergelayut seperti itu. Aku tidak suka," ucap Angga.
"Jangan membentak aku, aku hanya ingin ikut bersamamu," kata Michele.
"Kamu tidak boleh ikut ke Cafe, karena ibu akan mengantarkan kamu ke rumah orang tuamu," ucap Angga.
Michele terlihat menekuk wajahnya, dia bahkan menghentakkan kakinya beberapa kali. Dia merasa belum ikhlas kalau harus pulang saat ini, karena dia masih ingin bersama dengan Angga.
Entah kenapa dia begitu menyukai sosok Angga yang sangat judes, karena walaupun seperti itu, Angga terlihat sangat manis dan juga perhatian.
"Pulangnya nanti malam saja, hari ini izinkanlah aku untuk ikut ke Cafe bersamamu," ucap Michele
__ADS_1
"Tidak bisa, nanti aku dicap sebagai pembawa kabur anak gadis orang," ucap Angga.
"Tidak akan seperti itu, aku mohon sekali ini saja. Nanti sore pasti aku akan pulang," rengek Michele.
Angga terlihat menggelengkan kepalanya, lalu dia memperhatikan penampilan Michele dari atas sampai bawah.
Michele yang hanya menggunakan daster selutut milik ibunya terlihat begitu lucu di mata Angga.
"Yakin mau pergi ke Cafe dengan hanya memakai daster saja?" tanya Angga.
Mendengar pertanyaan dari Angga, Michele terlihat memindai penampilannya. Menurutnya penampilannya tidak buruk, bahkan daster yang dia pakai juga terlihat layak.
"Memangnya kenapa kalau aku pakai daster? Ini dasternya dasar batik lo, bagus!" ucap Michele.
"Terserah!" jawab Angga.
Pada akhirnya bi Narti hanya bisa tertawa kecil melihat perdebatan antara dua insan muda di hadapannya.
Angga terlihat melangkahkan kakinya keluar dari rumah tersebut, tiba di halaman, dia langsung membuka mobilnya.
Saat hendak masuk, dia pun memandang tangannya yang masih dipeluk oleh Michele.
"Kenapa?" tanya Michele dengan raut wajah tidak bersalah.
"Bagaimana aku bisa masuk ke dalam mobil kalau kamu terus memeluk tanganku seperti itu?" tanya Angga.
"Maaf," ucap Michel seraya melepaskan tangan Angga.
"Masuklah, Nak. Michele juga masuk, biar kita tidak kesiangan," ucap Bi Narti.
Angga pun langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi, Michele tersenyum lalu dia menyusul masuk dan duduk di samping Angga.
Bi Narti tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, kemudian dia pun masuk dan duduk di bangku penumpang.
Setelah memastikan Michele dan bi Narti masuk ke dalam mobil dengan nyaman, Angga langsung melajukan mobilnya menuju Cafe.
Selama perjalanan menuju Cafe, Michele hentinya memandang wajah Angga. Sebenarnya Angga merasa sangat risih, namun dia membiarkan Michele berbuat sesuka hatinya, yang terpenting tidak menganggu dirinya yang sedang menyetir mobil, pikirnya.
♥️
♥️
__ADS_1
Bersambung....