Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Roda Itu Berputar


__ADS_3

Yudha terlihat kesal, wajahnya muram dan bahkan sorot matanya menyiratkan amarah yang luar biasa.


Setiap hari dia selalu berlaga jika dialah bosnya, setiap hari dia selalu memarahi setiap orang yang dia rasa tak bisa bekerja di matanya.


Setiap hari dia selalu berpenampilan keren dan rapih, tak ada yang berpenampilan sekeren dia di dalam Resto itu.


Namun hari ini, dia begitu terkejut. Karena saat dia tiba di Resto, Rendy langsung meminta Yudha untuk mengganti setelan baju mahalnya dengan baju pelayan.


Saat Yudha hendak melayangkan protenya, Rendy pun langsung berkata.


'Maaf, tapi ini adalah perintah dari Nyonya Larasati sendiri. Saya hanya menjalankan perintah,' kata Rendy.


Yudha pun menurut, dia tak bisa berkutik. Karena saat dia hendak melayangkan protesnya, Rendy kembali berkata.


'Kalau anda tidak suka bekerja sebagai pelayan, anda boleh mengundurkan diri.'


Ah, Yudha benar-benar kesal bukan main. Apa lagi saat dia mengingat jika gaji pelayan hanya tiga juta delapan ratus ribu, uh... rasanya Yudha ingin mencari pekerjaan yang lain saja.


Akan tetapi, ijazahnya hanya SMA. Bahkan usianya pun sudah dua puluh sembilan tahun, rasanya akan sulit untuk mencari pekerjaan dengan ijazah dan umurnya itu.


Hari ini dia dimarahi dan ditertawakan, benar-benar hari yang menyebalkan bukan?


Rendy yang bisanya ada di bawahnya, kini lebih sering memarahi dirinya karena kesalahan yang dia lakukan.


Bahkan para pelayan yang biasa dia marahi menertawakan dirinya, dia dinilai tak mampu bekerja. Hanya bisa membuat kacau saja, karena ulah yang dia lakukan, banyak pelanggan yang marah dan kecewa saat makanan pesanannya jatuh.


Ada yang mau menunggu untuk mendapatkan ganti, ada juga yang marah dan pergi.


Beruntung hari sudah malam, kini dia pun sudah diperbolehkan untuk pulang oleh sang penerima amanat, Rendy.


"Ah akhirnya, bisa pulang juga. Sakit badan gue!" kata Yudha seraya meregangkan otot-otot lelahnya.


Yudha terlihat keluar dari Resto, dia terlihat akan pulang dan memesan taksi. Namun, tiba-tiba saja ada mobil sejuta umat berwarna merah yang berhenti tepat di hadapannya.


Tak lama pintu mobil nampak terbuka, Jesicca nampak melongokkan wajahnya.


"Masuk, Mas." Jesicca tersenyum manis padanya.


Dia tahu suaminya lelah, setidaknya dia bisa memberikan suport lewat senyumannya.

__ADS_1


"Ka--kamu, kenapa membeli mobil seperti ini?" tanya Yudha seraya celingukkan.


Dia sudah terbiasa memakai mobil mewah milik Larasati, dia merasa sangat malu saat Jesicca menjemputnya dengan mobil sejuta umat yang selalu dipakai oleh rata-rata masyarakat Indonesia.


"Masuklah dulu, biar nanti aku jelaskan," kata Jesicca.


Yudha menurut, dia langsung masuk ke dalam mobil dan duduk tepat di samping Jessica. Sorot matanya kini kian suram, dia benar-benar kesal dengan hidup yang dia alami saat ini.


"Jelaskan!" kata Yudha.


"Nanti aku jelaskan, sekarang kita pergi ke rumah baru kita dulu," ucap Jesicca.


Yudha tak berkata apa pun lagi, dia sudah malas dan juga lelah. Perasaan di hatinya pun kian menjadi gulungan emosi yang siap meledak kapan saja.


Setengah jam kemudian, mobil yang dikendarai Jesicca masuk ke dalam sebuah perumahan sederhana.


Rumah dengan tipe empat puluh menjadi pilihan Jessica, mengingat akan uang yang diberikan oleh Yudha kepada dirinya.


Ya sebelum bekerja Yudha meminta istrinya, Jessica untuk membeli rumah dan juga mobil memakai uang 1 miliar sisa dari tabungan Yudha.


