Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Wajah Leana


__ADS_3

Yudha pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah Kang soto tersebut.


"Tunggulah sebentar, Kang. Saya hanya ingin mengejar gadis itu," ucap Yudha.


Saat dia memalingkan wajahnya kembali ke arah Leana, sayangnya Leanna tak lagi berada ini di sana, Yudha mengumpat kasar.


"Sialan!"


Mendengar Yhuda mengumpat, pria yang duduk di samping Yudha nampak bertanya.


"Kau kenpa?" tanya lelaki yang duduk di sebelah Yudha itu.


Yudha mengalihkan pandangannya kepada lelaki tersebut, lalu menjawab pertanyaan darinya.


"Tidak apa, aku hanya kehilangan jejak seseorang," jawab Yudha.


Mendengar jawaban dari Yudha, lelaki tersebut nampak yakin jika Yudha mencari Leana.


"Apa kau mencari wanita yang berjalan dengan membawa dua paper bag di tangannya tadi?" tanyanya lagi.


Yudha nampak tersenyum, kemudian dia pun menganggukkan kepalanya. Dia terlihat senang karena mungkin lelaki yang ada di sampingnya tersebut mengetahui keberadaan Leana.


"Ah iya," jawab Yudha cepat.


Mendengar jawaban dari Yudha, mata pria itu langsung membulat dengan sempurna. Kemudian dia pun kembali berkata.


"Dia itu seorang mahasiswi yang selalu mengandalkan tubuhnya untuk bertahan hidup. Apa kau pernah tidur dengannya?" tanya pria tersebut.


Yudha langsung kelabakan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari pria tersebut, dengan cepat Yudha pun mengibaskan-ngibaskan kedua tangannya.


"Tentu saja tidak, mana mungkin aku tidur dengan wanita seperti itu?" kilah Yudha.


Pria itu nampak mengangguk-anggukan kepalanya sambil mengelus dagunya, kemudian dia pun kembali berkata.


"Baguslah kalau seperti itu, aku hanya takut kalau kau akan terkena penyakit HIV, atau bahkan berlanjut ke AIDS. Karena dia sudah banyak ditiduri banyak pria, eh? Lebih tepatnya dia sudah banyak meniduri banyak pria," ucapnya seraya terkekeh.


Yudha mengernyitkan dahinya dalam, dia merasa heran dengan apa yang diucapkan oleh pria tersebut.


"Maksudnya bagaimana?" tanya Yudha tak mengerti.


Pria yang ada di samping Yudha terkikik geli, kemudian dia pun berucap.


"Kau tahu? Di mana-mana pria yang meniduri wanita, namun yang aku dengar wanita itu selalu meniduri pria. Karena dia akan lebih bersemangat untuk menaiki tubuh pria dan bergoyang sesuka hatinya," ucap pria tersebut.


Kembali pria itu terkikik geli setelah mengucapkan hal itu, Yudha pun jadi was-was dibuatnya. Wajah Yudha pun berubah menjadi pucat pasi.

__ADS_1


Lagi, pria di sampingnya berucap. "Kau tahu tidak?"


Yudha terlihat menggelengkan kepalanya, pria itu nampak celingukan, kemudian dia pun mendekatkan bibirnya ke cuping telinga Yudha.


"Bahkan ada temanku yang berkata jika wanita itu mempunyai kelainan," ucap pria yang kentara suka bergosip itu.


Yudha benar-benar sangat was-was mendengar ucapan dari pria itu, dia benar-benar ketakutan saat ini.


"Maksudnya?" tanya Yudha seraya memundurkan wajahnya.


Pria itu sempat tertawa melihat ekspresi wajah Yudha, kemudian dia pun kembali bercerita. Namun, kali ini dia setengah berbisik.


"Tentu saja wanita seperti itu mempunyai kelainan, kalau dia wanita normal dia tidak mungkin menghabiskan waktunya siang malam untuk bercinta," ucap pria itu lagi.


Mendengar ucapan pria tersebut, Yudha pun jadi teringat saat dia tinggal satu rumah dengan Leana.


Tak ada hari tanpa bercinta, tak ada waktu tanpa bercinta. Mau siang ataupun malam, pasti mereka akan bercinta.


