Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Tawaran


__ADS_3

Bi Minah terlihat berlari keluar rumah, dia langsung menangis saat melihat Jesicca yang terlihat sedang menjerit histeris dengan air mata yang bercucuran di pipinya.


Jesicca terus aja meneriakkan nama putrinya, Jesicca terus aja meminta agar putrinya tak dibawa. Padahal, mobil yang di tumpangi oleh anak buah Juragan Juki sudah pergi dari sana.


Bi Minah terlihat menghampiri Jesicca, dia membantu Jesicca untuk berdiri.


"Bangunlah, Nyonya. Kita masuk ke dalam dulu, kita harus memikirkan bagaimana caranya agar kita bisa menembus Putri," ucap Bi Minah.


Jesicca sudah tidak bisa berkata apa pun lagi, dia benar-benar tidak tahu harus mencari uang ke mana. Dia benar-benar tidak tahu harus mencari bantuan kemana.


"Putri, Bi. Dia di bawa pergi," ucap Jesicca terisak.


"Istigfar, Nyonya. Minta pertolongan sama yang di atas, jangan kaya gini," ucap Bi Minah mengingatkan.


Jesicca tersenyum kecut, kemudian dia pun membaca istighfar beberapa kali. Bi Minah tersenyum sambil mengelus lembut punggung Jesicca, dia berusaha untuk menenangkan majikan tersebut.


Tiba-tiba saja terbersit sebuah ide di dalam otaknya, dia ingin menemui Juragan Juki dan meminta putri secara baik-baik.


Siapa tahu lelaki yang bernama Juragan Juki tersebut mau mengasihani dirinya.


"Bagaimana kalau aku kerumah Juragan Juki saja, Bi? Aku meminta keringanan padanya, aku juga ingin meminta putri untuk dibawa pulang," kata Jesicca.


"Apa itu tidak terlalu beresiko?" tanya Bi Minah.


"Siapa tahu Juragan Juki merasa kasihan kepada Putri yang masih harus aku susui," ucap Jesicca lagi.


"Terserah Nyonya saja, Bibi menurut," kata Bi Minah.


Jesicca lalu mengusap air matanya, setelah itu dia segera berlari ke dalam kamar mandi untuk mencuci mukanya dan mencuci tangannya yang terluka.


"Aku harus merapikan penampilanku," ucap Jesicca.


Jesicca nampak duduk di depan meja rias, kemudian dia pun mematut dirinya di depan cermin.


Dia memakai make up tipis dan memoleskan gincu berwarna merah muda di bibirnya, hal itu dia lakukan agar wajahnya tak terlihat sembab karena habis menangis.


Setelah merasa lebih baik, Jesicca pun langsung mengambil ponsel dan dompetnya. Kemudian, dia pun berpamitan untuk pergi ke rumah Juragan Juki.


"Bi, aku pergi dulu. Semoga saja Juragan Juki merasa kasihan padaku," kata Jesicca.

__ADS_1


"Iya, Nyonya," jawab Bi Minah.


Jesicca memesan ojek online untuk pergi ke rumah Juragan Juki, ternyata hanya memerlukan waktu 20 menit untuk sampai ke tempat Juragan Juki.


Benar apa yang diucapkan oleh ketiga pria bertubuh besar itu, saat dia menanyakan rumah Juragan Juki, semua orang yang ada di sana pun sangat mengetahui rumah dari rentenir itu.


Jesicca melangkahkan kakinya dengan ragu ke rumah Juragan Juki, dia berharap jika Juragan Juki mau mengasihani dirinya.


"Permisi," ucap Jesicca kala berada di depan pagar rumah terbesar yang ada di sana.


"Ada perlu apa?" tanya pria bertubuh besar di balik pagar.


"Saya Jesicca, saya mau bertemu dengan Juragan Juki," ucap Jesicca takut.


"Bos kami sibuk, cepat katakan apa yang kamu inginkan. Kalau alasanmu bisa diterima oleh bos, kamu boleh masuk!" jelas pria bertubuh besar itu.


"Aku ingin bertemu dengan putriku, bayi mungil yang belum lama dibawa oleh ketiga orang bertubuh besar tadi," kata Jesicca.


"Oh, sebentar." Pria itu nampak pergi dan masuk ke dalam rumah juragan Juki.


Tak lama kemudian, pintu pagar pun nampak terbuka. Jesicca bisa melihat jika di depannya kini ada seorang pria paruh baya, dia memakai kaos oblong putih dengan celana boim.


