Janda Perawan

Janda Perawan
bab 3


__ADS_3

Pergantian purnama setelah proses timbang tando terasa begitu cepat menghampiri, dan malam ini aku telah berada pada purnama di malam bainai. Sampai saat ini aku belum pernah bertemu langsung dengan calon yang besok akan menghalalkanku untuknya. Ada rasa yang tidak bisa kumengerti, rasa itu mengalir bersama darah yang dipompa jantung hingga bermuara ke otak.


Berharap rasa ini hanya sekadar gelisah dalam kegamangan menghadapi pernikahan. Karena tak lama lagi aku akan pergi dari rumah tempatku bernaung, tempat di mana aku membesar dalam belaian kasih sayang yang selalu menyala. Pergi kepada seorang laki-laki yang tidak pernah kukenal, kepada teman yang belum tentu dekat. Belajar jadi hamba sahayanya dalam cinta dan menjaga berbagai hal sebagai seorang istri untuk sebuah impian, yaitu bahagia.


Tek Nurma selaku perias pengantin sudah berada di kamar untuk segara memakaikan inai di jariku. Selesai salat isya, namun hati dan jiwaku belum mau beranjak dari sajadah. Etek Nurma dengan sabar menunggu sampai aku siap dan keluar dari lamunan. Sedari awal masuk kamar dia hanya duduk menatap dan menungguku di pinggir ranjang, tak satu pun kalimat tanya dan sapa dia lontarkan. Mungkin dia paham perasaan gadis yang akan melewati masa-masa terpenting dalam kehidupan-nya, yaitu pergantian status gadis menjadi seorang istri dengan tanggung jawab yang sangat berat dalam kehidupan mendatang.


“Maaf, Tek, Hafsah kelamaan ya?” aku sedikit berbasa-basi mencairkan suasana yang sangat beku.


Etek Nurma menggeleng dan tersenyum, dia maklum dengan kebekuan yang tercipta di kamar ini.


“Tidak lama kok, Sah. Kalau mau mengaji dulu silakan.” Senyumnya membuatku sedikit mencair, gelengan di kepala dan segera melipat sajadah mengisyaratkan kalau aku siap untuk dipasangkan inai.


Aku duduk di lantai yang sengaja dialas kasur supaya nyaman selama proses bainai dilakukan, Tek Nurma duduk di sampingku dengan memegang sebuah wadah berisi daun inai yang telah ditumbuk halus dan beberapa lembar daun sirih sebagai pembalut.


“Sudah siap?” Tek Nurma meletakkan sebuah bantal di pahaku kemudian memintaku meluruskan kaki supaya lebih nyaman. Kedua tanganku diletakkan di atas bantal. Etek Nurma sangat telaten dalam bekerja, tak ada sedikit pun tumbukan inai berceceran.


“Tanganmu berair, Sah. Kamu kenapa?” Etek Nurma terlihat heran. Aku kembali menggeleng karena tak tahu harus menjawab apa, aku juga tak tahu kenapa tanganku berair.


“Kalau berair seperti ini inainya akan menyebar, nanti hasilnya ndak bagus. Coba tarik napas dalam-dalam.” Perasaanku mulai agak tenang setelah beberapa kali embusan.


“Etek dulu sewaktu diinai juga berkeringat dingin sama seperti kamu. Etek dulu juga dijodohkan dengan Pak Etek Hasim. Bedanya dengan kamu, kami sebelum menikah sudah saling kenal karena sekampung.” Etek Nurma mulai membalut kuku di tangan kananku.


“Rasa takut dan gamang akan semakin menjadi pada malam pertama, apalagi sewaktu orang yang tidak pernah dekat dengan kita, tidur di ranjang yang sama terus ....” Tawa Etek Nurma membuat suasana menjadi cair.


Pertanyaan seputar pernikahan dan malam pertama dijawab dengan tawa serta kedipan mata yang nakal oleh Tek Nurma. Senda gurau tersebut berlangsung sampai semua jariku dibalut daun sirih. Selesai sudah tugas Etek Nurma untuk malam bainai dan besok pagi jari-jariku akan dibersihkan. Setelah dibersihkan aku harus mandi dengan ramuan khusus agar badan tidak bau dan warna inai akan terlihat lebih hidup di jari, begitu katanya.


Malam ini kami tidur di lantai yang hanya beralaskan kasur tipis, Etek Nurma tidak mengizinkan aku tidur di ranjang yang telah ia hias beberapa hari yang lalu agar tidak kotor terkena inai. Berada di kamar ini membuatku semakin merasa aneh. Hiasan-hiasan layaknya kamar putri raja telah dipasang rapi, warna merah keemasan mendominasi sebagian rendanya. Etek Nurma menemaniku sampai mimpi datang mengisi lelapnya tidur dalam debaran jantung yang tak beraturan.

__ADS_1


Menjelang subuh Etek Nurma membangunkan lelapnya tidurku, kemudian melepaskan satu per satu daun sirih yang membalut inai di jariku. Etek Nurma tersenyum melihat karyanya semalam yang begitu mengagumkan, semua kukuku merah merata.


“Alhamdulillah masih perawan,” selorohnya.


“Apa hubungannya, Tek?”


