Janda Perawan

Janda Perawan
bab 15


__ADS_3

“Sah, kamu pasti kecewa, selama tiga bulan kamu tidak pernah menerima hak batin sebagai istri.” Zaid menatapku sangat lembut, rasa itu hadir lagi yang membuat dadaku berdebar tidak keruan.


“Sebenarnya ada hal yang ingin aku sampaikan pada saat kita baru menikah dan pindah rumah, tapi aku tidak berani karena aku sangat takut kehilangan kamu. Demi Allah aku mencintaimu, Sah, tidak ada yang lain.” Zaid meremas jemariku hangat hingga membuat aku lupa ada beberapa pertanyaan yang harus kusampaikan.


“Sah, jujur, aku belum berani menyampaikan semua itu secara langsung.” Kucari jawaban di matanya yang tak lepas menatapku.


“Sebenarnya tadi pagi aku berniat menceritakan semuanya padamu. Sayangnya rasa takut mengalah-kan keberanianku, yang mengakibatkan tubuhku sangat lemah.


“Sah, semalaman aku tidak tidur, berusaha mencari cara dan terus berpikir bagaimana menyampaikan semua ini. Hingga akhirnya kudapatkan ide, jika aku tidak bisa memberi tahu secara langsung, maka aku menyiapkan cara lain untuk memberitahukannya kepadamu, dan pada kenyataannya aku memang tidak mampu untuk berterus terang.” Mata Zaid berkaca-kaca, sama sepertiku.


Teringat amplop yang tadi sengaja kumasukkan ke dalam tas, jangan-jangan isi amplop merah jambu itulah yang dia maksud. Kurogoh tas dengan tangan kiri, karena tangan kananku masih digenggamnya.


Melihat amplop itu Zaid mengangguk. Perlahan dia melepaskan tanganku dan memberi isyarat agar aku membuka dan membaca surat itu.


“Teruntuk bidadari surgaku, Hafsah.


Maafkan jika aku belum mampu menjadi suami yang baik, maafkan karena aku belum bisa menunaikan kewajibanku. Semua ini bukan karena aku sengaja menyiksa, seperti apa yang pernah kau ungkapkan.

__ADS_1


Demi Allah aku mencintaimu karena rida-Nya. Bukan karena tidak mampu, hanya saja aku sangat takut jika berada dekat wanita, ketakutan itu terkadang membuat aku lupa kalau engkau halal bagiku.


Sah, ada beberapa foto yang akan kujelaskan kepadamu, maafkan jika foto itu membuat kamu marah atau mungkin benci kepadaku. Aku hanya ingin memberitahukan semua tentangku kepadamu melalui foto itu. Aku mohon janganlah berprasangka buruk terhadapku.


Sah, selama aku kuliah di London, aku menjadi pengurus Ikatan Mahasiswa Muslim. Salah satu tujuannya adalah membela agama Allah, menjaga dan membantu sesama umat muslim di dunia.


Saat Israel menggempur Palestina, darah kami mendidih, kemarahan memuncak. Ketika semua siaran televisi mempertontonkan anak-anak dan wanita Palestina banyak yang menjadi korban kekejaman tentara Yahudi, maka aku ikut bergabung menjadi relawan Gaza. Niat kami menuju Palestina untuk jihad dan membantu saudara-saudara muslim di sana.


Hampir lima bulan aku dan relawan lainnya tinggal di camp-camp relawan untuk Palestina. Hingga pada satu hari, aku tertangkap di perbatasan Gaza. Karena tanda pengenalku jatuh, empat orang tentara wanita Israel mengurungku di sebuah gudang kosong, yang hampir roboh akibat serangan udara mereka, gudang itu pengap dan penuh debu. Aku mengira mereka akan membunuhku saat itu juga, tapi ternyata tidak.


Mereka mengetahui kalau aku adalah orang Timur dan bertugas sebagai relawan, salah satu di antara mereka menemukan ID-ku tercecer. Dengan bahasa yang tidak aku mengerti, mereka tertawa dan saling memberi kode. Mereka tidak langsung membunuhku, mereka hanya menginginkan aku disiksa serta menjadi budak untuk memenuhi hasrat binatangnya.


Aku meminta kepada Allah agar berkenan mencabut nyawaku saat itu juga, daripada melihat dan melakukan hal yang sangat menjijikkan tersebut. Mereka terus memaksaku membuka mata dan menuruti keinginan mereka yang seperti binatang. Aku tetap diam dengan mata terpejam, tak peduli dengan apa yang mereka perbuat terhadapku.


Kesabaran mereka akhirnya hilang. Mereka menyiksa dengan cara memukul, menendang, dan menyuntikkan sesuatu ke tubuhku. Suntikan itu yang membuat aku lupa diri seperti orang kerasukan dan tidak bisa menahan syahwatku.


Hampir saja aku melayani nafsu bejat mereka di bawah pengaruh cairan laknat tersebut. Aku tidak tahu akan melalui hidup ini jika semua itu sampai terjadi. Saat itulah Allah mengirimkan bantuannya.

__ADS_1


Alhamdulillah, beberapa orang anak Palestina melihat aku tertangkap, dan mereka berusaha mengikuti ke mana aku dibawa. Mereka malaikat-malaikat kecil yang gagah berani.


Mereka melemparkan batu dengan ketapel ke arah tentara-tentara wanita Israel yang masih telanjang. Aku diselamatkan Allah melalui tangan-tangan kecil yang suci dari perbuatan zina.


Masih dalam keadaan yang tidak terkontrol, anak-anak tersebut mengikatku dengan tali. Sesampainya di camp, Ibu Syadiah memberikan obat penenang dengan dosis tinggi agar aku pingsan, karena hanya itu satu-satunya cara agar aku diam.


Itulah penyebab aku tidak berani menyentuhmu selama ini. Aku takut jika tidak bisa mengontrol emosi syahwatku padamu.


Sah, aku tidak ingin merenggutmu, aku hanya mau memetikmu. Jadi selama tiga bulan ini aku berusaha dan berdoa untuk bisa sembuh dari ketergantungan obat penenang. Itulah yang membuat aku terkadang mengurung diri dalam kamar seharian.


Sah ... aku mencintaimu karena Allah, aku tidak akan pernah menceraikanmu, karena engkau adalah surgaku.


Apa pun yang terjadi, terimalah aku apa adanya. Karena aku tidak akan pernah menjadikanmu janda perawan.


Maafkan aku, Bidadariku ....


Tubuhku bergetar, aku menangis sesenggukan. Zaid perlahan duduk dan merangkul pundakku, dia memelukku untuk pertama kalinya. Tangis haru dan bahagia membasahi dadanya, Zaid semakin mempererat pelukannya.

__ADS_1


“Sah, demi Allah, aku tidak mau menjadikanmu janda perawan, karena kamu adalah anugerah terbesar dalam hidupku.”


__ADS_2