
Tiba di dalam Cafe, dia mengedarkan pandangannya. Tak lama kemudian, dia melihat sosok Larasati yang sedang tersenyum sambil melayani seorang pelanggan.
Yudha langsung menghampiri Larasati dan berhenti tepat di hadapannya, melihat kedatangan Yudha, dahi Larasati nampak mengernyit dalam.
"Ada apa, Mas?" tanya Larasati.
Yudha terlihat menjatuhkan tubuhnya, lalu dia berlutut dan bersimpuh di kaki Larasati. Larasati terlihat risih dengan apa yang dilakukan oleh mantan suaminya itu, bahkan dia sampai memundurkan langkahnya.
"Jangan seperti ini, Mas! Katakanlah apa yang sebenarnya terjadi, kamu mau apa?" tanya Larasati lagi.
Yudha terlihat menengadahkan wajahnya, lalu dia menatap wajah Larasati dengan wajahnya yang terlihat basah dengan air mata.
"Maafkan aku, ampuni aku dari semua kesalahan yang telah aku lakukan terhadap dirimu dan juga Satria," ucap Yudha tulus.
Semua pengunjung yang datang nampak saling berbisik, mereka terlihat menatap wajah Yudha dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Aku memaafkan kamu, Mas. Bangunlah! Jangan seperti ini, aku mohon," pinta Larasati.
Dia merasa malu sekali dengan apa yang dilakukan oleh mantan suaminya itu, tak ada rasa bangga di hatinya kala melihat kehancuran Yudha.
Dulu Larasati bersikukuh untuk datang kembali dan membalas dendam atas apa yang pernah Yudha lakukan terhadap dirinya, dia suka melakukannya.
Apa lagi saat semua aset miliknya kembali ketangannya, namun satu hal yang Larasati sadari, semua yang terjadi atas kehendak Sang Khalik.
Bahkan tanpa Larasati lanjutkan acara balas dendamnya pun, Yudha mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatannya.
Yudha memang masih bisa bersyukur jika Tuhan hanya memberikannya penyakit HIV. Namun, bagaimana cara masyarakat memandang dirinya? Bagaimana cara masyarakat saat berhadapan dengan dirinya?
Rasanya mata manusia akan terasa lebih menghunus, juga mulut manusia akan lebih terasa pedas. Bahkan akan terasa lebih tajam dibandingkan dengan sebilah pedang yang baru saja keluar dari pemahat terkenal di seluruh dunia sekalipun.
"Kamu benar-benar memaafkan aku?" tanya Yudha di sela isak tangisnya.
"Ya, bangunlah." Larasati segera menggeser letak tubuhnya.
__ADS_1
Yudha terlihat bangun dengan tubuhnya yang terasa sangat lemah, dia memang masih bisa sembuh.
Namun, jika tidak ada orang yang menguatkan dirinya. Jika tidak ada orang yang mensuport dirinya, Yudha tetap tidak mempunyai semangat untuk sembuh.
Apa lagi jika mengingat akan sikapnya yang benar-benar sudah membuat Larasati sakit hati, apa lagi jika mengingat kelakuannya terhadap Jesicca dan juga Putri.
Rasanya Yudha ingin mengakhiri hidupnya saja dengan bunuh diri, agar dia tidak malu. Sayangnya, dia masih mengingat jika bunuh diri itu dosa besar yang tidak akan diampuni.
Dia tidak mau menambah beban hidupnya dengan banyak dosa lagi, dia tak mau memberatkan hidupnya yang sudah bersimbah lumpur dosa.
"Terima kasih, aku sudah tenang sekarang. Aku tidak menyangka jika kamu akan memafkan aku," ucap Yudha dengan seulas senyum tipis di bibirnya.
'Hanya untuk kemanusiaan, Mas. Aku hanya manusia biasa, aku masih belum ikhlas untuk memaafkan kamu. Apa lagi saat mengingat kelakuan bejat kamu, Mas. Rasanya sakit,' ucap Larasati dalam hati.
"Hem, pergilah, Mas. Jangan membuat diri kamu malu, lanjutkan hidupmu dengan layak. Perbaiki semua kesalahan kamu," ucap Larasati.
"Terima kasih, Ra. Terima kasih," kata Yudha.