Karena dia merasa, jika dia harus bekerja. Dia tidak bisa mencari rumah dan juga mobil sendiri, Jessica pun menyanggupi jika dia akan membeli rumah dan mobil sesuai dengan budget yang Yudha berikan.


Jesicca terlihat memarkirkan mobilnya, lalu dia pun mengajak Yudha untuk turun.


Walaupun terlihat bingung, Yudha menurut. Dia mengikuti langkah Jesicca untuk masuk ke dalam rumah yang terlihat sederhana tersebut.


"Duduklah, Mas," kata Jesicca.


Yudha pun menurut, dia duduk di ruang tamu tepat di samping Jesicca.


"Uang yang Mas berikan aku belikan rumah ini seharga enam ratus juta, ini sudah paling murah dan bagus. Mas pasti tahu jika harga rumah di ibu kota sangatlah mahal," kata Jesicca.


"Lalu?" tanya Yudha.


"Mobil yang kita pakai tadi aku beli dengan harga dua ratus enam juta, itu sudah paling murah juga. Sisanya tinggal seratus enam puluh juta," kata Jesicca.


"Loh, harusnya sisanya seratus sembilan puluh empat juta, kan? Kemana dua puluh empat jutanya?" tanya Yudha penuh selidik.


"Aku belikan perabotan rumah tangga, Mas. Sama keperluan dapur," jawab Jesicca.

__ADS_1


"Lalu, sisanya mana?" tanya Yudha.


"Sisanya mau aku pake buat modal usaha, Mas. Aku ingin membuat usaha kuliner, makanan siap saji sama minuman kekinian gitu, boleh ngga Mas?" tanya Jesicca.


"Ngga usah macem-macem pengen bikin usaha, modal ngga seberapa juga!" tolak Yudha.


"Tapi, Mas--"


"Bagaimana dengan Putri?" tanya Yudha.


"Ada bi Minah, lagi pula aku ingin membuat usaha kecil-kecilan. Di depan rumah masih ada tanah kosong, aku akan memanfaatkannya untuk usaha. Nanti kalau Putri mau enen, kan aku bisa dengan cepat menyusui Putri." Jesicca merayu Yudha.


"Terserah!" kata Yudha. "Tapi uang buat modalnya seratus juta saja, sisanya kasih aku. Buat pegangan sehari-hari," jelas Yudha.


"Mas, uang pegangannya jangan banyak-banyak," pinta Jesicca.


"Ngga bisa, kalau kamu ngga mau ya udah. Ngga usah bikin usaha sekalian," kata Yudha.


"Iya-iya," ucap Jesicca pasrah.


Jessica pun akhirnya mengajak Yudha ke dalam kamar mereka, lalu Jessica pun menyerahkan sisa uang yang enam puluh jutanya kepada Yudha.


"Nah, gitu dong. Ini baru adil, lagian kamu itu punya banyak simpenan emas. Kalau sewaktu-waktu kamu butuh uang, kamu tinggal menjualnya. Repot amat," kata Yudha.


Setelah mengatakan hal itu, Yudha langsung menyimpan uang tersebut dan segera melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


Dia sudah sangat lelah dan juga badannya terasa sangat lengket karna seharian bekerja, dia ingin segera mandi dan merebahkan tubuh lelahnya.


Setelah Yudha masuk ke dalam kamar mandi, Jessica terlihat keluar dari kamar tersebut. Dia pun langsung melangkahkan kakinya menuju kamar bi Minah, tentu saja tujuannya adalah untuk mengambil Putri yang dititipkan kepada bi Minah.


"Bi, ini aku," kata Jesicca seraya mengetuk pintu kamar bi Minah.


Tak lama kemudian pintu nampak terbuka, bi Minah terlihat keluar seraya menggendong Putri.


"Ini, Nyonya. Non Putri' nya tidur," kata Bi Minah


"Terima kasih, Bi." Jesicca langsung mengambil alih Putri dari gendongan Bi Minah.


"Sama-sama, Nyonya," jawab Bi Minah.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu, Jesicca langsung membawa Putri kedalam kamarnya. Setelah kepergian Jesicca, bi Minah tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Dulu saja sombongnya minta ampun, sudah jatuh saja, sekarang baru bisa menghargai orang lain," kata bi Minah seraya menutup pintu kamarnya.


__ADS_2