Janda Perawan

Janda Perawan
bab 13


__ADS_3

Alhamdulillah, Zaid tidak pingsan, tetapi tubuhnya sulit untuk bergerak. Kupegang lengannya dan membantu bersandar ke kursi tamu. Beberapa menit kami berada dalam kebisuan, sedangkan raga kami teramat dekat. Zaid meraih tanganku dan menciumnya. Darahku berdesir, jantung berdegup kencang, rasa cemas dan bingung dengan sikap Zaid membuat wajahku pasi.


“Terima kasih, Sah,” Zaid memecah kehening-an. Aku masih tak percaya Zaid menyentuhku kembali. Seketika kemarahan sirna berganti rasa takut kehilangan. Apakah ini yang disebut cinta?


Sentuhan di waktu yang tidak tepat, ketika dia lemah baru berani menyentuhku. Semua perasaan bercampur aduk merata di kepala, membuatku hampir lupa kalau Zaid membutuhkan perawatan dan harus segera dibawa ke rumah sakit.


Kutinggalkan Zaid yang masih lemah, bergegas meminta bantuan tetangga sebelah, karena aku tidak akan mampu mengangkat tubuhnya sendirian. Beruntung kami dikelilingi tetangga yang sangat baik, saling menolong dalam kesusahan, bahkan saling memberi dalam kebaikan.


Rumah Sakit Siti Rahma menjadi tujuan utama, karena jarak rumah kami yang berada di By Pass Km 3 Padang lebih dekat ke sana. Zaid langsung dibawa ke ruang IGD, beberapa orang perawat mencoba menenangkanku.


Keadaan Zaid memang membuat khawatir, tapi aku lebih susah mengendalikan perasaan dan gemuruh di dada setelah Zaid mencium tanganku. Jangan-jangan itu kesan terakhir Zaid untukku.


“Ibu tunggu di luar ya. Suami Ibu akan baik-baik saja, dokter akan berusaha semampunya.” Perawat yang dari tadi bersamaku tetap berusaha menguatkan dengan senyum sebelum menutup pintu ruang IGD.


Cat putih di pintu menghalangi tatapan mata sehingga aku tak bisa memandang Zaid dari luar.


“Ya Allah, cobaan apa lagi ini? Kuatkan dan sabarkan aku, Ya Rabb.”


Aku mulai takut kehilangan Zaid, air mata mulai menetes hingga beranak sungai. Aku tidak ingin bercerai dari Zaid, batinku ikut merintih. Aku ternyata memang telah jatuh cinta pada Zaid.


Ibu dan Bapak mertuaku datang di saat aku masih terisak dan belum bisa mengontrol emosi, tangisku semakin menjadi saat Ibu langsung memeluk tubuhku yang bergetar.


“Sabar, Hafsah, semuanya kita serahkan kepada Allah.” Pelukan Ibu semakin erat, ada ketenangan yang menjalar ke sanubari. Bapak terlihat lebih tenang, bibirnya tak henti berdzikir di depan pintu IGD yang tertutup rapat.


Beberapa saat aku masih dalam pelukan ibu mertuaku hingga akhirnya keadaan membaik dan kecemasan kulepaskan bersama tangis. Beberapa kali Bapak mengusap wajah sembari melihat ke dalam ruangan dari pintu kaca yang tak tembus pandang. Kami hanya bisa pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Sang Pemilik Kehidupan.

__ADS_1


Pintu IGD terbuka, dokter yang menangani Zaid bersama seorang perawat keluar dan langsung menemui kami.


“Alhamdulillah. Bapak Zaid tidak kenapa-napa, tapi memang harus melalui perawatan khusus.” Perawat meminta agar kami melengkapi administrasi dan menandatangi berkas perawatan.


Sebelum Zaid dipindahkan ke ruang khusus, kebingungan kembali melanda. Kenapa Zaid harus dirawat secara khusus, sebenarnya Zaid sakit apa? Dokter pun tidak memberi tahu diagnosa penyakit yang diderita Zaid kepada kami.


Setelah semua berkas perawatan selesai, Zaid dipindahkan ke ruangan isolasi, sedangkan kami tidak diperbolehkan bertemu Zaid sebelum diberi izin oleh dokter yang merawatnya.


“Bu, Uda Zaid sebenarnya kenapa?” Kutatap mata Ibu, mencari sebuah jawab di sana. Sayang tidak ada jawaban sama sekali, beberapa kali gelengan lemah dalam kecemasan yang kudapati.


“Sah, sebaiknya kamu pulang dulu.” Bapak mendekati kami dengan wajah yang tak kalah cemasnya.


“Biar Bapak dan Ibu di sini dulu, toh kita tetap tidak diperbolehkan masuk. Jadi menurut Bapak lebih baik Sah pulang ke rumah dulu untuk istirahat. Bapak takut kalau Sah tetap di sini tidak baik untuk kesehatanmu.”


Duar. Apa lagi ini? Tidak baik untuk kesehatanku? Aku kuat, Pak, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Ya Allah, selama tiga bulan pernikahan kami, bapak mertuaku memang belum pernah berkunjung ke rumah. Ibu pun hanya sekali berkunjung dalam waktu singkat. Kami hanya komunikasi melalui telepon, jadi mereka tidak tahu keadaan sebenarnya. Dan aku juga tidak mau memberi tahu kebenaran yang sedang terjadi, karena aku masih berharap Zaid berubah seiring waktu.


