
Adzan isya berlalu, berganti nyanyian jangkrik dan cuitan burung malam. Bulan menyeruak bersama kerlipan bintang. Abak, Ibu, serta Paman Hasan berbincang di ruang tamu yang tak bersekat dengan dapur. Mereka membicarakan tentang perjodohanku dengan putra kenalan Abak.
Beberapa hari yang lalu Ibu telah menyampaikan perihal tersebut, bagiku tidak ada masalah dijodohkan dengan orang yang belum dikenal, asalkan jodoh pilihan itu memiliki akhlak dan agama yang baik. Karena menurutku pernikahan bukan hanya semata-mata menyatukan dua manusia, melainkan membangun sebuah peradaban.
Sebuah peradaban yang dibangun dengan saling menghargai, mengasihi, serta saling menguatkan satu dengan yang lain, serta berada dalam satu tujuan yang sama, yaitu menggapai keberkahan dunia dan akhirat.
Seorang laki-laki dalam Islam diletakkan sebagai pemimpin bagi wanita, sekaligus bertanggung jawab untuk menafkahkan sebagian harta mereka dan berkewajiban menjaga wanita beserta anak-anaknya dari api neraka. Jika suami tersebut tidak mengerti posisinya sebagai penanggung jawab, maka rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warohmah akan hanyut ditelan waktu.
Rumah tangga diumpamakan kapal yang berlayar di laut lepas, jika nakhoda dan juru mudi tidak paham titik koordinat dan arah angin, maka kapalnya akan oleng bahkan mungkin bisa karam, pertimbangannya adalah lebih baik aku tidak menumpang di kapal tersebut.
Tidak satu pun orang tua yang ingin salah dalam memilihkan jodoh untuk anaknya, karena setelah menikah anak yang selama ini mereka sayangi dan mereka didik akan pergi ke dunia baru dalam kehidupannya. Hidup dengan orang yang belum pernah dia kenal, menghalalkan dirinya dalam ikatan suci perkawinan, bahkan menjadi pelayanan bagi suaminya.
Ibu salah satu di antara sekian orang tua yang tidak akan pernah mau rumah tangga anaknya seperti di neraka. Sebab itulah Ibu dan Abak sangat selektif dalam memilih calon menantu. Beberapa kali pinangan yang datang ditolak dengan berbagai alasan, menurut mereka orang tersebut tidak pantas untukku. Jodoh yang dipilihkan untukku harus benar-benar bisa menjadi pemimpin dalam mengarungi kehidupan bersama nantinya.
Hingga suatu hari kami didatangi keluarga Pak Rahmadi untuk menanyakan kesediaanku menjadi calon menantu, mereka sangat berharap aku mau menerima pinangan ini dengan ikhlas, bukan karena paksaan ataupun perjodohan balas budi.
Bapak Rahmadi sangat berjasa kepada keluarga kami, beliau orang yang sangat ikhlas dalam memberi tanpa meminta balasan. Pak Rahmadi pernah menyelamatkan nyawa Abak ketika kecelakaan membuat Abak kehilangan darah yang sangat banyak.
Abak terkapar di jalan ketika sebuah mobil menabrak motornya dari belakang. Bukannya menolong, pengendara mobil tersebut melarikan diri dan membiarkan Abak tergeletak dalam keadaan yang sangat menyedihkan di jalan.
Pak Rahmadi bekerja di Pemkot Sawahlunto, setiap hari beliau pulang-pergi dari Sijunjung ke Sawahlunto. Ketika kejadian nahas itu beliau akan pulang ke Sijunjung, dan menemukan korban tabrak lari tergeletak di jalan yang akan ia lewati. Mobil yang dikendarainya dipinggirkan kemudian segera turun untuk menyelamatkan korban.
