
"Ehm, Mbak Jesicca. Boleh ngga kalau Putri saya yang gendong?" tanya Juki.
Jesicca terlihat menatap wajah Juki dengan lekat.
"Tidak usah, biar saya gendong aja. Takut merepotkan," kata Jesicca.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Jesicca, wajah Juki langsung berubah sendu.
Padahal, dia sangat berharap jika dirinya bisa menggendong dan mengecup pipi gembil putri dari Jesicca tersebut.
Terus terang setiap melihat Putri, Juki merasa melihat putrinya yang sudah tiada. Apalagi saat Putri tersenyum dan mengelus pipi Juki, hal itu membuat dia merasa terobati akan rasa rindunya kepada putrinya yang sudah tiada.
Bahkan karena dia begitu rindu terhadap Putri, Juki rela meminta dipindahkan ke kantor cabang kepada pemilik perusahaan tempat di mana dia bekerja.
Melihat wajah Juki yang berubah sendu, Jesicca jadi merasa bersalah. Dia tersenyum hangat kepada Juki, lalu dia menghampiri duda yang ditinggal meninggal oleh istrinya tersebut.
"Putri mau digendong sama Om Juki?" tanya Jesicca pada Putri.
Untuk sesaat Putri terlihat memandang wajah Juki, sedangkan Juki langsung bangun dari duduknya dan merentangkan kedua tangannya.
Wajah Juki terlihat begitu penuh harap, Putri tersenyum lalu menggoyang-goyangkan kedua kaki dan tangannya.
"Baba, Baba," celoteh Putri.
Mata Juki terlihat berkaca-kaca, dia langsung mengambil Putri dari gendongan Jesicca dan menyandarkan tubuh mungil itu di pundak Juki.
Dia elus punggung Putri, lalu dia kecup puncak kepala Putri. Jesicca terharu melihat akan hal itu, dia sadar jika Juki mungkin sedang merindukan putrinya.
Jesicca bahkan sampai meneteskan air matanya, namun dengan cepat dia menyusut air matanya dengan punggung tangannya.
Melihat Juki dan Jesicca yang nampak bersedih, bu Sari malah tersenyum. Lalu dia mulai membuka suara.
"Ehm, ibu laper, Juki. Bisa cepat kita makan?" tanya Bu Sari.
"Ah, iya, Bu. Makanlah," kata Juki seraya menyeka air mata yang turun begitu saja.
Bu Sari pura-pura tidak tahu dengan apa dan seperti apa bahagia yang Juki rasakan saat ini, dia langsung melahap makanan yang sudah tersedia di piringnya.
Juki langsung duduk dan mendudukan Putri di pangkuannya, Jesicca tersenyum lalu mengambilkan piring dan mengendokkan nasi untuk Juki.
"Ini, Mas. Makanlah!" ucap Jesicca.
__ADS_1
"Terima kasih, kamu juga makan. Putri biar aku yang gendong,"
Awalnya Jesicca ingin berkata tidak, karena dia tidak merasa enak hati kepada Juki. Namun, jika mengingat rona bahagia di wajah Juki dia tidak tega untuk mengatakan 'tidak'.
"Iya," jawab Jesicca pada akhirnya.
Bu Sari merasa sangat senang sekali, karena siang ini dia bisa merasakan makan siang bersama dengan Juki dan juga Jesicca bersama dengan putrinya.
Bahkan bu Sari juga sangat senang karena Juki bisa tertawa dengan riang saat melihat tingkah Putri yang begitu lucu dan menggemaskan.
Bu Sari sempat berpikir jika dia tidak akan melihat senyum di bibir putranya lagi, namun ternyata dia salah.
Justru Juki kini sedang tertawa dengan riang bersama dengan Putri, bahkan dia seolah tidak memedulikan keberadaan bu Sari dan juga Jesicca.
Jesicca tersenyum saat dia bisa mengobati luka yang terlihat jelas di wajah Juki, dia bisa merasakan jika di mata Juki tersimpan kerinduan yang teramat dalam untuk istri dan juga putrinya.
Jesicca kini merasa senang, karena Putri bisa mengobati luka dan juga bisa mengobati rasa rindu Juki terhadap putrinya yang sudah tiada.
"Hey, makanannya jangan dilihatin terus. Makanlah!" kata Juki.
