
Juki langsung keluar dari kamar kostan Jesicca, napasnya terengah. Dadanya terlihat naik turun dan matanya terlihat mengerjap tak percaya.
Jika boleh jujur, badan Juki kini terasa sangat lemas. Apa lagi saat melihat paha mulus Jesicca dan juga dada Jesicca yang terlihat begitu besar seakan hendak tumpah karena handuk yang dia pakai hanya menutupi setengah bagian dari dada Jesicca.
"Ya Tuhan, godaan pa lagi ini? Apa benar kata ibu jika aku harus menikahi Mbak Jesicca? Aku bisa gila kalau terus melihat hal itu," keluh juki lirih.
Juki terlihat menggelengkan kepalanya beberapa kali, lalu dia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamarnya. Lebih tepatnya dia langsung berlari.
Tiba di dalam kamarnya, Juki langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Matanya memandang langit-langit kamar, sedangkan tangan kanannya terlihat mengelus dadanya yang terasa berdebar tidak karuan.
Sesekali dia terlihat menghela napas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan. Dia berusaha mengatur napasnya yang terasa tercekat di tenggorokan.
"Ya Tuhan, aku benar-benar merasa seperti anak abege labil yang baru pertama kali melihat anak perawan," kata Juki lirih.
Juki terkekeh dengan apa yang dia ucapkan sendiri, dia benar-benar tidak menyangka jika wanita seperti Jesicca mampu menggetarkan hatinya.
Walaupun Juki juga belum yakin dengan apa yang dia rasakan terhadap Jesicca saat ini, dia takut jika itu bukan cinta, namun hanya karena lapar mata saja. Karena selama ini Juki memang sudah lumayan lama menduda.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamar Juki terdengar ada yang mengetuk, tentu saja Juki tahu siapa pelakunya. Karena itu sudah pasti adalah bu Sari, pikirnya.
"Sebentar," sahut Juki.
Juki segera bangun, lalu dia turun dari tempat tidurnya. Dia melangkahkan kakinya menuju pintu dan membukakan pintu kamar tersebut.
Saat pintu terbuka, nampaklah bu Sari yang sedang tersenyum hangat kepada dirinya. Juki langsung membalas senyuman bu Sari.
"Ada apa, Bu?" tanya Juki.
Mendengar pertanyaan dari putranya, bu Sari nampak terkekeh.
"Seharusnya ibu yang bertanya, bukan kamu," ucap bu Sari.
Mendengar apa yang diucapkan oleh bu Sari, Juki nampak berdecak.
"Seharusnya ibu yang aku tanya, karena ibu yang sudah datang ke kamarku. Jadi, ada apa bu Sari yang cantik?" tanya Juki.
Bu Sari langsung tertawa kala Juki mengatakan hal tersebut.
"Kamu tuh, ya. Ibu mau bertanya, kenapa kamu lari-lari seperti orang gila? Apa kamu melihat setan?" tanya bu Sari.
Mendengar pertanyaan dari Ibunya, Juki langsung tertawa seraya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tentu saja bukan, mana mungkin siang-siang begini ada setan!" sergah Juki.
"Lalu, ada apa? Kenapa kamu lari terbirit-birit seperti itu?" tanya bu Sari.
"Sepertinya Ibuku ini sangat penasaran sekali, baiklah! Aku akan menceritakannya," kata Juki.
"Ya Ibu tunggu," kata bu Sari.
Juki terlihat mendorong kursi roda bu Sari menuju ruang keluarga, tiba di ruang keluarga Juki langsung duduk tepat di hadapan bu Sari. Lalu, dia menatap wajah bu Sari dengan lekat.
Sebenarnya dia sangat bingung, haruskah dia menceritakan apa yang sudah terjadi terhadap dirinya atau tidak.
Karena hal itu sangat memalukan baginya, namun kalau tidak diceritakan bu Sari pasti akan terus bertanya.
Namun, Juki merasa bingung harus memulai ceritanya dari mana. Semuanya sangat membingungkan, bahkan yang Juki takutkan dia akan langsung dinikahkan jika dia berterus terang dengan apa yang sudah terjadi barusan.
"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya bu Sari.
"Tidak ada, tadi aku hanya kaget saja." Juki mengelus lembut tangan Bu Sari.
Merasa tidak mendapatkan jawaban yang pasti dari putranya, bu Sari kembali bertanya.
"Kaget kenapa?" tanya Bu Sari.
"Kenapa sih, ada apa?" tanya Bu Sari semakin bingung.
