
seminggu berlalu adel tinggal dikota J dimana kota yang menjadi kota kelahirannya
adel telah menemui rafa dan mantan mertuanya. anak rafa dan keli telah lahir dan itu yang membuat rafa semakin dewasa
awalnya tak mau melepasakan adel namun juga sudah tak mencintainya
kini keduanya sepakat berpisah baik baik namun adel tak mau berteman. bukan karena sakit hati tapi adel ingin saling menjaga perasaanya
sehari sebelum cutinya selesai adel diberikan pemberitahuan jika dirinya tak perlu kembali ke kantor cabang
adel kembali dipindahkan ke kantor pusat dengan alasan posisi kantor cabang telah terisi
hari ini adalah hari pertama untuk adel kerja kembali dikantor pusat yang sudah hampir lima bulan ia tak kunjungi
tak ada rasa curiga apapun bagi adel. kerja dimana pun tetap sama baginya
"bu adel berangkat kerja dulu ya, sekalian adel mau pamit akan tinggal dikosan adel lagi yang dekat dengan kantor. nanti adel akan sering maim jika libur!" pamit adel pada bu mira
seminggu ini adel tinggal dirumah ayahnya dulu. disti mengatakan jika bu mira merasa bersalah dan jatuh sakit
setelah bertemu dengan adel bu mira mulai membaik dan menyesali perbuatannya dulu
kini keduanya saling memaafkam dan akan membuka lembaran baru
"iya nak, berangkatlah bersama disti arah kalian sama bukan?" ucap bu mira lembut
adel mengiyakan ucapan ibunya sebelum.pergi menyalami tangan bu mira dan menciumnya
__ADS_1
***
tiba dikantor yang cukup asing bagi adel meski sebelumnya sebulan lebih adel bekerja ditempat itu
"pagi kak sita!" bisik adel ditelinga sita yang sedang memperbaiki make upnya setelah sarapan
"adelllll!!!!!" teriak sita saat tahu siapa yang membisikinya
"kakakkkk!!!" adel memperagakan gaya bicara sita yang kalem
"kamu kenapa bisa disini?" tanya sita penasaran
"kamu pindah lagi atau mau resign?" lanjut sita dengan pertanyaanya
"yang mana ya? sebenarnya pingin sih resign....." ucapan adel terhenti
"selamat pagi pak!" niko dan ferdi berjalan beriringan melawati kedua wanita yang sedang melepaskan rindunya
"pagi!" hanya ferdi yang menjawab
niko seperti bukan orang yang adel kenal dulu, senyum ramahnya sifat jahilnya
dan banyak lagi yang membuat adel terus memikirkan niko akhir akhir ini
"del, adelia!" sita menepuk pundak adel
"ahhh iya kak, ada apa?" tanya adel bingung
__ADS_1
"kakak yang harusnya tanya! kamu kenapa?" sita penasaran
"engga kak, adel lupa harus duduk dimana nanti hehe!" alasan adel agar sita tak terus mencecarnya dengan pertanyaan
"astaga adel, tentu saja kita masih satu tim kemarin ada yang dipindahkan dari devisi kita. pastinya kursi itu untukmu dong kepala bidang keuangan!" ledek sita tanpa rasa iri ataupun berfikir negatif
dulu sita juga pernah ditawari mutasi luar kota agar dapat naik jabatan tapi sita tak bis meninggalkan suaminya yang juga kerja dikota yang sama
jadi tak ada rasa iri karena semua karyawan diperlakukan sama dan memiliki hak yang sama pulan
"ayo duduk disana. itu kursimu bu adel!" sita mengarahkan
dalam ruangan itu hanya ada dua pegawai yakni sita dan adel sekarang
adel sedikit ragu lalu meletakan tasnya diatas meja, mulai membuka dokumen yang harus ia pelajari dari awal
pesan masuk diponsel adel
"selamat atas posisi barunya, semoga betah!"
isi pesan singkat dari orang yang memang adel tunggu
adel tak terasa meneteskan air mata
bersusah payah ia mencoba bangkit. dan niko lah yang menjadi alasannya
kini adel pun harus segera merelakannya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi
__ADS_1
hatinya akam hancur untuk yang kesekian kalinya