Jesicca yang sedari tadi hanya fokus memperhatikan Juki dan juga Putri, terlihat malu-malu karena ketahuan.
"Iya, Mas," jawab Jesicca.
Waktu terus berputar, hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Jonathan yang merasa sudah selesai dengan pekerjaannya langsung mengambil kunci mobilnya, dompet beserta handphone.
Lalu, dia melajukan mobilnya menuju perusahaan Dinata. Dia ingin menjemput istrinya, Larasati.
Tiba di perusahaan Dinata, Jonathan langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan Larasati karena dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya tersebut.
Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, Jonathan langsung membuka pintu ruangan milik Larasati dengan perlahan.
Lalu, dia segera menghampiri Larasati yang sedang duduk anteng sambil memegang ponsel di tangannya.
"Hai, Sayang. Kamu sedang apa?" tanya Jonathan.
Jonathan langsung duduk tepat di samping Larasati, kemudian dia menarik lembut tubuh istrinya ke dalam dekapan hangatnya.
"Habis telponan sama Satria, katanya dia minta dibeliin martabak kalau kita pulang." Larasati mengelus dada suaminya dengan gerakan sensual.
"Ya ampun, Sayang. Jangan mancing-mancing, nanti aku ngga tahan," kata Jonathan seraya menangkap tangan istrinya lalu mengecupinya dengan lembut.
__ADS_1
"Maaf, Yang," kata Larasati.
Bibirnya memang berkata maaf, namun tangannya terlihat turun dan mengusap perut Jonathan. Lalu berakhir dengan meremat milik Jonathan yang terlindung di balik kain pengamannya.
Untuk sesaat mata Jonathan terlihat memejam, tangannya bahkan terlihat mencengkram paha istrinya dengan lembut.
Dia sedang menikmati sensasi rasa yang datang dengan penuh rasa nikmat dan juga kini dirinya mulai terpancing gairah.
"Sayang, hentikan!" pinta Jonathan kala merasakan tangan Larasati yang terus saja mengusap miliknya dengan gerakan memutar.
Jonathan bahkan tidak sadar kapan kain penutup bagian bawahnya terbuka, karena yang kini dia rasakan tangan Larasati terlihat meremat miliknya dan menggerakan tangannya naik turun.
"Ya ampun, Sayang. Jangan macam-macam, nanti aku beneran bakal makan kamu sekarang juga." Jonathan terlihat frustasi.
Larasati tak menggubris apa yang diucapkan oleh Jonathan, dia malah duduk di lantai dan mulai bermain dengan milik suaminya yang sudah mengeras bagaikan tangkai pohon.
Tak lama kemudian Larasati terlihat membenamkan milik suaminya ke dalam liang bergerigi miliknya, dia gerakan secara konstan bibirnya tersebuat.
Hal itu membuat Jonathan merem-melek keenakan, rasanya dia tak ingin melewati rasa yang begitu nikmat itu.
Menurutnya, Larasati begitu pandai memuaskannya. Bahkan saat di manapun Jonathan memintanya, Larasati begitu lihai memuaskan dirinya.
Terkadang dia berpikir dan bertanya, kenapa Yudha bisa mengatakan jika Larasati tidak pandai dalam urusan bercinta?
Bahkan dia pernah mendengar Yudha saat menjelekan Larasati, Yudha berkata jika istrinya tersebut tidak pernah bisa memberikan service terbaik untuk suami.
Padahal yang Jonathan rasakan, Larasati begitu pandai membuat dirinya bisa merasakan yang namanya indahnya surga dunia.
"Udah, Yang. Aku ngga tahan," kata Jonathan.
Jonathan terlihat bangun dan mengunci pintu ruangan kerja Larasati, kemudian ia kembali menghampiri sang istri dan melucuti pakaian milik istrinya.
Lalu, Jonathan terlihat mengangkat tubuh Laraseti dan membenamkan miliknya ke dalam liang kelembutan milik istrinya.
"Ya ampun, Mas," kata Larasati setengah berteriak saat dia merasakan milik suaminya yang terbenam sempurna di dalam dirinya.
Rasanya begitu sesak, namun berganti menjadi nikmat karena Jonathan mulai menghentak Larasati dari bawah.
Bersambung....
*
__ADS_1
*
Selamat hari jum'at, semoga makin semangat dalam melaksanakan ibadah puasa.