"Nanti saja aku ceritakan, Ibu harus tidur siang dulu." Juki bangun dan hendak mendorong kursi roda yang dipakai oleh Bu Sari.
Namun sayangnya gerakan Juki terhenti kala dia mendengar suara seorang pria yang mengucapkan salam di depan rumah bu Sari.
Baik Juki ataupun bu Sari sangat mengenal suara tersebut. Siapa lagi kalau bukan Ridwan, pelakunya.
"Sepertinya itu Ridwan, Bu. Mau apa dia kemari?" tanya Juki.
"Mana ibu tahu, mending kita samperin," jawab Bu Sari.
Juki menurut, dia mendorong kursi roda yang diduduki oleh bu Sari menuju depan rumahnya.
Benar saja, Ridwan terlihat sedang duduk di kursi yang ada di teras seraya membawa kantong plastik besar di tangannya.
Melihat kedatangan Juki dan juga bu Sari, Ridwan langsung bangun dan mencium punggung tangan bu Sari juga Juki secara bergantian.
Untuk sesaat Juki memindai penampilan Ridwan yang dirasa sangat rapi, Ridwan terlihat memakai kemeja kotak-kotak berwarna hitam dan biru yang dipadupadankan dengan celana jeans berwarna hitam.
__ADS_1
Rambutnya pun terlihat baru saja dicukur, penampilannya benar-benar sangat fresh. Juki menjadi curiga, jika dia merubah penampilannya karena ingin menemui Jesicca dan juga Putri.
"Kamu mau kemana? Ini weekend, kenapa kamu terlihat seperti mau melamar pekerjaan?" tanya Juki.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Kakak sepupunya tersebut, Ridwan nampak menampilkan deretan gigi putihnya.
"Bukan mau melamar kerja, Bang. Aku mau melamar Ibunya Putri," kata Ridwan dengan cengir kudanya.
Mendengar akan hal itu, Juki menjadi ketar-ketir. Dia langsung memasang kuda-kuda, tentunya bukan dengan jurus silat, namun dengan ucapan.
Ah Babang Juki ini memang aneh, bilangnya ngga cinta. Tapi takut jika ada lelaki lain yang hendak mendekati Jesicca.
"Lalu apa itu yang kamu bawa?" tanya Juki seraya menunjuk plastik berukuran besar ditangan Ridwan dengan ekor matanya.
"Tentu saja ini oleh-oleh untuk Putri, mainan dan juga camilan," kata Ridwan.
Bu Sari hanya tersenyum tipis melihat obrolan antara putra dan keponakannya tersebut, dia bahkan memperhatikan wajah Juki yang terlihat cemas saat melihat kedatangan Ridwan.
Apalagi saat dia tahu niat dan tujuan dari sepupunya tersebut, Juki nampak seperti resah dan gundah.
"Waah, sayang sakali. Putrinya sedang tidak ada, lebih baik kamu pulang saja," kata Juki.
Raut wajah Ridwan langsung sendu saat mendengar jawaban dari Juki, padahal dia benar-benar sudah mempersiapkan hari ini untuk bertemu dengan ibu dari Putri tersebut.
"Yang bener, Bang? Aku tidak percaya, di mana letak kamar kostnya? Biar aku pastikan," kata Ridwan.
Juki nampak panik kala Ridwan mengatakan hal tersebut, dia langsung menghampiri Ridwan dan mendorong tubuh Ridwan agar menjauh dari rumahnya tersebut.
"Lebih baik kamu pergi saja, lain kali ke sini lagi. Putri tidak ada, apa lagi ibunya," kata Juki.
Ridwan terlihat hendak mengatakan sesuatu, namun mulutnya langsung mengatup kala melihat Jesicca yang keluar dari kamar kostannya seraya menggendong baby cantik, putrinya.
"Abang bohong," kata Ridwan seraya mendorong tubuh Juki.
Ridwan langsung berlari dan menghampiri Jesicca, Juki semakin resah dibuatnya.
BERSAMBUNG....
Hayo, ada yang penasaran ngga sama kisah kelanjutannya dari Babang Juki?
Ditunggu ya, jangan kita biarkan ada pertengkaran diantara Ridwan dan juga Babang Juki.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, guyz. Selamat sore, selamat bergelut di dapur buat ibu-ibu yang hendak memasak untuk buka puasa.
__ADS_1
Othor juga mau masak dulu, mau jadi istri soleha dulu, nanti aku up satu bab lagi. Tapi, Setelah kelar masak. Semoga kalian tidak bosan-bosannya dengan karya receh Othor yang sedang belajar merangkak ini.