“Kalau tidak perawan, merahnya tidak merata seperti ini, Sah,” Etek Nurma menjelaskan.


“Sekarang kamu mandi dulu, selesai salat subuh, kamu sarapan. Etek akan segera mendandani kamu, akad nikah jam delapan, kan?”


Aku hanya mengangguk dan langsung berdiri menuju kamar mandi. Ternyata Etek Nurma telah menyiapkan air hangat beserta tumbukan daun pandan dan bunga melati di kamar mandi.


“Rambut juga dibasahi ya, Sah,” terdengar suaranya dari balik pintu.


Aroma melati menjadi aroma terapi bagiku pagi ini, wanginya membuat pikiran sedikit tenang. Kunikmati tumpahan air yang membasahi tubuh, agak lama aku berada di kamar mandi dan berhenti ketika Etek Nurma menyuruh lebih cepat.


“Baiklah, Puti .” Senyum itu membuatku merasa sangat dekat hingga aku tidak sungkan meminta apa yang kumau.


“Aku mau jilbabnya menutup dada, Tek, jangan seperti ini.” Jilbab yang dipasang Etek Nurma banyak lilitan di leher dan kepalaku, kainnya bahkan tidak menutupi dada. Aku tidak mau berpakaian tapi telanjang.


“Tapi kesannya tidak bagus, Sah, menutupi payet bajunya,” Etek Nurma beralasan.


“Sah mohon, Tek. Sah ndak mau kalau dada Sah nggak tertutup.“ Rengekanku menaklukkan sang juru rias.


Beberapa kali pintu kamar diketuk, kepala Bi Yanti menyembul dan menanyakan apakah aku sudah selesai didandani karena penghulu sudah datang. Tak berapa lama suara Paman Hasan terdengar mengatakan kalau rombongan pengantin pria juga sudah sampai.


“Sebelum disuruh keluar kamu tetap di kamar,” pesan Bi Yanti, aku hanya mengangguk.

__ADS_1


Lalu lalang langkah terdengar di depan kamar, membuat jantungku semakin berdebar kencang sementara keringat dingin mulai mengaliri wajah yang baru saja dipolesi bedak. Telapak tanganku ikut basah didera perasaan yang tidak menentu. Etek Nurma menatapku bingung.


“Kamu kenapa, Sah?” Etek Nurma merapikan bedak yang luntur di wajahku tersapu keringat yang semakin deras mengalir, kujawab dengan gelengan yang sangat lemah.


“Minum dulu.” Etek Nurma menyodorkan gelas berisi air teh. Hanya beberapa teguk yang mampu melewati kerongkonganku, tapi lumayan membuat lega.


“Dzikir diperbanyak, jangan mikir yang aneh-aneh.”


Berkali-kali kucoba tarik napas dan melafazkan asma Allah, “Beri aku kekuatan, Ya Rabb.” Tubuhku mulai gemetaran, dada berdegup kencang. Tangan Tek Nurma jadi pegangan terbaik saat ini untuk menghilangkan kekacauan di dada.


Masih dalam ketidakstabilan kulihat Bi Anja istri Paman Hasan dan Bi Amel telah berdiri di pintu. Wajah mereka sama tegangnya dengan wajahku, apalagi saat mereka melihat aku yang sedikit pucat serta gemetaran.


“Kamu kenapa, Sah?” Bi Anja sangat cemas.


“Kamu sakit? Ya Allah, Sah. Pengantin pria sudah siap di depan, tinggal menunggu kamu.”


“Sah nggak apa-apa, Bi.”


Tek Nurma memberi tahu kedua bibiku kalau aku hanya gugup dan itu biasa terjadi pada calon pengantin perempuan sebelum akad nikah. Beberapa saat kucoba menenangkan diri dengan menarik napas panjang. Aku keluar kamar bersama Bi Anja dan Bi Amel yang memegang kedua lenganku, sementara Tek Nurma masih merapikan peralatan make upnya.


Ruang tamu dan ruang tengah rumahku tidak begitu luas, sehingga sebagian tamu terpaksa duduk berhimpitan, bahkan menyebar duduk keluar. Beberapa tenda besar lengkap dengan kursi plastik telah disediakan untuk berjaga-jaga jika tamu tidak muat di dalam.


Beberapa kali langkahku terhenti, berdiri sejenak untuk menenangkan perasaan yang campur aduk. Melihat penghulu yang sudah duduk di tengah-tengah Abak dan Paman Hasan, membuat nyaliku semakin ciut.


Seorang laki-laki berpeci hitam memakai baju koko dengan warna yang sama dengan gaunku duduk menghadap penghulu dan Abak, di belakangnya duduk Pak Rahmadi beserta Ibu. Wajahnya tidak jelas karena sedang menunduk, sesekali tangannya bertumpu di atas meja kecil yang sengaja disediakan sebagai sarana akad nikah. Di meja terlihat sebuah kotak berisi perlengkapan alat salat dan dua cincin emas bewarna putih.


Sebelum akad nikah dilangsungkan, penghulu meminta agar kedua calon pengantin meminta restu kepada kedua orang tua masing-masing, rida Allah ada bersama rida orang tua, begitu yang beliau sampaikan.

__ADS_1


__ADS_2