
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, ternyata Rachel memang dinyatakan positif hamil. Satria dan Rachel terlihat begitu bahagia sekali, karena mereka akhirnya akan mendapatkan keturunan.
Awalnya Ridwan hanya diam saja, hal itu membuat bu Airin merasa takut jika suaminya itu akan marah.
Namun, setelah Rachel memeluk ayahnya tersebut, Ridwan terlihat menangis seraya mengecupi kening putri satu-satunya itu.
Dia terlihat begitu bahagia, karena walau bagaimanapun juga calon buah hati dari Rachel dan juga Satria adalah calon cucunya juga.
Calon generasi penerus dirinya, bagaimanapun juga dia tetap menyayangi calon cucunya itu walaupun pada awalnya dia menolak.
Apalagi ketika Ridwan melihat kebahagiaan yang begitu kentara dari wajah Rachel, Satria dan juga istrinya. Tentu saja hal yang begitu membahagiakan untuk dirinya adalah kebahagiaan anak dan juga istrinya.
"Selamat atas kehamilan kamu, Sayang. Semoga kamu bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak-anakmu kelak," kata Ridwan dari dasar hatinya.
"Terima kasih Ayah," kata Rachel dengan binar bahagia di wajahnya.
Setelah dinyatakan hamil akhirnya mereka pun Kembali pulang, tapi Ridwan tidak mengizinkan Rachel untuk pulang ke apartemen.
Rachel sedang mengandung, dia harus banyak beristirahat. Dia merasa jika Rachel lebih baik berada di rumahnya, ada bu Airin yang perhatian.
Satria setuju, yang penting mereka diperbolehkan sesekali untuk menginap di kediaman Dinata. Ridwan terlihat setuju.
Jika kini Satria dan juga Rachel sedang berbahagia, karena pada akhirnya Ridwan dan juga bu Airin terlihat ikut bahagia atas kehamilan putrinya Rachel.
Berbeda dengan Kinara, sudah satu minggu ini Kinara terlihat uring-uringan. Tentu saja bukan tanpa sebab, hal itu terjadi karena Mich kini tak pernah menghubungi dirinya lagi.
Mich tidak pernah datang lagi ke rumahnya, Mich tidak pernah mengirimkan pesan singkat kepadanya. Dia juga tidak datang untuk menjemputnya ke kampus.
Kinara ingin sekali datang terlebih dahulu ke kantornya, tapi dia tidak berani. Rasanya sangat malu, apalagi setelah dirinya berkata belum siap untuk menikah dengan Mich.
__ADS_1
Namun, setelah satu minggu berpisah dengan Mich terasa ada yang hilang dari dirinya. Dia tidak paham mengapa, tapi setelah dia pikirkan dengan baik.
Dia mulai tersadar, sepertinya dia sudah jatuh cinta. Namun, dia begitu enggan untuk mengakuinya. Dia terlalu naif, dia terlalu takut untuk mengakui perasaannya.
Melihat Kinara yang selalu murung, Angga yang baru saja pulang dari tanah air terlihat menghampiri putri dari wanita yang dulu sangat dia cintai itu.
Angga duduk di tepian tempat tidur, lalu dia mengelusi puncak kepala Kinara dengan sangat lembut.
"Ada apa, hem? Kenapa satu minggu ini kamu terlihat begitu murung, kata bunda? Apakah Ayah atau bunda punya salah terhadap kamu?" tanya Angga.
Bukannya menjawab, Kinara malah memeluk Angga dengan erat. Dia menumpahkan kegundahannya di dalam pelukan Angga.
Bahkan, Kinara kini malah menangis di dalam pelukan lelaki yang sudah dia anggap seperti ayahnya sendiri itu.
Angga terlihat kebingungan karena sebelum dia pulang ke tanah air wajah Kinara terlihat begitu ceria, tapi kini terlihat begitu berantakan.
"Sebenarnya ada apa? Tolong katakan sama ayah, jangan membuat Ayah khawatir dan bingung seperti ini." Kembali Angga berbicara.
"Kinar lagi sedih, kinar lagi bingung. Kinar nggak tahu harus ngapain," ucapkan Kinara dengan jujur.
Angga tersenyum, dia berpikir jika Kinara kini sedang kasmaran. Mungkin juga putus cinta, atau masalah di kampusnya.
"Sekarang cerita sama, Ayah. ada apa jangan ada yang ditutup-tutupi kalau bisa bantu nanti Ayah bantu ucap Angga lagi
Kinara terlihat melerai pelukannya, kemudian dia duduk tepat di samping Angga seraya menyadarkan kepalanya di pundak ayahnya tersebut.
"Jadi gini, Yah. Sebenarnya---"
Akhirnya Kinara pun menceritakan semuanya tentang perasaan gundahnya, mulai dari Mich yang menyukai dirinya sejak umurnya delapan belas tahun.
__ADS_1
Semuanya dia ceritakan tanpa dia tutupi dan tanpa dia lewatkan satu hal pun, Angga tersenyum seraya mengelus puncak kepala Kinara kemudian dia berkata.
"Sekarang tugas kamu hanya satu, tanya hati kamu. Apakah kamu mencintai Mich atau tidak? Kalau memang kamu mencintainya, terima lamarannya." Angga berkata seraya mengelus lembut punggung Kinara.
"Memangnya harus seperti itu, ya? Tapi aku belum siap menikah, masih banyak yang ingin aku gapai," kata Kinara.
"Menikah bukan menjadi penghalang, tapi menjadi awal dari semuanya," nasehat Angga.
"Tapi, Yah. Aku masih kecil, usiaku Baru dua puluh tahun. Rasanya aku belum pantas untuk menikah," kata Kinara lagi.
"Tidak ada orang yang bisa menebak usia pernikahan yang pantas itu di usia berapa, Sayang. Jika kamu memang mencintainya, terima lamarannya. Jangan ragu, karena pernikahan tidak memutuskan apa pun keinginan kamu," nasihat Angga lagi.
"Maksudnya bagaimana, Yah?" tanya Kinara.
"Di saat kita menikah, di saat itu pula kita memulai semuanya. Kita memulai kehidupan baru kita bersama dengan pasangan yang kamu pilih," jawab Angga.
"Terus apa yang harus aku lakukan saat ini, Ayah?" tanya Kinara kebingungan.
"Ayah sudah bilang, kamu harus bertanya kepada hati kamu. Kamu mencintai Mich atau tida? Jika kamu mencintainya, terima lamarannya. Nyatakan perasaan kamu kepadanya yang sebenarnya, jangan menyiksa diri seperti ini," ungkap Angga.
"Seperti itu, ya? Kalau begitu aku mau ke rumah om Mich sekarang," ucap Kinara dengan bersemangat.
Angga tersenyum melihat semangat di wajah Kinara, setelah mengatakan hal itu Kinara bahkan langsung berlari ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya.
Ini adalah hari Sabtu, dia yakin jika Mich ada di rumahnya. Dia yakin juga Mich tidak bekerja di kantornya.
Maka dari itu dia akan langsung pergi ke rumah Mich untuk menyatakan perasaannya, dia akan datang ke rumahnya untuk mengatakan jika dia bersedia untuk menikah dengan pria matang itu.
"Aku sudah tidak sabar!" teriak Kinara seraya menggosok tubuhnya dengan sponge.
__ADS_1