Rasa kemanusiaan yang terpatri mengalahkan status dan jabatannya yang tergolong cukup wah. Pak Rahmadi tidak peduli bajunya basah terkena darah Abak yang masih menetes, bahkan beliau sendiri yang mengangkat tubuh Abak ke dalam mobil, sampai di rumah sakit pun beliau tidak segan mengatakan kalau Abak saudaranya, padahal sama sekali tidak kenal dengan Abak, nama Abak pun diketahuinya dari KTP yang tersimpan di dompet.
__ADS_1
Beruntung sekali Pak Rahmadi menemukan Abak yang masih bertahan walaupun kritis karena banyak darah keluar dari kepala Abak yang bocor. Abak selamat setelah melewati masa kritisnya selama tiga hari.
Selama Abak dalam perawatan Pak Rahmadi selalu menyempatkan diri untuk melihat keadaan Abak di jam istirahatnya yang sempit. Bukan hanya sekadar menjenguk, hampir setiap hari kami selalu dibawakan makanan dan buah, bahkan semua biaya perawatan Abak dilunasinya tanpa sepengetahuan kami.
Kecelakaan yang menimpa Abak membawa hikmah tersendiri karena setelah kejadian itu kami memiliki saudara baru dan suka menjaga silaturahmi. Mereka sering berkunjung ke rumah sekadar membawakan oleh-oleh, apalagi jika Pak Rahmadi sering dinas luar kota. Sebaliknya Abak juga sering bertandang ke rumahnya mengantar sedikit hasil kebun seperti buah-buahan dan sayur-sayuran atau lainnya.
Kedua orang tuaku begitu menghormati Pak Rahmadi, mereka sangat kagum dengan kebaikan dan keikhlasannya. Sebenarnya saat kecelakaan menimpa Abak, aku sedang kuliah di sebuah universitas di Kota Padang sehingga aku tidak begitu kenal dengan keluarga mereka dan juga dengan anaknya yang akan dijodohkan denganku.
Dia bernama Zaid, pernah kuliah di luar negeri, tepatnya di Inggris. Hanya itu informasi yang kudapat dari Ibu. Sayangnya aku tidak bertanya lebih jauh mengenai universitas dan jurusan yang diambilnya di Inggris. Mungkin Ibu juga tidak menanyakan hal tersebut kepada keluarga Zaid karena Ibu memang tidak suka nyinyir.
Beberapa lembar foto Zaid mereka kirimkan melalui Ibu, setidaknya agar aku bisa memutuskan pilihan setelah melihat wajahnya digambar. Ibu meyakinkanku kalau agama Zaid bagus, begitu juga akhlaknya. Ibu dan Abak sudah beberapa kali bertemu saat berkunjung ke rumahnya.
“Anaknya santun dan saleh.”
“Waktu hari Kamis kita ke sana, dia nggak mau makan kue yang Ibu bawa. Tetapi malah disimpan katanya untuk berbuka. Ya kan, Bak?” Abak mengangguk dan Ibu kembali melihat ke arahku.
“Anaknya rendah hati juga loh, Sah, dia tidak sombong dengan kekayaan orang tuanya,” Abak membumbui agar semakin enak.
Bentuk fisik dan ketampanan tidak terlalu penting dalam menentukan teman hidup, yang paling penting itu agama dan imannya. Bagaimana dengan cinta? Cinta itu sebuah keajaiban yang dianuegrahkan Allah kepada manusia, dan aku percaya cinta itu tidak bisa diduga dan diraba, hanya bisa dirasakan.
Setelah menikah, aku akan belajar untuk mencintai Zaid apa adanya, karena salah satu keajaiban cinta yaitu bisa datang kapan saja. Jadi untuk apa khawatir? Toh di luar sana banyak pasangan yang bahagia ketika cinta itu tumbuh setelah akad nikah. Bahkan lebih mesra kan sudah halal mau ke mana dan berpegangan di mana saja.
Setelah menamatkan pendidikannya, Zaid pulang ke Indonesia dan sekarang bekerja di salah satu perusahaan ekspedisi milik keluarganya. Kata Ibu, Zaid itu orangnya sangat dermawan bahkan dia juga menjadi donatur tetap beberapa rumah singgah dan panti asuhan.
