
Semua logistik masuk ke ransel, tak lupa obat Zaid, mana tahu nanti di sana penyakitnya kambuh, harus sedia payung sebelum hujan. Zaid sengaja menggunakan jasa taksi online biar tidak capek dan lebih leluasa di dekatku selama perjalanan, katanya sih begitu. Bagaimana kalau nanti di mobil traumanya kambuh lagi? Jangankan menyentuh, melihatku saja dia takut.
Armada taksi online yang datang adalah minibus Avanza, sopirnya ramah dan baik. Sengaja kami duduk di belakang sekali, mana tahu selama perjalanan ada hal-hal romantis yang terjadi sehingga pak sopir tidak terganggu.
Mobil melaju di sepanjang jalan pinggiran pantai, birunya laut dan hijaunya perbukitan serta pulau-pulau yang berada di tengah laut membuat perjalanan ini sangat menyenangkan. Zaid memberi tahu lokasi yang kami lewati.
Sambil mendengarkan celotehnya aku coba bersandar di bahu kekar Zaid. Dia tak mengelak seperti biasa, bahkan sesekali dia sempatkan menciumku ketika pak sopir sedang fokus. Tangannya yang kokoh melingkar di pinggang dan merangkulku ke dadanya, Zaid sepertinya tahu kalau aku didera rasa kantuk, hingga akhirnya dada Zaid menjadi bantal ternyaman selama perjalanan.
Kata emak-emak sebelah, bau ketiak suami itu obat loh, Sah. Ternyata benar. Berasa ada aroma terapi di sekitaran dada dan ketiak Zaid. Kedua tanganku berpegang erat ke lengan Zaid yang melingkari tubuhku hingga dada. Tidurku sangat nyenyak, aku dibangunkan Zaid kalau kami sudah sampai di dermaga untuk naik kapal menuju Pulau Kapo-Kapo.
Hari ini aku mengukir sejarah dalam hidupku, melintasi birunya laut dengan kapal selama dua jam. Sebenarnya aku takut, tetapi sebelum naik kapal Zaid mengajakku berdoa. Hal itu membuatku sedikit nyaman, karena hidup dan mati itu di tangan Allah.
Laut di Pesisir Selatan tidak berombak kuat, hanya beriak seperti danau, karena banyak pulau yang berdiri kokoh di tengahnya sebagai pemecah ombak. Beberapa pulau kami lewati, ada yang sudah terjamah, ada yang belum tersentuh. Mendekati tujuan kami disambut oleh akar-akar bakau yang tersusun rapi, membentuk sebuah jalan, di sana kapal hanya bisa digalah karena perairan dangkal.
Pulau Kapo-Kapo, sebuah destinasi wisata yang memabukkan untuk swafoto. Di sana juga ada pemukiman penduduk, walau tidak seberapa, dan penduduk di sana semuanya nelayan, fasilitas umum seperti musala juga sudah ada. Tour guide yang mengantar kami pun ramah, dia banyak bercerita tentang hal-hal mengenai kebiasaan dan apa yang tidak boleh dilakukan selama berada di pulau.
__ADS_1
Kami diantarkan ke sebuah homestay yang berada tepat di pinggir pantai. Hari sudah menunjukkan jam lima sore ketika kami sampai di penginapan. Kami hanya bisa menikmati birunya laut dengan pasir putih yang membentang luas, serta hijaunya bakau dari jendela kamar yang tepat menghadap laut.
Gerimis turun bersama datangnya senja, selepas magrib kami sudah dijamu oleh pemilik penginapan. Selama tiga hari kami tidak perlu memikirkan akomodasi dan konsumsi karena sudah masuk dalam booking seat tour Kapo-Kapo.
Zaid mengajakku duduk menikmati udara pantai dari teras, angin malam ini sedikit kencang tapi tidak badai. Dia mendekat dan memelukku, hangat tubuh Zaid menghilangkan gigil yang mulai menjalar.
“Uda, aku tidak kuat menahan dingin.” Gigiku mulai gemeretuk. Zaid mempererat pelukannya dan mengajakku ke kamar. Ranjang dengan kasur double dan selimut tebal sudah menunggu kami. Aroma terapi pandan menyeruak dari lilin alami di pojok kamar.
“Masih dingin?” Zaid melepaskan pelukannya dan meletakkan kedua tangannya di pipiku, matanya menatap penuh makna.
Napas berpacu bersama debaran-debaran darah yang mendesir, Zaid mulai melancarkan aksinya. Matanya tetap tertuju padaku, beberapa ciuman menjadi senjata awal perjuangannya. Rasa itu semakin menggelora, ketika Zaid menutupi tubuh kami dengan selimut. Zaid mencoba mengambil haknya dengan baik dan sunahnya, “Bismillahi allahumma jannibnasyaithana wa jannibisyaithana ma razaqtana.”
Aku hanya bisa terpejam menikmati sentuhan serta serangan-serangan nakal pada titik-titik tertentu di tubuh. Rasa waswas menyertai rasa nikmat tersebut, takut Zaid trauma seperti semalam.
“Ya Allah, jauhkanlah kami dari semua godaan iblis,” lirihku dalam doa.
__ADS_1
Sekian lama kami berpacu dalam desahan napas dan panasnya udara dalam balutan selimut, sampai akhirnya Zaid akan menyebar benih kehidupan di rahimku ... ada cairan yang terasa keluar dari **** *, perutku melilit.
Jangan-jangan ... dan ternyata memang hari ini akhir bulan dan mungkin juga karena kelelahan. Jadi tamu bulananku datang di saat yang tidak tepat.
Pengorbanan Zaid sia-sia malam ini, karena tidak mungkin Zaid menanam benih di tempat yang kotor.
“Uda ....” Aku menatapnya dengan iba. Wajahnya kusut, napasnya masih tersengal-sengal, tetapi dia berusaha tersenyum.
“Sudahlah, Sah, bukan salah kamu juga kok. Wajar kalau wanita datang tamu bulanan, belum rejeki aku, Sah.” Zaid memelukku, pelukan itu menenteramkan hati.
“Jadi sia-sia perjalanan kita, Uda.” Aku tertunduk, merasa bersalah.
“Tidak ada yang sia-sia, kita tetap di sini sampai kamu bersih. Karena aku hanya akan mendatangi ladangku setelah ladang itu baik bagiku.”
Malam, cepatlah berlalu, aku ingin pagi dan pagi lagi, agar aku bisa memberikan hak Zaid secepatnya. Malam ini trauma itu tidak mengganggu Zaid, jadi aku bisa tidur nyenyak dalam pelukannya. Entah malam-malam berikutnya, atau mungkin malam di mana aku sudah bersih ....
__ADS_1