
Kinara terlihat mengerjap-ngerjapkan matanya, dia tidak percaya kala lelaki dewasa itu memintanya untuk meminum kopinya.
Dia sendiri yang membuat kopinya, tentu dia tahu rasanya seperti apa. Tidak akan enak, yang ada dia seperti meminum air garam.
"Minum dulu kopinya, baru aku akan meminumnya," kata Mich.
Kinara langsung menggeleng-gelengkan kepalanya seraya mengibas-ngibaskan kedua tangannya.
"No! Om minum sendiri saja, jangan suruh aku. Kinar ngga mau, Kinar ngga biasa minum kopi. Nanti asam lambung Kinar naik," Kata Kinar beralasan.
Padahal pada kenyataannya Kinar sangat menyukai kopi, dia bahkan sering menghabiskan waktunya dengan teman-temannya di Cafe hanya untuk ngopi bersama.
Bahkan dia bisa sampai lupa waktu jika sudah bercanda tawa sambil ngopi bersama, satu paket komplit yang susah untuk dihindari.
"Jangan beralasan, aku tahu kamu mau mengerjaiku," kata Mich seraya mengambil cangkir kopi tersebut.
Mich sudah dewasa, tentu saja dia paham gelagat Kinara yang menurutnya sangat aneh itu. Kinara salah jika ingin mengerjai dirinya, pikrnya.
"Eh? Om mau apa?" tanya Kianara gugup.
Kinara langsung bangun, lalu dia terlihat menjauhi Mich. Mich semakin curiga dengan tingkah Kinara yang seperti itu, dia menghampiri gadia muda di hadapannya dan menyodorkan secangkir kopi itu kepadanya.
"Ayo diminum!" pinta Mich.
Mich mendekatkan tubuhnya ke arah Kinara, kini jarak mereka semakin dekat. Kinara seakan sulit untuk bernapas.
"No!" kata Kinara seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mich tertawa meledek mendapatkan penolakan dari Kinara, dia semakin mendekat ke arah Kinara.
"Hohoho, rupanya kau ingin bermain-main denganku, gadis kecil!" kesal Mich.
Mich merapatkan tubuhnya pada Kinara, tapi Kinara dengan cepat malah menjauhi Mich. Keduanya bak anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran sekarang.
"Kena, kamu!" kata Mich seraya mencekal pergelangan tangan Kinara.
Kinara terlihat panik, dia berusaha untuk melepaskan tangannya dari cekalan Mich. Sayanganya tenaganya tidak sepada, kekuatan Mich terlalu besar.
"Maafin Kinar, Om. Kinar beneran ngga bisa minum kopi," kata Kinara seraya menjauhkan wajahnya karena Mich kini menyodorkan kopi tersebut pada mulut Kinara.
"Kamu bohong!" kata Mich tidak mau kalah.
__ADS_1
Karena merasa kesal akhirnya Kinara mendorong segelas cangkir kopi tersebut, hingga akhirnya kopi tersebut jatuh ke atas lantai.
Prang!
Secangkir kopi itu terjatuh dan pecah, belingnya sampai berserakan di atas lantai. Refleks Kinara melompat ke atas tubuh Mich, karena dia tidak mau terkena siraman kopi panas yang pastinya terasa asin itu.
Dia memeluk leher Mich dengan erat, sedangkan kakinya dia lingkarkan di pinggang Mich dengan kuat.
"Oh, God! Turun!" bentak Mich.
Tubuhnya terasa tidak baik-baik saja saat tubuh mereka menempel seperti ini, dia lelaki normal.
"No! Nanti kena air panas sama kena beling, kaki Kinar nanti terluka," kata Kinara yang memang hanya menggunakan sendal tanpa hak.
"Tapi tidak seperti ini juga, leherku tercekik!" kata Mich seraya mencoba menurunkan Kinara dari tubuhnya.
Tangan Mich dia selusupkan ke ketiak Kinara, dia mencoba mengangkat tubuh kecil itu.
"Jangan Om, kalau mau turunin Kinar jangan di sini. Sebelah sana saja," pinta Kinar seraya menunjuk ke arah dekat sofa.
"Baiklah!" kata Mich mengalah.
