Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Sudah Tidak Ada Rasa


__ADS_3

Jonathan terlihat memarkirkan mobilnya tepat di depan Cafe, dengan cepat dia turun agar bisa membukakan pintu untuk Larasati.


"Terima kasih, Mas." Larasati turun dari mobil dan langsung memeluk lengan Jonathan.


"Sama-sama, Sayang." Jonathan langsung mengajak Larasati untuk masuk ke dalam Cafe.


Tiba di dalam Cafe, Larasati dan Jonathan langsung meminta Angga untuk duduk bersama. Begitupun dengan bi Narti.


"Ada apa ini?" tanya Bi Narti.


Bi Narti terlihat khawatir jika dirinya melakukan kesalahan bersama dengan Angga, karena Larasati tak seperti biasanya meminta mereka untuk duduk bersama seperti ini. Terkesan resmi sekali.


Larasati terlihat tersenyum saat melihat kegundahan di wajah bi Narti, dia tahu jika bi Narti seperti seorang yang sedang ketakutan.


"Jangan tegang seperti itu, Bi. Aku mengajak Bibi dan juga Angga untuk duduk di sini bukan untuk membahas sesuatu hal yang akan membuat kalian takut," kata Larasati seraya terkekeh.


Terlihat bi Narti menghembuskan napas lega, karena ternyata dia dan Angga disuruh duduk bersama bukan untuk dimarahi.


"Lalu, ada apa? Kenapa wajah kamu seperti sangat serius?" tanya Bi Narti.


Larasati tersenyum, kemudian dia berkata.


"Aku hanya ingin meminta tolong kepada kalian, Daddy Elias memintaku untuk mengurus perusahaannya. Bisakah kalian mengurus Cafe ini untukku?" pinta Larasati dengan penuh harap.


Angga terlihat senang, karena dengan seperti itu otomatis gajinya akan naik. Angga akan lebih mudah untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah.


"Tentu saja aku akan melakukan apa yang Mbak minta," jawab Angga.


Mendengar ucapan Angga, Jonathan langsung berkata.


"Ehm, bukan karena masih ada ra--"


Jawaban Jonathan nampak terhenti, karena Angga dengan cepat menyelak.


"Bukan, bukan. Ini murni karena ingin bekerja dan belajar bertanggung jawab, hatiku sudah untuk Michele," jawab Angga.


Mendengar jawaban dari Angga, Jonathan nampak tersenyum. Berbeda dengan Larasati yang nampak tidak paham, karena penasaran dia lalu bertanya.


"Sebenarnya ada apa? Perasaan apa? Kenapa aku tidak tahu?" tanya Larasati.


Angga terlihat menegakkan tubuhnya, dia memandang Larasati lalu berkata.


Mbak tidak usah tahu," jawab Angga.


Larasati terlihat menatap Angga dan juga Jonathan secara bergantian, Jonathan terkekeh. Lalu, dia pun mengelus lembut punggung istrinya tersebut


"Tidak usah dipikirkan, yang lalu biarlah berlalu," kata Jonathan.


"Memangnya ada apa sih? Apa yang aku tidak tahu?" tanya Larasati.

__ADS_1


"Sudahlah, Yang. Kamu tidak usah banyak pikiran. Lebih baik sekarang kamu mulai bekerja, aku juga harus pergi ke Rumah Sakit," kata Jonathan.


"Baiklah," jawab Larasati pasrah walaupun hatinya sangat penasaran.


"Ehm, tunggu dulu, Mbak. Kalau aku yang mengelola Cafe, gaji aku naik dong?" tanya Angga.


Larasati terlihat tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, lalu Larasati berkata.


"Ngga naik gaji, adikku Sayang," kata Larasati.


"Yah," kata Angga kecewa.


"Tapi, jadi sistem bagi hasil. Kamu kelola Cafe, aku akan menerima setiap hasil pendapatan dari Cafe yang kamu kelola," kata Larasati.


"Waah, kalau seperti itu, aku dapet uang banyak dong, Mbak?" kata Angga.


"Tentu saja, karena kamu yang cape." Larasati tersenyum senang melihat kebahagiaan di wajah Angga.


"Jadi nikah aku kalau kaya gini," kata Angga lantang.


"Ya ampun, otaknya jadi geser gara-gara Mini," kata Jonathan.


"Mas!" seru Larasati.


