Janda Perawan

Janda Perawan
bab 19


__ADS_3

Subahanallah, begitu sempurnanya ciptaan-Mu, Ya Rabb. Sketsa alam yang nyata di depan mata, laut membiru menyatu dengan bentangan pasir putih yang kami namakan pantai berirama deburan ombak memecah keheningan.


Pagi yang indah, seindah hati yang mulai merona dengan cinta. Zaid menggenggam tanganku, langkah kami beriringan tanpa alas. Sesekali Zaid merengkuh pundakku untuk bersandar di bahunya. Menikmati surga dunia yang belum seberapa dibanding surganya Allah di arasy sana.


Deburan ombak membasahi ujung gamis yang menutup hingga ujung kaki, sesekali angin meniup kencang jilbab yang menutupi dada hingga perut. Ada damai merasuk jauh ke relung hati, ada syukur terucap lirih bersama embusan napas.


Dua hari di sini membuat Zaid mulai menikmati masa sekarang dan belajar melupakan masa lalunya yang sangat menakutkan. Saat-saat mencekam berada nyata dalam agresi militer Israel sudah pasti meninggalkan kenangan pahit, jangankan Zaid yang nyata ada di sana. Kita yang melihat dan membaca melalui media saja pasti merasakan hal yang luar biasa mengerikan.


“Sah, seandainya aku tak mampu bagaimana?” Zaid memecah keheningan di sela suara ombak menghempas pantai.


“Uda, kita sama-sama berusaha, hanya orang berhati lemah yang mau kalah sebelum mencoba.” Kuusap punggung tangannya, menyakinkan Zaid tidak ada yang tak mungkin jika Allah mengizinkan.


Zaid mengajakku duduk, ada beberapa ayunan terpasang di antara pohon-pohon kelapa yang tumbuh di pinggir pulau. Mataku tetap menatap birunya laut, sesekali kapal nelayan melintas di antara beberapa pulau kecil yang berhadapan dengan Pulau Kapo-Kapo ini.


“Sah, kamu pasti kecewa bersuamikan orang sakit seperti aku.” Zaid menunduk, kakinya mengais pasir.


“Takdir hidup manusia itu sudah ada bahkan sebelum dilahirkan, Uda.” Aku akan berusaha membuat kamu sembuh, Zaid, walau semua ini terasa berat untuk kujalani.


Mentari hampir melampaui titik tengah, kami memutuskan kembali ke penginapan untuk melepas lelah barang sejenak. Zaid ingin menunggu ladangnya bersih di pulau ini untuk menikmati bulan madu kami yang tertunda, sedangkan aku ingin sekali pulang ke Sijunjung. Entah kenapa aku sangat rindu Ibu dan Abak.


Zaid memang suami yang baik, selama pernikahan tidak pernah sekali pun dia menolak keinginanku. Dengan menumpang kapal penduduk kami bertolak ke Dermaga Mandeh, untuk melanjutkan perjalanan ke Sijunjung.

__ADS_1


Sarana transportasi yang bisa kami gunakan untuk menuju Sijunjung dengan cepat hanya mobil travel. Untungnya Zaid memiliki banyak kenalan dengan usaha tersebut, jadi kami tidak kesulitan untuk mendapatkan tumpangan.


Perjalanan ke Sijunjung dari Pesisir Selatan menghabiskan waktu lima jam perjalanan. Jalan yang ditempuh harus melewati jurang dan perbukitan yang terhampar di Sitinjau Laut.


Mobil travel yang kami order datang tepat waktu, kali ini kami duduk berpisah. Karena penumpang dengan tujuan yang sama, yang lebih duluan pesan telah mengisi beberapa bangku. Alhasil Zaid duduk di samping sopir, sedangkan aku di tengah, tepat di belakang Zaid.


Kami sengaja tidak pulang ke rumah, karena logistik yang aku siapkan masih cukup dan aku masih menyimpan beberapa pakaian di rumah Ibu. Sebenarnya aku lebih suka naik bus ketimbang travel, aku pernah mengalami kejadian buruk dulu ketika aku menggunakan jasa travel ke bukit tinggi.


Sopir travel cenderung membawa kendaraannya dengan kecepatan tinggi, karena dikejar waktu sehingga kurang memperhatikan keselamatan penumpang dan dirinya sendiri. Itulah kenapa sebenarnya aku tidak suka naik travel, namun mau bagaimana lagi, saat ini hanya jasa tersebut yang bisa kami gunakan.