Mich terlihat melangkahkan kakinya menuju sofa, kemudian dia membungkukkan badannya agar Kinara bisa turun dari tubuhnya.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Angga dengan suara memekik.
Sontak Mich langsung menjauhkan tubuhnya dari Kinara, begitupun dengan Kinara. Dia langsung bangun dan menghampiri Angga.
"Kami tidak melakukan apa pun," kata Mich yang sudah kembali dengan mode wajah datarnya.
"Ayah salah paham," kata Kinara.
Kinara berusaha menjelaskan, karena dia tidak mau terjadi kesalahpahaman di anatara mereka.
"Bagaimana bisa kamu mengatakan jika ini adalah salah paham? Jelas-jelas tadi Ayah melihat kalia--"
"Anda salah paham, Tuan," kata Mich yang dengan segera menghampiri Angga, lalu dia menepuk lengannya.
"Bagaimana bisa anda mengatakan hal seperti itu, Tuan Mich? Padahal jelas-jelas tadi saya melihat anda memeluk putri saya," kata Angga.
"Ini semua terjadi karena putri anda yang sangat nakal, dia mau memberikan saya kopi yang sudah dia kasih racun," kata Mich.
__ADS_1
Mendengar apa yang dikatakan oleh Mich, Kinara langsung menatap tajam kearah Mich. Dia merasa tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh lelaki dewasa tersebut.
"Enak saja, siapa juga yang mau meracuni, Om. Orang Kinar cuma masukin garam doang dua sendok ke dalam kopi yang Kinar buat," ceplos Kinar.
Mendengar apa yang Kinar ucapkan, sontak angga dan juga Mich langsung menatap tajam kearah Kinara.
Kinara dengan spontan langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, dia merasa bodoh karena sudah mengatakan apa yang dia lakukan.
"Sudah kuduga!" kata Mich seraya menoyor kepala Kinar.
"Om!" keluh Kinara seraya memelototkan matanya, walaupun dia salah tapi dia tidak mau dihukum ataupun dicela. Apalagi ditoyor seperti itu.
"Kinar, Sayang. Apa yang sudah kamu lakukan, Nak? Kenapa kamu melakukan hal seperti itu?" tanya Angga tidak enak hati.
Kinar langsung menundukan wajahnya seraya meremat kedua tangannya secara bergantian, dia takut akan kena marah dari Angga.
Melihat kelakuan dari Kinara baik Mich ataupun Angga terlihat menghela napas berat, kemudian Angga berkata.
"Minta maaflah kepada Tuan Mich!" kata Angga dengan nada perintah.
Kinara terlihat mendongakkan kepalanya, dia menatap Angga dengan tatapan penuh permohonan, dia seolah tidak ingin meminta maaf kepada Mich, lelaki yang dia anggap rese.
Namun, Angga menatapnya dengan tatapan tegas. Hal itu membuat nyali Kinara menciut, dia langsung menolehkan wajahnya ke arah Mich. Dia tersenyum kaku, lalu dia berkata.
"Maafkan Kinar ya, Om. Sebagai permintaan maaf dari Kinar, Kinara akan. membuatkan Om kopi lagi," kata Kinara.
"Tidak usah membuatkan kopi lagi, aku akan langsung berbicara saja dengan ayahmu," kata Mich.
Lebih baik Mich tidak minum jika Kinara yang membuatkan, dia takut jika Kinara akan meracuni dirinya.
"Baguslah, tapi Om maafin Kinar, kan?" tanya Kinara.
"Hem, sekarang mending kamu bersihin tuh pecahan gelasnya," kata Mich.
"Haish! Mending panggil OB," kata Kinar seraya berlalu dari sana.
Enak sekali menyururh dirinya untuk membersihkan pecahan gelas kopi itu, pikirnya. Lebih baik dia keluar dan mencari OB.
Selepas kepergian Kinara, Angga mengajak Mich untuk duduk bersama. Dia juga meminta maaf atas kelakuan dari putri, Larasati tersebut.
Beruntung Mich mau memaafkan Kinara, karena menurutnya Kinara masih sangat kecil dan wajar jika anak seusianya bersikap nakal seperti itu.
__ADS_1
***
Selamat siang Bestie, semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky. Jangan lupa tinggalkan jejak, yes.