Aku pamit pulang karena tidak mau membuat mereka curiga, jika aku tetap bertahan di sini karena mereka terlihat sangat mencemaskan keadaanku.


“Bu, Pak, Sah pamit. Assalammualaikum.” Kucium bergantian tangan mertuaku, sebelum meninggalkan rumah sakit bersama pikiran dan harapan mereka.


Pulang ke rumah tidak membuatku lebih baik. Aku merasa sepi, terasa ada yang kurang, tiba-tiba aku rindu Zaid. Perlahan kubuka kamar tamu berharap ada sesuatu yang bisa mengobati rasa ini terhadap Zaid.


Kamar dengan ukuran 3x4 meter yang selama ini belum pernah kumasuki karena memang Zaid selalu menguncinya dari dalam, kalaupun Zaid tidak di rumah kuncinya selalu dia bawa. Tak ada yang ganjil dalam kamar itu, tak ada yang harus dicurigai. Semuanya rapi bahkan tertata dengan baik.

__ADS_1


Kubuka lemari pakaian berharap ada sesuatu yang bisa membuat rindu ini sirna. Hanya beberapa potong baju dengan warna yang tidak jauh berbeda. Zaid memang tidak mau mengoleksi pakaian, karena dia pernah berkata, semua yang kita miliki akan dihisab.


Mungkin dia menyimpan sesuatu di dalam laci lemari atau di bawah bantal? Semuanya kuperiksa tapi tetap tidak kutemukan pengobat rindu dan tawar curiga selama ini kepada Zaid. Akhirnya mataku tertuju kepada sajadah yang belum dilipat dan Alquran yang masih terbuka, mungkin tadi pagi Zaid tidak tidur selepas subuh.


Aku bersimpuh di atas sajadah tersebut. Ya Allah, aku mulai jatuh cinta pada hamba-Mu itu, tapi kenapa rasa ini hadir di saat yang tidak tepat. Air mata menetes membasahi Alquran Zaid yang masih terbuka, perlahan kututup mushaf tersebut dan kudekap di dada.


Entah berapa lama aku tertidur di atas sajadah sambil mendekap Alquran Zaid. Aku menaruhnya di meja sudut yang kelihatannya digunakan sebagai meja kerja oleh Zaid. Banyak kertas berserakan yang mungkin belum sempat dirapikan. Ternyata Zaid pandai membuat kaligrafi, semua lembaran itu telah dilukis dengan karya-karya yang sangat indah. Di bawah lembaran terakhir ada sebuah foto yang membuat aku terpana.


Foto anak kecil yang sedang digendong dan berdarah-darah, yang paling mengagetkan adalah Zaid yang menggendong anak tersebut. Tapi sepertinya bukan di Padang ataupun di Indonesia.


Di manakah Zaid saat berada dalam foto ini? Anak siapa yang dalam gendongannya? Apa yang disembunyikan Zaid dariku? Kenapa Zaid tidak pernah cerita? Aku semakin bingung dengan apa yang kulihat. Siapakah Zaid sebenarnya? Ya Allah, ini terlalu rumit bagiku.


Aku teringat sebelum Zaid jatuh tadi pagi, ada amplop yang ikut terjatuh bersamanya. Bergegas aku meninggalkan kamar Zaid dan berusaha menemukan amplop tersebut di sekitar kursi tamu. Aku yakin amplop itu masih ada di sana.


Benar saja, amplop itu tergeletak di karpet. Napasku tak beraturan, jantung berdegup kencang. Apa isi amplop ini?


Kubuka perlahan sambil menata hati yang tidak keruan. Ternyata isinya foto-foto yang membuat aku semakin tak mengerti, dua orang wanita berseragam tentara mengapit seorang pria lemah dengan kepala tertunduk, sepertinya pria itu diseret paksa.


Wajah pria itu tidak begitu jelas. Lembaran berikutnya, foto wanita bercadar sedang merawat seorang pria yang terluka. Ternyata pria di foto itu adalah Zaid, tapi wanita itu siapa? Kepalaku berdenyut, dada bergemuruh, ada rasa cemburu melihat wanita bercadar yang di foto bersama Zaid.


Mungkinkah wanita itu yang memenjarakan hati Zaid? Sehingga Zaid tidak mau menyentuhku sama sekali. Air mata kembali tumpah, ternyata Zaid memiliki seseorang yang menggembok hati dan pikirannya. Gembok di hati Zaid tak bisa dibuka meskipun dengan kunci pernikahan yang sakral. Jiwaku merintih, rasa cinta yang baru kurasa kembali tercabik-cabik oleh foto itu. Aku benci Zaid.


Rasa ingin tahu mengalahkan sakit dan perih di dada. Foto berikutnya ada beberapa anak memegang ketapel dan batu, mereka berdiri di samping Zaid dengan wajah penuh senyum, sepertinya mereka baru saja berbuat sesuatu yang membuat mereka sangat bahagia. Foto ini membuat aku merinding. Anak-anak kecil, ketapel, batu, dan bendera Palestina.


Ya Allah, sebenarnya Zaid itu siapa?

__ADS_1


Di lembaran foto terakhir terselip amplop merah jambu, di sudut kanan atas tertulis Surat Cinta Untuk Hafsah. Kutarik napas panjang berusaha menetralisir perasaan yang tak keruan.


Amplop tersebut belum sempat kubuka, karena ada chat dari ibu mertua yang menyuruhku segera ke rumah sakit.


__ADS_2