
Entah kenapa Kinara merasa sangat lega saat mendengar Merlin memanggil pria yang kini dia peluk dengan sebutan 'my husband', itu artinya jika praduganya tentang Mich yang merupakan suami dari Merlin adalah salah.
Lalu, kenapa Mich kemarin menjemput dan mengantarkan Merlin ke Rumah Sakit? Apa mungkin Mich hanya mengantarkan saja karena dia akan memeriksa kandungannya?
Segala praduga dan pertanyaan dia ucapkan dalam hatinya, tapi dia tidak berani mengatakan apa pun kepada Merlin. Bahkan, bertanya kepada Merlin pun dia merasa malu.
"Eh? Maaf, aku terlalu senang karena bertemu dengan suamiku. Oh ya Sayang, kenalkan. Ini Kinara," kata Merlin memperkenalkan.
"Hay! Aku Max," kata pria itu seraya mengukurkan tangannya. Dengan ragu Kinara membalas uluran tangan dari Max, lalu dia menjawab.
"Kinara, Om."
Setelah Kinara mengatakan hal itu, Max langsung tertawa terbahak-bahak kala Kinara menyebutnya dengan sebutan om.
Dia sadar jika usianya sudah tiga puluh lima tahun, jadi pantas saja jika Kinara menyebutnya seperti itu.
Namunz tetap saja dia merasa lucu kala Kinara menyebutnya om. Mungkin akan terasa enak didengar jika Kinara memanggilnya kakak saja.
Merlin yang bisa membaca pikiran suaminya, langsung menepuk lengan lelaki tersebut beberapa kali.
"Kamu tahu, Sayang? Pas pertama dia bertemu dengan aku juga begitu, dia memanggilku Tante. Lucu bukan?" kata Merlin.
"Oh ya, Sayang. Padahal kita belum terlalu tua ya, tapi sudah dipanggil Om sama Tante," kata Max seraya tersenyum kecut.
Kinara merasa tidak enak hati mendengar ucapan dari keduanya, dia pun langsung meminta maaf.
"Maaf ya Kak Merlin, maaf Kak Max," kata Kinara.
"Tidak apa, oh iya. Kami mau pulang, mau ikut pulang bareng?" tawar Max.
"Tidak usah, rumah ayah sangat dekat dari taman ini. Aku bisa pulang dengan berjalan kaki," tolak halus Kinara.
"Oh seperti itu, baiklah kalau begitu kami pulang terlebih dahulu," kata Merlin.
Setelah mengatakan hal itu Merlin nampak memeluk Kinara lalu dia pun pergi bersama dengan Max suaminya, di saat masa kehamilannya yang baru dia rasakan, selalu ingin bersama dengan suaminya.
Selepas kepergian Merlin dan juga Max, Kinara memutuskan untuk langsung pulang ke kediaman Mini.
Karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul enam sore, dia harus segera bersiap untuk melakukan salat maghrib.
"Kamu sudah pulang, Sayang?" tanya Mini.
"Sudah, Bunda. Aku ke kamar dulu, mau bersiap untuk shalat maghrib," jawab Kinara.
__ADS_1
"Ya, Sayang," jawab Mini.
Kinara tersenyum lalu dia memeluk dan mengecup pipi Mini, wanita yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri itu.
Setelah itu, dia langsung masuk ke dalam kamarnya dan bersiap untuk melaksanakan kewajibannya terhadap sang Khalik.
***
Selepas maghrib Kinara langsung memakai baju tidur kesukaannya, baju tidur tanpa lengan dengan celana setengah paha.
Menurutnya dia terasa lebih nyaman jika akan tidur dengan memakai baju tidur seperti itu, bahkan Kinara jarang sekali memakai selimut dalam tidurnya.
Setelah selesai memakai baju tidur, dia terlihat keluar dari dalam kamarnya tersebut. Dia terlihat melangkahkan kakinya menuju ruang makan, karena biasanya selepas maghrib mereka akan berkumpul di ruang makan.
Hal itu mereka lakukan untuk sekedar mengobrol dan makan malam bersama, tapi langkahnya terhenti kala dia melihat Mich yang sedang mengobrol bersama dengan Angga di dalam ruang keluarga.
Melihat kedatangan Kinara Mich terlihat salah tingkah, berbeda dengan Angga yang langsung memanggil Kinara agar duduk tepat di sampingnya.
"Kemarilah, Sayang," kata Angga seraya melambaikan tangannya.
Untuk sesaat Kinara tidak menggubris apa yang dikatakan oleh Angga, dia terlihat memperhatikan Mich yang begitu tampan malam ini
Dua kali bertemu dengan Mich, dia menggunakan baju formal. Namun, saat ini Mich terlihat menggunakan kaos lengan pendek dengan celana jeans
"Hei! Kenapa diam saja? Kemarilah, Sayang! Sini duduk dengan Ayah," kata Angga seraya mengayunkan tangannya.
