Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Mencoba Tenang


__ADS_3

Tiba di depan Caffe milik Larasati, Yudha pun langsung memarkirkan mobilnya. Dengan hati riang dia turun sambil menggendong Satria, lalu dia pun melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam Caffe tersebut.


Bi Narti dengan setiap mengekori langkah kedua pria tampan berbeda generasi tersebut. saat masuk kedalam Caffe, Satria terlihat sangat bahagia sekali.


Karena, Caffe milik Larasati kini sudah disulap menjadi tempat yang sangat indah untuk berpesta.


Larasati sengaja mengusung tema super hero kesukaan putranya, tentu saja tujuannya agar putranya bahagia.


Banyak balon besar bergambar super hero yang menghiasi ruangan tersebut, bahkan banyak stiker superhero yang menempel di dinding Caffe tersebut.


Hal itu membuat Satria langsung meminta turun dari gedongan Yudha dan langsung berlari ke arah Larasati yang sedang mengobrol bersama dengan Angga.


Balita tampan itu langsung memeluk kaki Larasati, Larasati terlihat tersenyum lalu dia pun langsung menggendong Satria.


"Selamat ulang tahun putra kesayangan, Om." Angga terlihat berbisik di telinga Satria.


Satria terlihat senang sekali mendapat ucapan selamat ulang tahun dari Angga, dia langsung tersenyum dan meminta Angga untuk menggendongnya.


Dengan senang hati Angga pun langsung menggendongnya dan memberikan kecupan hangat di kening balita tampan tersebut.


Melihat akan hal itu, membuat Yudha cemburu. Karena di mata Yudha, hal itu merupakan hal yang romantis.


Yuda terlihat tersenyum kecut karena melihat kedekatan Satria dengan Angga, namun Yudha berusaha berpikir positif.


Karena walau bagaimanapun juga Angga terlihat lebih muda dari Larasati, rasanya tidak mungkin jika Larasati berhubungan dengan pria brondong, pikirnya.


Apa lagi dia sudah memiliki anak, belum tentu pria brondong seperti Angga bisa bersiap untuk menjadi ayah yang baik bagi Satria.


Yudha lalu menghampiri Larasati, kemudian dia pun berkata.


"Kamu pinter banget sih nyiapin pesta ulang tahun buat anak kita, Mas saja suka sama dekorasinya. Apa lagi Satria pasti dia sangat suka." Yudha tersenyum hangat.


"Aku hanya berusaha untuk mewujudkan keinginan Satria, itu saja Mas," kata Larasati.


"Tapi, kenapa kamu sampai tidak pulang? Mas lihat banyak sekali yang membantu kamu untuk mempersiapkan acara ulang tahun untuk Satria," kata Yudha penasaran.


"Maaf, Mas. Sebenarnya tadi siang aku pergi ke suatu tempat, jadi lama." Larasati terlihat tersenyum manis.


"Kemana?" tanya Yudha makin penasaran.


"Nanti aku ceritakan setelah acara ulang tahun Satria selesai," kata Larasati.


"Baiklah." Yudha menganggukkan kepalanya.


Sebenarnya Yudha ingin sekali mengobrol dengan Larasati dengan tempo yang lama, namun sayangnya Larasati harus menyambut para tamu yang sepertinya sudah diundang oleh Larasati sendiri.


Tamu pun mulai berdatangan, Yudah bisa melihat banyaknya teman Larasati yang datang bersama dengan anak-anak mereka.

__ADS_1


Tentu yang sangat Yudha diingat adalah Jelita yang datang dengan suami dan juga putrinya, Yudha pun jadi teringat jika Jelita dulu sering main ke rumah Larasati.


Namun anehnya, kenapa saat dia bertemu dengan Jelita dia malah melupakan sosok wanita itu.


Tak lama kemudian, dia pun melihat Rendy datang dengan pacarnya. Mata Yudha langsung membulat dengan sempurna.


Kenapa juga ada orang di sana? Apakah Rendy pun diundang oleh Larasati?


Bahkan yang lebih membuat Yudha kaget lagi, dia melihat pak Arman, seorang sarjana hukum yang dulu membantu Larasati saat membuat Sertifikat rumahnya, sertifikat beberapa bidang tanah yang Larasati punya dan juga membuatkan sertifikat Resto untuk Larasati.


Dalam hati Yudha jadi bertanya-tanya, sebenarnya ada apa ini? Kenapa pesta ulang tahun untuk Satria terasa pesta kejutan untuk dirinya?