Yudha mendekati Larasati, dia ingin sekali menggenggam tangannya. Bukan untuk meminta Larasati kembali kepada dirinya, karena dia sangat sadar diri siapa dirinya.
Namun, tanpa terduga Angga langsung menghampiri Yudha dan menepuk pundaknya dengan pelan.
"Pulang ya, Bang. Ngga enak sama pengunjung, mereka dari tadi natap wajah Abang dengan raut bingung." Angga langsung menuntun Yudha untuk keluar dari Cafe.
Melihat akan hal itu, Larasati hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya memperhatikan kepergian Yudha.
Tiba di depan Cafe, Yudha langsung menaiki motor maticnya. Dia merasa badannya terasa lemas, dia ingin beristirahat.
"Lanjutkan hidup Abang dengan baik, jangan menganggu kehidupan Mbak Laras lagi. Dia sudah cukup menderita saat Abng usir dan Abang hina dulu," kata Angga.
Angga sangat mengingat dengan jelas di memori otaknya ketika Larasati menangis setiap malam karena begitu sedih diusir dan dihina oleh Yudha.
Bahkan, berulang kali Larasati sering menangis di dalam pelukan Angga kala mengingat Yudha yang sedang melakukan hubungan intim bersama dengan Jesicca.
__ADS_1
Angga sebenarnya masih merasa marah terhadap Yudha, ingin sekali dia memukul wajah Yudha hingga babak belur.
Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena Larasati pun terlihat begitu tenang dan bisa menunjukkan jika dirinya berkelas di hadapan Yudha.
"Ya, aku pergi." Yudha terlihat menstarter motornya, lalu kemudian dia pun pergi dari Cafe milik Larasati.
Angga terlihat menghembuskan napas berat, lalu dia pun membalikkan tubuhnya dan hendak masuk ke dalam Cafe kembali.
Namun langkahnya terhenti, kala tangan yang begitu lembut mencekal pergelangan tangannya.
"Aku boleh ikut masuk dan bantu kamu lagi, kan? Sekalian obatin wajah kamu yang masih berwarna biru, boleh? Kalau ngga boleh aku pulang aja," kata Mini yang entah sejak kapan berada di sana.
Sebenarnya Mini sudah datang dari tadi, dia bahkan melihat Angga yang membawa Yudha keluar dari Cafe.
Mini bahkan bisa melihat jika di mata Angga ada cinta yang begitu besar saat Angga menatap wajah Larasati, Mini baru menyadari kenapa Angga terlihat begitu cuek terhadap dirinya.
Semua itu karena dia menyimpan sebuah rasa yang tidak bisa untuk diungkapkan, rasa yang hanya bisa dia pendam dalam hati.
Satu hal yang Mini tahu, hal itu akan terasa sangat menyakitkan. Itu adalah hal yang tidak boleh dilakukan, memendam rasa yang tak terbalas hanya akan menyebabkan sakit yang berkepanjangan.
"Masuklah, kalau mau membantu. Lagi pula tenagamu juga lumayan membantu," jawab Angga.
"Ish! Aku mau dibayar, mulai sekarang aku mau bekerja di sini. Tapi ngga ge-ra-tis," kata Mini.
"Baiklah, nanti setiap bulannya akan aku gaji," ucap Angga dengan senyum tipis di bibirnya.
"Aku tidak mau dibayar dengan uang, aku maunya ditemenin kamu jalan-jalan setiap weekend tiba," ucap Mini seraya menyengir kuda .
"Mana ada yang seperti itu?" ucap Angga penuh protes.
"Ada Mas Angga, Sayang. Lagian Mas Angga ngga usah takut, aku cantik dan sangat menarik dilihat dari segi mana pun. Aku tidak akan membuat kamu malu saat kita bersama," kata Mini.
"Tetap saja itu permintaan konyol," kata Angga.
__ADS_1
Angga terlihat menepis pelan tangan Mini, kemudian dia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam Cafe. Mini tersenyum, lalu dia mengikuti langkah Angga.
'Lihat saja, Mas. Aku akan berusaha untuk menggantikan nama La-Ra-Sa-Ti di dalam hati kamu menjadi nama Michele Naima Huntler, tapi... jika aku tidak bisa menggapai hatimu, aku janji akan pergi dari hidup kamu, Mas." Kata Mini dalam hatinya.