Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Tawaran Pekerjaan


__ADS_3

Yudha terlihat memerhatikan anak-anak yang terlihat begitu senang saat mendapatkan makanan dan juga mainan dari bu Airin, dia jadi teringat akan Putri dan juga Satria.


Dua malaikat kecil hasil buah cintanya dengan Larasati dan juga Jesicca, sebenarnya Yudha ingin sering-sering menemui kedua buah hatinya.


Namun, jika menemui Satria, dia merasa tidak enak hati kepada Jonathan. Takut-takut rumah tangga mantan istrinya itu akan terganggu dengan kehadirannya.


Jika dia menemui Putri sering-sering, dia juga takut ada orang yang akan berprasangka buruk pada Jesicca.


'Ya Tuhan, kalau aku diberikan kesempatan, aku ingin sekali sering-sering bermain dengan anak-anak Panti ini." Yudha berkata dalam hati.


Tanpa Yudha tahu, bu Airin terlihat memerhatikan raut wajah Yudha yang terkadang sendu, terkadang senang dan terkadang seperti orang kebingungan.


"Ada apa, Pak Yudha?" tanya Bu Airin.


"Eh? Tidak ada, Bu. Saya hanya senang saja bisa berada di tengah-tengah keceriaan anak-anak ini," kata Yudha berkilah.


"Oh, begitu. Kalau Pak Yudha tidak keberatan, tolong angkat lukisannya dan bawa sekalian ke dalam Panti," pinta Bu Airin.


"Iya, Bu. Boleh," jawab Yudha.


Yudha terlihat mengambil lukisannya yang berada di atas mobil bak terbuka, kemudian dia mengangkatnya satu persatu dan memasukkannya ke dalam Panti.


Tiba di dalam Panti, Yudha dibantu oleh orang-orang Panti memasangkan lukisan yang dia buat tersebut.


Setelah lukisan yang Yudha buat dipajang, anak-anak Panti nampak menghampiri Yudha. Mereka mulai bertanya.


"Hai, Om. Lukisannya bagus sekali, apakah Om yang buat?" tanya Zaky.


"Iya, Sayang. Om yang buat," jawab Yudha.


"Om keren, bolehkah aku belajar?" tanya Melda.


"Tentu saja boleh, kapan-kapan kalau Om ke sini lagi, Om akan membawa alat lukis," kata Yudha.


"Yah kirain bisa belajar sekarang," kata Rini dengan raut wajah kecewa.


Melihat raut wajah kecewa di wajah anak-anak Panti tersebut, Yudha terlihat tidak tega. Dia berusaha untuk menghibur anak-anak Panti tersebut.


Tanpa Yudha sadari, sedari tadi bu Airin memerhatikan obrolan antara Yudha dan juga anak-anak Panti kesayangannya.


Bu Airin nampak menghampiri Yudha, kemudian dia berkata.


"Pak Yudha, bolehkah saya bicara sebentar?" tanya bu Airin.


"Oh, boleh Bu. Mau bicara apa?" tanya Yudha.

__ADS_1


"Bagaimana kalau mulai besok Pak Yudha bekerja saja di sini, bisa?" tanya bu Airin


Mendengar pertanyaan dari bu Airin, Yudha nampak kaget sekali. Bekerja apa pikirnya, dia hanya lulusan SMA. Dia tidak bisa bekerja apa-apa, hanya bisa melukis saja.


"Maksud Ibu, saya bekerja apa?" tanya Yudha.


Bu Airin langsung terkekeh saat mendengar pertanyaan dari Yudha.


"Tentu saja anda bekerja sebagai guru lukis untuk anak-anak Panti," kata Bu Airin.


Anak-anak Panti terlihat bersorak saat mendengar penuturan dari bu Airin, mereka tidak menyangka jika Keinginan mereka untuk belajar melukis akan langsung diwujudkan oleh ibu dari setiap anak Panti yang ada di sana.


"Ibu serius?" tanya Winda.


"Ya," jawab Bu Airin.


"Yeeeeyyyy!" anak-anak Panti nampak bersorak kegirangan.


Padahal Yudha belum mengatakan 'Iya', namun anak-anak sudah terlihat sangat bahagia. Yudha menjadi tidak enak hati jika menolak tawaran dari bu Airin tersebut.


"Bagaimana Pak Yudha, apakah anda bersedia menjadi guru lukis?" tanya Bu Airin.


Yudha nampak terdiam, dia sedang memikirkan tawaran dari bu Airin.


"Anda jangan takut, karena saya akan menggaji anda dengan upah yang sangat besar," kata Bu Airin.