Perasaan Yudha mulai tidak enak, namun dia terus saja berpikir positif. Dia sengaja menyibukkan dirinya dengan mengajak putranya Satria untuk mengobrol dan bercanda.


Karena Larasati terlihat begitu sibuk menyambut para sahabatnya yang datang, begitu pun dengan Angga yang dengan sigap menawari sahabat Larasati untuk makan atau minum.


'semoga saja tidak ada hal yang tidak diinginkan terjadi padaku,' do'a Yudha dalam hati.


Karena waktu terus berjalan, akhirnya acara ulang tahun pun dimulai. Semua orang nampak berkumpul di sebuah panggung yang sudah disiapkan oleh Larasati.


Yudha pun dengan percaya dirinya menggendong Satria dan mendekati Larasati yang berada di sana.


Bahkan dia pun melewati Angga begitu saja, Angga hanya tersenyum lalu dia pun berdiri tak jauh dari Larasati dan juga Yudah.


Sebuah kue berukuran besar berbentuk super hero sudah terlihat dipasangkan lilin dan lilinnya pun sudah dinyalakan.


Tak lama kemudian, terdengarlah semua orang yang ada di sana menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Satria.


Setelah menyanyikan lagu ulang tahun, Larasati pun mendekatkan bibirnya ke cuping telinga Satria.


"Tiup lilinnya, Sayang," ucap Larasati.


"Ya, Buna."


satria menurut, balita tampan itu pun langsung meniup lilinnya. Bibirnya langsung mengerucut kala meniup lilin tersebut.


Karena sejak tadi Satria tak bisa juga memadamkan lilin tersebut, Yudha pun langsung membantu Satria meniup lilinnya.


Saat melihat lilin tersebut padam, Satria terlihat bersorak sambil bertepuk tangan.


"Yeeeeeeyyyyy!" teriaknya bahagia.


Yudha terlihat tersenyum Seraya mengacak lembut puncak kepala putranya, tak lama kemudian terdengar riuh teriakan 'potong kuenya'.


Satria tersenyum, lalu dia memandang Larasati.


"Buna." Satria terlihat meminta persetujuan kepada Larasati.

__ADS_1


Larasati tersenyum lalu dia mengambil pisau kue ulang tahun dan memegangnya bersama dengan Satria, kue pun terpotong, suara riuh sorakan terdengar dari orang-orang yang berada di sana.


"Suapan pertama kuenya, buat siapa, Sayang?" tanya Yudha.


Satria terlihat tersenyum, lalu dia mengambil sepotong kue dan menyerahkannya kepada Larasati.


Larasati pun langsung membuka mulutnya dan melahap kuenya.


"Enak," ucap Larasati.


Satria tersenyum, begitu pun dengan Yudha. Lalu, Yuda pun kembali berkata.


"Potongan kue ke dua buat siapa, sayang?" tanya Yudha.


Satria kembali tersenyum, lalu dia mengambil satu potong kue. Kemudian tanpa Yudha duga, dia malah meminta turun dari gendongan Yudha.


Yudha pun menurut, dia menurunkan putra tampannya itu.


"Ini buat Ayah," kata Satria.


Angga pun langsung berjongkok dan mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Satria, kemudian dia pun membuka mulutnya dengan lebar.


Dengan senang hati Satria memasukkan satu potong kue tersebut ke dalam mulut Angga.


"Enak, kan?" tanya Satria.


"Enak, apa lagi kamu yang suapin. Tambah enak," celetuk Angga.


Melihat keakraban antara Angga dan juga Satria, Yudha langsung mengepalkan kedua tangannya.


Dia merasa sangat kesal, namun sayangnya dia tak bisa berbuat apa-apa. Tak lama kemudian dia melihat Angga berbisik di telinga Satria.


Entah apa yang berondong itu ucapkan, namun Satria nampak tersenyum kemudian dia kembali mengambil 1 potong kue dan menyodorkannya ke arah Yudha.


Yudha terihat tersenyum, lalu dia pun langsung mengangkat tubuh Satria dan menggendongnya.


Hap!


Satu potong kue dari tangan Satria dilahap oleh Yudha, Satria langsung tertawa.


"Selamat ulang tahun, Sayang. Maaf jika Papa belum bisa jadi Papa yang baik untuk kamu," kata Yudha.


Satria yang belum mengerti apa pun, hanya bisa tersenyum sambil memandang wajah Yudha.


*


*

__ADS_1


*


Di part berikutnya ada kejutan untuk Yudha ya, tungguin siangan dikit. Semoga kalian masih mau menunggu dan membaca karya Othor ini. 😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘


__ADS_2