Benar saja, minibus yang kami gunakan sebagai jasa angkutan travel agent melaju di atas kecepatan rata-rata. Beberapa kali tubuhku terhempas karena sopir menginjak rem mendadak, tanganku berpegang di sandaran kursi yang diduduki Zaid dari depan.


Ah, andai saja aku duduk di samping Zaid, tentu lebih aman dan nyaman kerena dia pasti akan melindungiku dari hempasan-hempasan laju mobil dalam pelukannya. Terdengar gerutuan penumpang yang berada di belakang karena mereka juga tidak nyaman dengan cara mengemudi sopir tersebut.


“Ikolah lambek mah ni .”


Pelan dari mananya? Kecepatannya di atas rata-rata begini, aku ikut kesal. Kucoba menetralisir perasaan cemas bercampur marah dengan membaca ayat kursi, mudah-mudahan Allah memberikan keselamatan kepada kami di darat dalam perjalanan ini.


Lepas tiga jam perjalanan, kami melewati simpang By Pass menuju arah Sijunjung. Asap pembakaran karet masih tercium dari dalam mobil, karena kami memang melewati perusahaan pengolahan karet terbesar di Sumatera Barat.


Mobil yang kami tumpangi masih melaju kencang, sesekali menerobos dan menyalip mobil tangki dan truk pengangkut semen padang yang lalu lalang dari bukit semen menuju pullnya di Indarung.

__ADS_1


Teriakan emak di belakang semakin kencang mencoba mengingatkan sopir untuk lebih berhati-hati dan mengurangi laju kendaraan yang dia bawa.


Mungkin karena banyak penumpang yang ngomel, laju kendaraan mulai melambat dan sopir tidak lagi menyalip dan menerobos. Semakin nyaman ketika tape mobil dihidupkan, senandung salawat dari Nisa Sabyan meluluhkan jiwa.


Mataku mulai terpejam menikmati bait demi bait lantunan suara merdu yang sedang viral tersebut. Udara dingin mulai menyeruak, kusentuh punggung Zaid dari belakang.


Seketika dia menggenggam tanganku dan menanyakan keadaanku. Aku tahu Zaid pasti sangat khawatir karena aku tidak di sampingnya. Melewati panorama pertama di Sitinjau Laut, kami masih saling mengenggam jemari walau duduk terpisah, setidaknya kami masih bisa bersentuhan dan saling menguatkan dengan berpegangan.


Melewati jurang yang dalam dan tikungan-tikungan tajam memang sangat sulit, tapi beruntung banyak anak-anak muda yang menjadi rambu-rambu untuk membantu sopir menguasai lajur yang akan dilewati. Beberapa kali terdengar suara rem truk-truk besar mencicit, aroma karet yang terpanggang sudah tidak asing lagi bagi pengguna jalan Sitinjau Laut. Aroma tersbut menemani debaran jantung dan desiran darah saat Zaid meremas jemariku. Kami tetap berpegangan tangan dari samping kursi mobil.


Ada bau aneh lainnya menyergap, ternyata solar. Tangki minyak truk gandeng yang tepat berada di depan bocor, jalan menjadi licin. Beberapa kali sopir mencoba banting setir agar roda tidak menginjak solar tersebut, namun seketika dari arah yang berlawanan datang minibus yang melaju kencang. Tumpahan solar menjadi bumerang, seketika benturan dan benturan terjadi, beberapa mobil bertabrakan.


Aku berteriak histeris. Genggaman tangan Zaid terlepas. Beberapa kali hempasan yang sangat kuat membuat aku lemah, ada darah merembes dari kepala. Aku tidak lagi merasakan genggaman Zaid, mobil kami meluncur ke jurang sebelum Panorama 2 Sitinjau Laut.


Mataku terasa sangat berat untuk dibuka, aku merasa sangat lemah, dalam gelap kucoba memanggil Zaid, tak ada jawaban.


Ya Allah, ada apa ini? Beberapa kali kusebut asma Allah. Rasa dingin menjalar dari ujung kaki, merangkak naik hingga ke dada dan akhirnya ….


“Hafsah, bangun, Sayang. Kita salat ashar dulu."


Aku ternyata hanya mimpi, mobil yang kami tumpangi sudah parkir di depan Masjid Agung Silungkang.

__ADS_1


Selepas ashar kami melanjutkan perjalanan menuju Kumanis kabupaten Sijunjung tercinta. Senyum Ibu dan Abak membayang di pelupuk, tak terasa ada bening mengalir dari sudut mata.


__ADS_2