__ADS_1
Katanya lagi, Zaid tidak pernah salat di rumah melainkan di mesjid, dan banyak lagi kebaikan Zaid yang dijadikan senjata ampuh menjeratku oleh Ibu dan Abak. Siapa sih yang tidak kagum dengan lelaki sebaik itu? Dan wanita mana yang tidak mau memiliki pendamping hidup sesempurna Zaid?
Di foto, Zaid terlihat putih dan tampan, janggut tipis menghiasi dagu yang sedikit belah, berhidung mancung dengan alis tebal tersusun rapi memagari tatapannya yang tajam. Subhanallah. Begitu indahnya makhluk ciptaan-Mu, Ya Rabb. Diakah yang akan menjadi jodohku dunia akhirat? Maka nikmat Tuhan yang mana, yang akan kudustakan?
Seorang laki-laki pilihan berasal dari keluarga terpandang, berpendidikan, dan mengerti ilmu agama. Sehingga tidak ada celah bagiku untuk menolak perjodohan ini. Aku sangat yakin wanita baik-baik akan mendapatkan jodoh yang baik pula, dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana dalam segala hal, termasuk dalam ketetapan jodoh manusia, dan itu sudah tertulis sebelum ruhnya ditiupkan ke rahim sang Ibu.
“Jadi bagaimana, Sah?” Ibu menatapku sesaat setelah Bapak dan Ibu Rahmadi meninggalkan rumah kami.
“Jika menurut Ibu dan Abak ini baik untukku, insya Allah aku siap.”
“Abak tidak memaksa perjodohan ini loh, Sah. Jika kamu merasa keberatan, nggak apa-apa terus terang saja. Abak dan Ibu tidak akan marah, karena yang akan menjalaninya kamu, bukan kami,“ kali ini Abak serius.
“Jika menurut Ibu dan Abak dia baik dan bisa menjadi imam bagiku dunia dan akhirat, aku ikhlas dijodohkan. Aku mohon rida dan doa Ibu serta Abak, agar bisa melewati semuanya.“ Kucium tangan Ibu penuh khidmat.
Ibu memelukku penuh cinta, bening air matanya menetes di punggungku yang masih dalam dekapannya. Ada rasa haru dan gamang di hati, jika memang dia takdirku mampukah aku menjadi makmum yang baik baginya? Karena tugas istri bukan melulu dapur, kasur, dan sumur, melainkan perhiasan bagi suaminya.
Keputusan menerima Zaid telah melalui diskusi panjangku dengan Rabb-ku melalui istikharah yang beberapa hari kemarin kulakukan. Ketika petunjuk itu datang maka tak ada yang mampu menghambat, dan keputusan ini juga yang membuat Paman Hasan datang ke rumah.
Obrolan mereka terhenti ketika secangkir teh panas kuletakkan di meja, satu piring godok panas ikut sebagai suguhan dalam perbincangan yang sedikit alot. Dalam adat Minangkabau sebelum akad nikah ada beberapa kali proses perundingan yang melibatkan keluarga inti juga keluarga besar kedua belah pihak. Paman Hasan memintaku untuk turut mendengarkan kapan perundingan berikutnya dilaksanakan.
“Bagaimana kalau Kamis saja, Dik?” Paman Hasan manggut-manggut mendengar saran Ibu.
“Bagus juga, Ni, biar nanti saya sampaikan kepada Datuk Parpatiah. Kalau bisa sekalian Kamis itu disepakati, kapan waktu yang tepat kita melaksanakan acara timbang tando.”
__ADS_1
Timbang tando merupakan sebuah acara tukar menukar sebuah barang berharga dari kedua belah pihak sampai acara akad nikah selesai. Proses ini bertujuan untuk mengikat janji kedua calon pengantin beserta keluarga agar tidak ada yang mengelak dari perjodohan. Jika salah satu pihak menolak, maka keluarga tersebut harus menebus tando yang telah diserahkan sesuai dengan berapa kesepakatan yang telah diputuskan dalam acara tersebut.