"Bagus, Pak Yudha mau tinggal di sini atau tinggal di tempat lain terserah saja. Yang terpenting Pak Yuda setiap harinya mengajarkan anak-anak untuk melukis dan menghibur mereka agar tidak bersedih karena ditelantarkan oleh kedua orang tuanya," kata Bu Airin.


"Iya, Bu. Pasti saya akan berusaha untuk membuat mereka senang," kata Yudha.


Yudha jadi berpikir, mungkin akan lebih baik jika dirinya tinggal di Panti saja. Karena dia bisa melihat keceriaan dari anak-anak Panti tersebut.


Hal itu bisa mengobati rasa rindunya terhadap Putri dan juga Satria.


"Sepertinya saya akan tinggal di Panti saja," kata Yudha.


"Itu lebih baik," jawab Bu Airin.


Tanpa basa-basi, bu Airin langsung meminta penjaga Panti untuk menyiapkan kamar. Tentunya kamar untuk Yudha tempati.


"Apa ini tidak berlebihan, Bu?" tanya Yudha.


Yudha sangat kaget karena ternyata Yudha diberikan kamar yang sangat bagus untuk tempat dia tinggal, bahkan Yudha juga diberikan ruang pribadi khusus untuk menyimpan alat-alat lukisnya nanti.


"Tentu saja tidak, mulai besok Pak Yudha sudah boleh tinggal di sini. Bawalah alat-alat lukisnya dengan segera," kata Bu Airin.

__ADS_1


"Ya, Bu," jawab Yudha penuh semangat.


Di lain tempat.


Larasati terlihat lemas sekali, sedari pagi tidak ada makanan yang bisa masuk ke dalam perutnya.


Dia merasa mual yang berlebihan, bahkan kepalanya terasa pusing dan tubuhnya terasa sangat gemetaran.


Jonathan bahkan sampai tidak bekerja, karena dia takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap istrinya tersebut.


Tuan Elias, sang daddy bahkan rela kembali masuk ke kantor untuk sementara waktu. Dia ingin menggantikan pekerjaan Larasati, rasanya dia tidak tega jika harus membiarkan putrinya tetap bekerja dalam keadaan hamil muda.


Nyonya Meera juga tidak kalah khawatir, dia terus saja mondar-mandir menanyakan apa yang ingin dimakan oleh Larasati.


Namun, setiap ditanya Larasati hanya menggelengkan kepalanya. Jonathan bahkan terlihat menghubungi dokter obgyn, apa yang seharusnya dilakukan saat ini.


"Yang, makanlah biar kata cuma sesikit," tawar Jonathan.


Kembali Larasati menggelengkan kepalanya, rasanya dia tidak berselera untuk makan. Bahkan mulutnya terasa sangat pahit.


"Yang, Jangan bikin aku khawatir. Jangan bikin aku merasa bersalah karena sudah membuat kamu hamil," kata Jonathan dengan wajah sendu.


Larasati langsung terkekeh saat mendengar penuturan dari Jonathan.


"Baiklah, Sayang. Aku akan makan, tapi aku mau buah yang diblender. Jangan terlalu halus, aku juga mau bubur dicampur suiran ayam dan juga taburan kacang mede di atasnya," kata Larasati.


Jonathan terlihat bersemangat sekali saat Larasati mengungkapkan keinginannya, karena sudah beberapa hari ini Larasati sangat sulit untuk makan.


Ya, walaupun keinginan istrinya itu termasuk rumit menurutnya. Tapi, tetap saja Jonathan sangat senang untuk menuruti keinginan pertama istrinya itu.


"Tunggu sebentar, jangan beranjak dari tempat tidur. Aku akan mencarikan pesanan kamu," kata Jonathan.


"Iya, Mas. Tapi kiss dulu," kata Larasati seraya memonyongkan bibirnya.


Jonathan tersenyum, lalu dia menautkan bibirnya ke bibir istrinya. Dia terlihat memagut bibir istrinya yang sedari kemarin tidak berani dia sentuh, karena dia takut jika dia akan menginginkan hal yang lebih dari itu.


Tak lama kemudian, Jonathan nampak melepaskan pagutannya. Kemudian, dia mengelus lembut bibir Larasati yang nampak basah karena ulahnya.


"Cepat sembuh ya, Sayang. Karena aku menginginkanmu," kata Jonathan.


Satu kecupan dia labuhkan di kening Larasati, Larasati tersenyum akan kelakuan manis dari suaminya, Jonathan.


BERSAMBUNG....


*

__ADS_1


*


Satu bab lagi untuk menemani waktu sebelum buka, dilanjut besok lagi. Othornya mau jadi istri soleha dulu, mau masak buat buka puasa.


__ADS_2