"Maaf, Sayang. Kalau gitu aku berangkat dulu," pamit Jonathan seraya mengecup bibir istrinya.


"Ya, ya, ya. Aku paham," kata Jonathan.


Setelah berpamitan kepada istrinya, Jonathan nampak berlalu dari Cafe. Larasati langsung mulai bekerja, begitupun dengan Angga dan juga bi Narti.


Angga terlihat bekerja dengan semangat, karena niatnya untuk menikahi Mini seakan sudah mendapat jalan kemudahan dalam soal biaya.


Sebenarnya dia bisa saja melamar untuk bekerja di sebuah perusahaan ternama, karena Angga merupakan lulusan terbaik universitas negeri ternama di daerah jawa tengah.


Namun, dia merasa tidak enak hati jika meninggalkan Cafe milik Larasati. Karena walau bagaimanapun juga, Larasati sudah dia anggap sebagai orang yang penting dalam hidupnya.


Walau pada kenyataannya, hatinya sudah berpaling pada Michele Naima Huntler.


Di kampung bi Minah.


Bi Minah terlihat menatap heran ke arah rumah Jessica dan juga warungnya, karena waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi.


Namun, Jesicca belum juga membuka warungnya. Bahkan rumahnya terlihat tertutup dengan rapat.


Bi Minah menjadi resah, dia takut jika Jesicca sedang sakit. Karena tak biasanya Jesicca menutup diri di dalam rumahnya.


"Kenapa belum buka warung? Kenapa juga Amalia belum datang? Apa dia sedang mengurus Amira?" tanya Bi Minah lirih.


Ya, semenjak kejadian itu, Amira mengalami syok berat. Dia harus menjalani terapi selama dua minggu berturut-turut, alhasil Amalia tidak bisa meninggalkan Amira sendirian.

__ADS_1


Jika dia datang ke rumah Jesicca, dia akan membawa serta Amira bersama dengan dirinya.


Bi Minah lalu mengetuk pintu rumah Jesicca, namun tak ada jawaban. Karena penasaran, bi Minah langsung memutar knop pintu rumah Jesicca.


"Tidak terkunci, berarti Jesicca ada di dalam," kata Bi Minah.


Bi Minah terlihat masuk ke dalam rumah jesicca, dia pun memanggil-manggil nama Jesicca. Namun, sayangnya tak ada jawaban.


Jesicca di sana. Dia pun memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Jesicca, kamar tersebut nampak rapi.


Namun, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Bi Minah menjadi tak enak hati, dia takut terjadi sesuatu terhadap Jesicca dan juga Putri.


"Kemana, mereka?" tanya Bi Minah lirih.


Tak lama kemudian, tatapan matanya terpaku kepada amplop yang berada di atas meja rias. Bi Minah segera melangkahkan kakinya menuju meja rias dan mengambil amplop tersebut.


Dengan perlahan dia membuka amplop tersebut, lalu dia mengeluarkan secarik kertas yang ada di dalam amplop tersebut.


Teruntuk


Bi Minah yang cantik.


Assalamualaikum, Bi.


Maaf kalau Jesicca dan Putri pergi tanpa pamit, karena aku tidak mau membuat Bibi dan juga keluarga terancam.


Kang Maman sudah berhasil kabur dari penjara, dia mengancam akan memperkosa aku jika aku tidak pergi dari kampung ini.


Maafkan aku dan terima kasih karena Bibi selalu saja baik sama aku, Bibi sudah seperti ibu buat aku.


Aku titip rumah ya, Bi. Aku juga titip warung, tolong Bibi kelola dengan baik. Aku dan Putri sayang Bibi, jaga kesehatan ya, Bi. Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali.


Salam sayang



Jesicca


"Astagfirullah, jadi si Maman kabur dari penjara!" pekik Bi Minah. "Kasihan sekali kamu, Neng. Hidup kamu banyak sekali cobaannya," kata Bi Minah lirih.


Raut wajah Bi Minah terlihat khawatir, dia benar-benar takut terjadi sesuatu terhadap Jesicca dan juga Putri.


"Ya Tuhan, semoga Jesicca dan juga putri selalu ada dalam lindungan engkau," do'a Bi Minah.


*


*


Selamat sore, selamat beristirahat. Othor mau meminta maaf jika ada perkataan Othor yang menyinggung perasaan kalian, sebentar lagi mau puasa. Mohon dimaafkan, ya....

__ADS_1


__ADS_2