Bahkan, jika tengah malam Leana menginginkan dirinya, dia akan langsung membuka kain penutup bawah milik Yudha dan membangunkannya dengan Liang bergerigi miliknya.


Melihat ekspresi wajah Yudha, pria tersebut nampak mengibaskan tangannya di depan wajah Yudha. Lalu, dia pun bertanya.


"Hei kenapa wajahmu berubah pucat seperti itu? Apa kau terlalu lapar karena belum makan atau--"


"Aku lapar," sela Yudha cepat.


Menurutnya, jika dia lebih lama lagi di sana. Kepalanya akan terasa sangat pusing mendengar ocehan dari lelaki tersebut.


Setelah makanannya habis, Yudha pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah kontrakannya, karena hari sudah menjelang sore.


Tiba di rumah kontrakannya, Yudha terlihat merenung.


Mungkinkah benar apa yang dikatakan lelaki tersebut? Mungkinkah kini dia mengidap penyakit berbahaya tersebut?


Setelah lama terdiam, Yudha pun akhirnya memutuskan untuk membersihkan dirinya. Lebih baik tidur pikirnya, dari pada memikirkan hal yang belum pasti.


Di lain tempat.


Leana nampak duduk di tepian ranjang di sebuah kamar yang dia sewa di sebuah penginapan, dia sedang merenungkan nasibnya.


Sebenarnya dia sangat ingin pulang kampung, namun dia sudah tak akui lagi oleh penghuni kampungnya.


Itu semua terjadi saat mereka mengetahui kelainan yang Leana idap, mereka takut kampung mereka akan tercemar karena ulah Leana dan para pria yang ada di sana akan dirusak oleh kelakuan aneh Leana.


Akhirnya warga pun setuju untuk mengusir Leana dari kampungnya, kakak perempuannya pun tak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


"Sekarang aku harus kemana? Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menghabiskan waktu untuk menghabiskan uang yang aku dapat untuk berobat? Atau menghabiskan uang yang aku dapat untuk bersenang-senang?"


Leana terlihat asik berbicara dengan dirinya sendiri, di tangannya dia pegang satu gepok uang milik Yudha.


"Mas, kamu lagi apa?"


Dia tersenyum kala mengingat kegiatan yang selalu dia lakukan bersama dengan Yudha, dia juga ingat saat dia mengendap-endap ke rumah Daus dan bermain dengan lelaki bertubuh tinggi besar itu.


Tentu saja dia rela mengendap-endap untuk datang ke rumah Daus, karena milik Daus mempunyai banyk kelebihan, baik dalam ukuran ataupun panjangnya.


Bahkan, Daus bisa bermain dalam durasi yang lama. Tak seperti Yudha, mereka akan bermain dengan lama jika Leana yang menjadi pengendalinya.


Leana pun terlihat tersenyum sambil membayangkan hal erotiss yang biasa dia lakukan bersama dengan Yudha dan Daus.


"Sialan!"


Leana nampak mengumpat, saat miliknya terasa berkedut. Dia menginginkannya, dia merasa tak tahan.


"Sepertinya aku harus melakukannya," ucap Leana.


Leana terlihat bangun dan segera mematut dirinya di depan cermin, lalu dia pun keluar dari tempat dia menginap.


Malam ini dia memutuskan untuk mencari seorang pria yang bisa dia ajak tidur, dia sudah tak tahan ingin segera merasakan pelepasannya.


Tiba di sebuah taman, dia melihat sekumpulan preman sedang berkumpul. Mereka terlihat sedang menikmati minuman keras sambil membagikan hasil dari pendapatan malam ini.


Ya, mereka pulang menjambret.


"Hai," sapa Leana.


Dia langsung duduk di samping lima orang preman tersebut, dia bahkan tak merasa takut sama sekali.


"Ada apa, Cantik?" tanya preman A dengan tatapan laparnya.


Leana tak menjawab, dia terlihat mengelus paha salah satu dari preman tersebut. Kemudian, Leana nampak mengerling nakal.


Kelima preman tersebut nampak saling pandang, kemudian mereka pun menganggukkan kepalanya.


"Kita ke markas," ucap preman D.


Leana tersenyum, karena hasratnya sebentar lagi akan tersalurkan.


*


*

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2