Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan
Menurunnya Kondisi Tubuh


__ADS_3

Naas saat dia hendak melangkahkan kakinya, dia malah tersandung kaki meja. Alhasil dia pun langsung jatuh tepat di pangkuan Angga.


Refleks Mini langsung memeluk leher Angga dengan erat, hal itu membuat Angga berteriak kesakitan.


"Aaaakh!" jerit Angga.


Mendengar jeritan Angga, Mini langsung bangun dari pangkuan Angga. Kemudian dia mengusap-usap wajah Angga dan juga mengusap bahu Angga.


''Mana yang sakit? Apanya yang sakit?" tanya Mini seraya terus saja mengusap-usap wajah Angga.


Sontak hal itu membuat Angga semakin meringis kesakitan, karena lukanya yang masih membengkak terkena gesekan tangan Mini.


"Jauhkan tanganmu itu! Kamu menyakitiku," ucap Angga.


Mini langsung menegakkan tubuhnya, dia juga menjauhkan tangannya dari wajah Angga. Wajahnya menunduk dan air matanya mulai merembes.


"Maaf, maafkan aku," pinta Mini.


Angga sempat melirik ke arah Mini, ada rasa kasihan pada anak manja nan bar-bar itu. Namun, saat ini Angga ingin sendiri.


"Aku memaafkan kamu, sekarang pulanglah. Semakin lama kamu di sini, lukaku tidak akan membaik," ucap Angga lembut.


Angga terlihat mengambil es batu dan membalutnya dengan sapu tangan, lalu dia kembali mengompres wajahnya.


Mini terlihat berdecak, karena Angga benar-benar seperti tak memedulikan dirinya. Dia mengusap air matanya dan berkata.


"Aku pulang!" pamit Mini.


"Hem," jawab Angga tak menoleh.


"Ish! nyebelin.


Mini langsung menghampiri Angga dan mengecup kening Angga, melihat kelakuan Mini, Angga nampak mengerjapkan matanya.


Dia benar-benar tak percaya jika di dunia ini ada gadis yang begitu bar-bar seperti Mini.


"Cepat sembuh, ya? Maafkan daddy'ku," kata Mini dengan senyum terbaiknya.


"Ya Tuhan! Sebenarnya kamu masih gadis atau sudah bolong? Yang janda saja mampu menjaga harga dirinya," ucap Angga seraya menggelengkan kepalanya.


"Bodo! Aku seperti ini hanya kepadamu," ucap Mini.


Deg!


Jantung Angga seakan berhenti berdetak, dua kali dia mendengar kalimat ini. Tapi, di mana dia pernah mendengarkannya? Siapa yang mengatakannya? Angga lupa.


Mini yang seolah tak memedulikan apa pun yang dikatakan oleh Angga, dia lebih memilih keluar dari dapur dan berniat untuk pulang ke kediaman om Hendry.


Karena sebenarnya dia sudah merindukan sosok lelaki paruh baya tersebut, dia ingin segera minta maaf kepada daddynya.


Saat dia hendak keluar dari Cafe tersebut, dia berpapasan dengan bi Narti. Mini tersenyum, kemudian dia pun memeluk bi Narti dengan erat.


"Aku pulang dulu ya, Bu. Maaf sudah merepotkan, maaf sudah membuat kekacauan. Maaf atas sikap daddy," ucap Mini.


Mendapatkan perlakuan manis dari Mini, bi Narti terlihat tersenyum. Kemudian dia melerai pelukannya dan menatap wajah Mini dengan lekat.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, sekarang pulanglah! Temui daddymu," kata Bi Narti.


bi Narti terlihat merogoh saku dasternya, kemudian dia pun mengambil uang pecahan seratus ribuan sebanyak dua lembar.


"Ini buat ongkos kamu naik taksi," ucap Bi Narti.


Mata Mini terlihat berkaca-kaca, karena ternyata bi Narti terlihat begitu perhatian terhadap dirinya.


"Terima kasih, Bu. Ibu baik sekali terhadap Mini," ucap Mini seraya terisak.


"Jangan menangis, nanti hidung kamu malah hilang," goda bi Narti.


Mini terkekeh disela isak tangisnya, kemudian dia kembali memeluk bi Narti.


"Ibu bisa saja, kalau begitu aku pamit," kata Mini.


Mini melerai pelukannya, kemudian dia pun pergi dari Cafe tersebut. Tiba di luar di mencegat taksi dan segera pergi menuju kediamannya.


Di Lain tempat.


Sudah beberapa hari ini Yudha memulai kehidupannya seperti dulu, dia melukis di taman berharap ada pengunjung yang membeli hasil karyanya.


Ada beberapa karya lukis yang sudah jadi yang dia pajang di sana, berharap ada pejalan kaki yang berminat untuk membeli lukisannya.


