
Setinggi-tingginya bangau terbang pasti pulang-nya ke kubangan jua, begitu juga denganku. Sejauh-jauhnya merantau pasti suatu hari akan rindu rumah, aku rindu Ibu dan Abak. Di saat-saat seperti ini aku ingin dekat Ibu, melepaskan semua duka dalam pelukannya. Duka yang selama ini menemani kisahku bersama Zaid, kisah cinta yang ingin kumulai tetapi tidak tahu bagaimana caranya.
Bersabar dalam penantian yang tidak jelas, berharap yang tidak pernah pasti. Sebenarnya beban ini terlalu berat untuk kupikul, setelah sekian lama menikah Zaid belum bisa memberikan hakku sebagai istrinya. Pernah terlintas di kepala untuk meminta cerai, tapi aku takut arasy berguncang karena Allah sangat membenci perceraian.
Ingin kukabarkan pada Ibu apa yang sedang kualami, derita ini terlalu pedih bagai luka terasami. Sebenarnya bukan ini yang membuat nelangsa, namun waktu yang kulewati bersama Zaid terhitung mulai lama. Aku takut jika Ibu dan Abak datang berkunjung, ke mana akan mencari jawab jika pertanyaan mereka sama dengan yang sedang aku khawatirkan.
“Sudah isi, Sa? Atau sudah terlambat berapa?” Pertanyaan yang wajar bagi pengantin baru, tetapi tidak bagiku. Selama tiga bulan ini Zaid belum pernah mendatangiku untuk menunaikan kewajibannya. Zaid belum menyemai benih di rahimku, bagaimana mungkin aku hamil?
Untuk tumbuh dan berkembang harus ditanami dan dirawat dengan penuh cinta, saat ini itulah yang belum dilakukan Zaid di ladangnya. Berusaha sih sering, tapi di saat-saat harus berbuat ketakutan menyertainya.
Kenapa aku bertahan? Karena aku berharap ini hanya sebuah ujian dari Zaid, agar dia yakin memilihku sebagai istri untuk memberikan sebuah kepercayaan dan kesetiaan harus melewati masa uji. Kendaraan saja ada masa ujinya, kenapa cinta tidak?
Hanya tiga hari saja kami tidur sekamar, tanpa bisa melakukan apa pun karena memang aku sedang tidak boleh dijamah. Haram hukumnya laki-laki mendatangi istri yang sedang halangan. Setelah Ibu pergi hari-hari kulalui kembali dengan Zaid-ku yang kadang baik, kadang diam, bahkan kadang tidak keluar kamar seharian. Tugasku hanya menyiapkan makanan dan membersihkan rumah, kecuali kamar dan kamar mandi yang dipakai Zaid.
__ADS_1
Zaid selalu memenuhi nafkah lahirku, bahkan cenderung berlebihan. Zaid sebenarnya baik dan romantik, tapi sayang romantisnya tidak utuh kumiliki. Romantis Zaid hanya di meja makan atau sekadar membawakan seikat kembang sepulang kerja, atau makanan kecil jika dia kembali dari luar kota.
Sebenarnya semua itu tidak penting bagiku, aku butuh nafkah batin, bukan roman picisan. Aku juga ingin merasakan malam pertama bersama suami, menikmati cinta yang hakiki dipetik dan ditanami bibit cinta, karena aku tentunya ingin memiliki keturunan seperti wanita lainnya, bukan hanya pajangan.
Rasa sepi dan resah membuncah menjadi rasa rindu kepada anak-anak rumah singgah, serta kerinduanku kepada Ibu dan Abak menghadirkan tangis tanpa suara. Aku ingin pulang, aku tidak ingin pernikahan seperti ini!
“Hei, kok pagi-pagi hujan?” Zaid ternyata sudah berdiri di sampingku, entah sejak kapan.
Zaid menarik tanganku dan membawaku ke dalam pelukannya. Entah kenapa aku menurut saja dan membenamkan kepala ke dadanya. Air mata semakin tumpah hingga membasahi kemeja kerja yang dia pakai. Belaian tangannya di kepala sedikit menenangkan perasaan kesal kepadanya dan rasa rindu yang luar biasa untuk rumah.
Kepalaku masih berada di dadanya, Zaid mengangkat wajahku agar menatap matanya.
“Maafkan aku, Sah, aku belum mampu. Tapi aku akan tetap berusaha memberikan apa yang kamu mau. Sebenarnya aku juga ingin merasakan hal yang sama, mereguk cinta yang telah kuhalalkan. Dan aku tidak pernah mengila’mu, hanya saja aku belum mampu melakukan itu,” ucapnya lirih. Ada bulir bening mengalir dari sudut matanya.
__ADS_1
Ternyata Zaid merasakan kepedihan lebih dari yang kurasa. Hanya saja Zaid mampu membungkus-nya dengan ketegaran.
Aku melihat luka di matanya, juga cinta dalam kerinduan di sana. Rindu yang tidak pernah pudar meski kami selalu bersama namun belum pernah bersatu dalam kebahagian sejati. Ah, andai saja seorang istri tidak tabu menjadi seorang penyerang mungkin sudah lama kulepaskan tendangan bunuh diri ke gawang.
“Sah, jika memang kamu sudah tidak tahan dengan keadaan yang sedang kita lalui, aku ikhlas jika kamu mau pisah.”
Deg. Jantungku berhenti berdetak. Kutatap tajam bola matanya yang masih digenangi air, rasa iba membuatku berusaha kuasai emosi.
“Bukan itu, Da. Aku hanya rindu anak-anak dan Ibu.” Mendengar jawabanku Zaid kembali memelukku erat. “Boleh aku minta izin pulang ke rumah untuk mengunjungi Ibu dan anak-anak hari ini?”
“Sangat boleh. Nanti Uda yang antar. Sijunjung kan jauh, nggak mungkin aku membiarkan kamu pulang pake bus.” Perhatiannya luar biasa, dalam menjaga dan melindungiku.
“Aku nggak apa-apa naik bus, Uda kan kerja. Lagian aku mau nginap semalam atau dua malam di rumah Ibu.”
__ADS_1
Aku yakin akan diizinkan pulang naik bus. Karena Zaid tidak mungkin mau bermalam di rumah Ibu, pasti di sana kami akan tidur sekamar. Bisa perang dunia keempat kalau kami tidurnya pisah ranjang.
“Uda juga ingin main ke rumah singgah, sebelum berangkat kita cari oleh-oleh untuk keluarga di Sijunjung, serta perlengkapan anak-anak rumah singgah. Barangkali saja perlengkapan belajar mereka sudah pada habis.” Zaid sangat antusias dan langsung menelepon CS kantor kalau dia tidak masuk untuk beberapa hari ke depan.