Pria paruh baya itu juga memakai peci berwarna merah dan memakai sabuk berwarna hitam di perut buncitnya.


"Sa--saya nyari Juragan Juki," jawab Jesicca terbata.


Melihat wajah Jesicca yang nampak ketakutan, Juragan Juki nampak tertawa. Setelah puas tertawa, dia pun terlihat memindai penampilan Jesicca dari atas sampai ke bawah.


Jesicca memang menggunakan kaos panjang berwarna merah jambu dipadupadankan dengan celana jeans panjang berwarna hitam, namun di mata Juragan Juki, tubuh Jesicca terlihat seksi dan juga menggoda.


"Saya Juki, panggi saya Bang Juki." Juragan Juki nampak mengulurkan tangannya.


Walaupun ragu, Jesicca pun membalas uluran tangan Juragan Juki. Juragan juki nampak menyeringai, lalu dia menggelitik telapak tangan Jesicca.


Mendapatkan perlakuan seperti itu, Jesicca berjenggit kaget dan refleks menarik tangannya tersebut.


"Maaf, B--Bang Juki. Saya mau menemui anak saya," ucap Jesicca takut.


"Bayar dulu bunga bunga pinjaman suamimu itu," kata Juragan Juki.

__ADS_1


"Ta--tapi, Bang. Saya belum ada uang, lagi pula puteri saya masih membutuhkan asi. Apakah Bang Juki tega memisahkan saya dengan putri saya?" tanya Jesicca dengan wajah penuh permohonan.


Juragan Juki pun tersenyum, lalu dia pun mulai bernegosiasi dengan Jesicca.


"Bagaimana kalau kamu menjadi istri saya saja? Jadi, kamu tidak usah membayar hutang suamimu itu," ucap Juragan Juki.


Mata Jesicca langsung membulat dengan sempurna kala dia mendengar permintaan dari Juragan Juki.


"Ta--tapi, Bang. Saya masih istri Mas Yudha, tidak mungkin saya menikah dengan anda," ucap Jesicca beralasan.


"Kamu bisa menikah denganku setelah kamu bercerai dengan suamimu," ucap Juragan Juki.


"Tapi, Bang. Saya tidak mungkin menikah dengan Abang, karena Abang pasti sudah mempunyai istri," ucap Jesicca.


"Ya, istri saya ada tujuh. Kalau kamu mau, kamu bisa jadi yang kedelapan," ucap Juragan Juki seraya tergelak.


"Tu--tujuh?" tanya Jesicca terbata.


"Ya, tapi kalau kamu tidak mau menjadi istriku. Menjadi pemuas nafssuku pun boleh," kata Juragan Juki.


"Maksudnya?" tanya Jesicca.


"Jadilah simpananku selama satu bulan, kamu harus melayaniku setiap malamnya. Maka, hutang suamimu akan lunas," kata Juragan Juki.


Badan Jesicca terasa lemas sekali mendengar penuturan dari Juragan Juki, dulu dia memang pernah nakal.


Namun, hal itu didasari karena kebutuhan ekonomi yang mendesak. Dia tidak punya uang dan dia harus mengandalkan tubuhnya agar bisa melanjutkan hidupnya dengan layak. Itu pun dia lakukan hanya kepada pacarnya dan juga Yudha.


"Pikirkanlah dulu, jika kamu mau, datanglah lagi kesini." Setelah mengatakan hal itu, Juragan Juki nampak masuk ke dalam rumahnya.


Kemudian Jesicca pun langsung disuruh pergi oleh anak buah dari Juragan Juki, Jesicca merasa sangat sedih sekali.


Dia merasa jadi ibu yang tidak berguna, karena tidak bisa mempertahankan putrinya. Jesicca berjalan tanpa tentu arah, dia terus saja berjalan sambil melamun.


Kakinya bakan kini nampak melangkah ke arah jalan raya, di sana ada beberpa mobil yang sedang melaju kencang.


Namun, Jesicca seolah tak menyadarinya. Dia terus saja berjalan dengan tatapan kosong, hingga tak lama kemudian ada mobil yang nampak berhenti tepat di hadapan Jesicca.


Seorang wanita nampak keluar dari dalam mobil tersebut.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan di jalanan?" tanya wanita itu seraya mengajak Jesicca untuk duduk di bangku pinggir jalan.


"Mbak Laras," ucap Jesicca lirih.


__ADS_2