Saat sedang asik melukis, dia merasa dadanya terasa sesak. Bahkan dia juga merasa sering pusing, mual dan juga dia gampang sekali flu.


Bangun tidur hawa terasa dingin, hidungnya akan gampang ingusan. Kurang tidur sedikit saja dia akan merasa pusing dan mual, nafsu makan jadi berkurang.


"Sebenarnya aku ini kenapa? Kenapa akhir-akhir ini aku merasa daya tahan tubuhku seakan menurun? Apa aku harus periksa ke dokter? Atau mungkin aku harus ke apotek untuk membeli vitamin? Ah, itu akan lebih baik." Yudha terlihat bermonolog sendiri.


"Bang lukisan yang ini dijual berapa?'' tanyanya.


Yudha menghentikan kegiatannya dan dia mendongakkan kepalanya, dia melihat ada seorang pria muda yang sedang memperhatikan lukisan alam hasil karyanya.


Lukisannya terlihat begitu indah, nampak nyata seperti asli. Pria muda itu nampak jatuh cinta pada hasil karyanya.


"Enam ratus ribu,'' jawab Yudha.


"Jangan mahal-mahal, Bang. Saya cuma mahasiswa, empat ratus ribu aja, ya?" pria muda itu nampak bernegosiasi.


"Kalau mau, gope ambilah," kata Yudha.


Pria muda itu nampak menimbang-nimbang, lalu dia terlihat menganggukkan kepalanya.


"Boleh deh, Bang," ucapnya.


Pria muda itu nampk merogoh saku celananya, kemudian di mengambil dompet dan memberikan uangnya kepada Yudha.


Yudha nampak senang, karena akhirnya lukisan yang dia buat ada juga peminatnya.


"Terima kasih," kata pria muda tersebut.


"Sama-sama," jawab Yudha.


"Oiya, Bang. Maaf Kalau saya lancang, muka Abang pucet, tubuh Abang juga kek kurang sehat gitu. Abang kaya yang kena penyakit TBC, periksa Bang. Takutnya nanti tambah parah," kata pria itu.

__ADS_1


"Ah, iya. Nanti saya akan periksa," ucap Yudha.


"Saya pamit ya, Bang," ucap pria muda itu seraya membawa lukisannya.


Setelah kepergian pria muda itu, Yudha nampak merenung. Apa mungkin dia terkena penyakit TBC, atau mungkin dia terkena penyakit lainnya?


''Heh!"


Terdengar helaan napas berat, Yudha kemudian memutuskan untuk mengakhiri acara melukisnya. Lagi pula hari sudah sore, dia ingin segera beristirahat karena tubuhnya terasa lemas.


🍒🍒


Keesokan paginya.


Yudha terbangun dari tidurnya, dia yang merasa lapar langsung mencuci muka dan berniat untuk mencari sarapannya.


Dia berjalan menyusuri jalanan dekat taman yang biasa menjajakan menu sarapan di pagi hari, tak lama dia melihat ada tukang lontong sayur.


Yudha pun segera menghampiri pedagang tersebut, pikirnya akan terasa enak memakan lontong sayur panas-panas di pagi hari.


"Bu, lontong sayurnya satu," ucap Yudha memesan.


"Siap!"


Yudha terlihat duduk seraya menunggu pesanannya jadi, saat sedang asik menunggu. Dia mendengar beberapa orang yang sedang asik makan seraya bercerita.


"Elu tahu ngga? Tadi malam ada cewek mati sama lima preman di taman," kata si A.


"Masa sih, kok gue ngga denger?" tanya si B.


"Iya, matinya me-nge-nas-kan. Mereka lagi gituan, kayaknya mereka habis pada minum terus gitu deh," kata si A seraya menggedikkan kedua bahunya..


"Eh, tapi gue denger para preman itu mati karena overdosis. Abis minum obat gituan sama itu cewek, kalau ceweknya mati karena positif AIDS," kata si C menimpali.


"Iih! Serem ya?" kata si B.


"Hooh, pasti beritanya viral deh. Soalnya malem banyak yang ngeliput gitu, gue lihat di internet aja udah ada pemberitaannya," kata si C.


*


*


*


**Bersambung....


❤❤❤❤


Oh Iya, buat kalian suka bilang pegel dan cape nunggu upnya lama, maafkeun Othor. Karena ini novel On going, cerita bersambung kalau sinetron mah.


Kalau mau baca novel yang ngga putus-putus, kaleyan bisa baca novel TAMAT ya. Cari tanda End di pojok sampul. 🙏🙏🙏🙏🙏🙏


Jangan lupa sebar Votenya ya, Like, Koment, Hadiah dan juga sarannya.


I Love You seempang Buaya 😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍**

__ADS_1


__ADS_2