Janda Perawan

Janda Perawan
Bab 7


__ADS_3

Walau lamat-lamat suara itu mampu membuat aku terbangun dari tidur yang tidak begitu lelap, lantunan bacaan Alquran begitu merdu terdengar.


Zaid-kah itu? Kenapa dia tidak membangunkan aku untuk salat subuh berjamaah? Padahal sudah menjadi kewajibannya semenjak aku menyandang status istri sah. Ah sudahlah, mungkin dia lupa kalau sudah beristri karena kami belum pernah tidur seranjang.


Subuhku temaram dan dingin, berharap hari-hariku yang akan datang bersama Zaid ikut temaram dan semoga keberkahan juga menyertai pernikahan kami berdua, doa lirih berlinangan air mata di akhir sujud panjangku. Sajadah dan mukena kulipat kemudian beranjak menuju dapur, melaksanakan satu kewajiban sebagai seorang istri, yakni menyiapkan makan dan minum suami. Semoga Zaid senang dengan kehadiranku sebagai istri di sampingnya.


Nasi goreng dan kerupuk udang menjadi menu pagi ini, segelas teh hangat menyertai. Tak lama Zaid keluar kamar lalu menuju meja makan.


“Nasi goreng dan teh hangatnya, Da.” Kutaruh di meja ketika dia sudah duduk.


“Makasih, Sah, saya kira kamu belum bangun. Ternyata punya istri itu enak ya, bangun tidur disuguhi yang hangat-hangat.” Pujian itu melambungkanku jauh ke dunia antah berantah, berarti memang semalam Zaid capek.


“Da, maafkan aku. Semalam aku berburuk sangka terhadapmu karena kita tidur pisah kamar.” Aku menunduk dan tak mampu menatap wajahnya karena rasa bersalahku yang berat.

__ADS_1


“Aku juga minta maaf.”


Zaid sangat menikmati sarapannya. Pagi ini terasa begitu indah dan berkesan olehku, tapi entah dengan Zaid. Karena sehabis makan Zaid terlihat murung dan tidak bersemangat, kemudian meninggalkanku sendiri dengan ucapan terima kasih yang hampir tidak terdengar.


Pikiranku bertanya-tanya, jadi untuk apa pernikahan ini? Untuk mengubah statuskah? Atau hanya sekadar bakti anak kepada orang tuanya sehingga mau dijodohkan? Atau memang Zaid memiliki niat buruk terhadapku. Tapi apa salahku kepadanya?


Seharian Zaid tidak keluar kamar, aku merasa sendiri dan tidak tahu harus berbuat apa di rumah ini. Perasaan sedih dan kecewa bercampur dalam dada sehingga membuat air mataku deras mengalir.


Sebenarnya aku dinikahi untuk apa? Sekadar pajangan atau malah dijadikan upik abu? Ternyata kisah pacaran di awal pernikahanku tidak seindah drama Korea, padahal aku sudah berusaha belajar mencintai Zaid dengan segala kekurangannya.


Bolehkah aku menyesal dengan pernikahan ini? Sayangnya nasi sudah menjadi bubur, tidak mungkin aku meninggalkan Zaid ketika umur pernikahan kami baru tiga minggu.


Malam merayap bersama hadirnya bintang, berharap bintang hatiku juga merayap ke kamar menemani, tapi ternyata tidak. Kamar ini tetap sunyi sama seperti malam kemarin. Zaid hanya merampas, bukan memetikku. Zaid jahat!

__ADS_1


Perasaan gundah ini membuat mata tak mampu terpejam, ingin aku melabraknya ke kamar tamu untuk menanyakan secara langsung, kenapa aku diperlakukan seperti ini? Apa salahku? Tapi itu tidak mungkin karena pintu kamar tamu dikunci dari dalam dan Zaid pasti pura-pura tuli.


Seminggu ini begitu berat kulalui. Menurutku Zaid butuh pembantu, bukan istri, karena selama kami pindah Zaid hanya menyapaku tetapi tidak menyentuhku. Seperti pagi ini, Zaid menyapaku dengan senyum manis, tidak ada rasa bersalah sedikit pun terlihat dari sikapnya. Padahal hampir tiga bulan dia membiarkanku ranum bersamanya tanpa mau memetikku.


Atau jangan-jangan Zaid mau meng-ila’ku? berarti tinggal sebulan lagi kesempatannya bersamaku. Dalam agama Islam jika seorang suami bersumpah tidak akan mencampuri istrinya, maka dia memiliki waktu empat bulan, setelah itu dia harus memilih antara menceraikan istrinya atau membayar denda sumpahnya itu. Tapi kenapa dia harus melakukan ila’?


Entahlah.


Semua ini terlalu rumit untuk kucerna, meski hati dilanda kegalauan aku tetap berusaha bersikap manis di hadapan Zaid, karena Allah sangat marah kepada wanita yang berwajah muram di depan suaminya sampai wanita itu tertawa dan membuat suaminya senang. Sulit sebenarnya melakukan hal yang tidak seimbang antara batin dan lahiriah.


Secangkir kopi Minang asli Batu Sangkar yang telah kuseduh serta sepiring bakwan panas kuletakkan di depan Zaid yang sedang asyik membalas chat dari agen-agen ekspedisi perusahaan yang dia pimpin di cabang Padang.


“Terima kasih, Permataku.” Aku hanya mengangguk dan duduk di sofa yang berhadapan dengannya.

__ADS_1


Perlahan Zaid menjangkau tanganku dan menyuruhku duduk di sampingnya. Aku menurut dan segera berpindah tempat, aku sedikit gugup dan salah tingkah saat duduk dekat sekali dengan Zaid, paha kami tidak bersekat. Ada gemuruh di dada saat Zaid merangkul pundakku untuk bersandar ke


__ADS_2