"Eh? Iya Ayah," jawab Kinara seraya melangkahkan kakinya dan duduk tepat di samping Angga.
Mich sempat memperhatikan penampilan Kinara yang terlihat begitu seksi dan menggoda di matanya, tapi dengan cepat dia memalingkan pandangannya.
"Apa kabar, Om? Ada apa, Om, kok tumben malam-malam kemari?" tanya Kinara.
Mendengar apa yang ditanyakan oleh Kinara Mich mencoba memberanikan diri untuk menatap wajah wanita yang terlihat begitu cantik di matanya.
"Ehm, itu. Aku diundang oleh Tuan Angga, beliau besok akan pulang ke tanah air, jadi ada beberapa berkas yang harus dia serahkan kepadaku," jawab Mich.
Kinara langsung menolehkan wajahnya ke arah Angga kala Mich mengatakan hal itu, dia bahkan belum mendengar dari mulut Angga jika ayah angkatnya itu akan pergi ke tanah air.
"Ayah mau pulang?" tanya Kinara dengan raut wajah gelisah.
"Iya, Sayang. Besok Ayah pulang dulu, ada beberapa hal yang harus Ayah urus," kata Angga.
"Aku boleh ikut?" tanya Kinara.
__ADS_1
Mendengar Angga akan pulang ke tanah air, rasanya dia juga ingin ikut. Dia ingin bertemu dengan Larasati dan juga Jonathan, dia juga ingin bertemu dengan Satria, putri dan juga semua keluarganya yang ada di tanah air.
Angga langsung tertawa mendapatkan permintaan seperti itu dari putri Larasati tersebut, Dia terlihat mengelus lembut lengan Kinara, lalu dia berkata.
"Dengar, Sayang. Ayah pulang untuk urusan pekerjaan yang menyangkut perusahaan kakek Henry yang berada di tanah air, bukan mau bersenang-senang," jelas Angga.
"Tapi ayah, Kinar rindu dengan buna dan juga daddy," kata Kinara dengan bibir yang mengkerucut.
Melihat kesedihan di wajah Kinara, Angga langsung mengelus lembut punggung Kinara lalu dia kembali berkata.
"Hei! Jangan bersedih seperti itu, di sini masih ada bunda Mini dan juga ketiga putraku," jawab Angga.
Kinara membenarkan jika adanya Mini dan juga ketiga sepupunya itu selalu membuat dirinya bahagia, bahkan satu hal yang perlu dia sadari, hal ini adalah keinginannya.
Pergi dari tanah air untuk melupakan Jeremy dan dia sangat bersyukur karena saat ini sudah tidak ada lagi rasa cinta untuk Jeremy, berhasil bukan.
"Ya, Ayah benar. Lagi pula kuliah aku bisa terbengkalai jika aku pulang," kata Kinara lesu.
"Anak baik," puji Angga.
"Tapi, Ayah. Siapa nanti akan mengantar jemput aku kuliah? Terus kalau aku ingin pergi bagaimana? Tidak ada yang mengantar," kata Kinara dengan nada penuh protes.
"Ada sopir, Sayang. Kalau ngga, mungkin nanti Tuan Mich mau membantu," kata Angga seraya terkekeh.
Mich langsung menatap ke arah Kinara dan juga Angga secara bergantian, walaupun wajahnya nampak terlihat datar tanpa eksresi,
tapi dalam hatinya dia bersorak kegirangan.
"Tentu saja saya mau," jawab Mich singkat.
Kinara langsung menatap ke arah Mich, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut Mich si super sibuk itu.
"Idih, Om kan orangnya sibuk banget. Masa mau ngantar jemput aku? Yang ada nanti pekerjaan Om terbengkalai loh!" kata Kinara.
"Tidak apa-apa, nanti setelah menjemput kamu, kamu bisa ikut bekerja seperti kemarin di perusahaan saya," kata Mich.
"Ngga ah, ngga mau. Ngga enak diem di kantor tapi nggak ada kerjaan, bosen!" kata Kinara.
"Kalau begitu mulai besok kamu bekerjalah di tempatku selepas pulang kuliah, aku akan mengajarimu, bagaimana?" tanya Mich
Mendapatkan tawaran seperti itu dari Mich, Kinara terlihat menetap Angga dan juga Mich secara bergantian.
****
__ADS_1
Selamat malam Bestie, selamat beristirahat. satu bab untuk menemani malam kalian, maaf tidak bisa double up. Sayang kalian semua, sampai jumpa besok lagi.