Janda Perawan

Janda Perawan
Season 2


__ADS_3

Setibanya di Australia Silla langsung disibukkan dengan berbagai pekerjaan sampai lupa mengabari Sang Mommy yang menunggunya di Indonesia.


"Kenapa bisa sampai seperti ini Om Niel"ucap Silla.


"Sepertinya ada orang yang sengaja merencanakan semua ini kita harus hati-hati karena biasanya orang kepercayaan lah yang tahu semua ini dengan detail"ucap Kak Daniel.


Silla paham di dunia bisnis seperti ini banyak sekali musuh-musuh yang melakukan segala cara untuk menjatuhkan perusahaan lawannya.


"Tapi kamu tenang saja biar Om ajarkan cara mengetahui si pelaku dan trik-trik nya"


"Siap Om"


Kak Daniel teringat belum mengabari istri dan anaknya ia lalu mencari ponselnya yang sengaja di matikan namun ketika dihidupkan Kak Daniel dibuat terkejut bukan istrinya yang menelpon namun adiknya sendiri Belva yang sangat khawatir menanyakan keadaan Silla.


"Yaampun Belva"gumam Kak Daniel namun terdengar oleh Silla karena mereka sedang berdua di Ruang kerja setibanya dibandara mereka langsung menuju ke perusahaan.


"Hehe aku lupa ngabarin Om"ucap Silla ia lalu segera mencari ponselnya dan mengabari Belva.


Sedangkan di sebrang sana Belva merasa lega karena Silla tenyata baik-baik saja.


"Tuhkan apa aku bilang Silla pasti baik-baik aja di sana Sayang"ujar Andra.


"Iya tapi tetep aja aku khawatir"

__ADS_1


"Kamu tuh slalu khawatir berlebihan tahu ga sama Silla dia udah dewasa apalagi disana ada Kak Daniel dan penjaga"ucap Andra kesal.


"Kamu kenapa sih memangnya salah kalo aku khawatir sama Silla "ucap Belva sedikit emosi.


"Engga salah cuma kamu berlebihan aja, kalo Aku atau Arvan atau Aeri deh yang pergi kemana gitu kamu ga se khawatir ini kamu sadar ga sih kamu itu uda ga adil sama anak-anak"ucap Andra yang sudah emosi.


"Engga kok aku khawatir juga kamu jangan asal ngomong dong Mas"


"Aku ngomong sesuai Fakta, kamu khawatir berlebihan karena takut Silla ... sudahlah lebih baik kamu intropeksi diri apa benar kamu sudah adil sama anak-anak atau engga"ucap Andra kesal lalu pergi keluar kamar.


Andra memilih pergi ke kamar Arvan untuk melihat apa yang sedang ia lakukan.


"Eh Daddy"ucap Arvan tersenyum ia sedang fokus terhadap laptopnya dengan beberapa bukun


Berbeda dengan Arvan, Aeri malah sibuk membuat kerajinan untuk tugasnya besok.


"Mau Daddy bantu ?"ucap Andra mengejutkan Aeri yang fokus menyusun sketsa tugasnya.


"Ehh Daddy gausah Dad Aeri bisa sendiri kok"ucapnya tersenyum.


"Gapapa Daddy bantuin ya"


"Beneran Dad?"ucap Aeri senang ia memang kesulitan mengerjakan tugasnya.

__ADS_1


"Iya Sayang mana sini "


Andra tersenyum ia memang sibuk di kantor namun berusaha untuk menyempatkan quality time bersama anak-anaknya apalagi Aeri si bungsu.


Sementara Belva masih termenung ia memikirkan perkataan Andra tentang dirinya yang tidak adil pada anak-anaknya.


Belva memang menyadari jika ia terlalu berlebihan pada Silla tapi karna ia takut jika Silla pergi meninggalkannya.


Belva lalu keluar kamar ingin berbicara dengan Andra namun Andra tidak ada di ruang kerjanya bahkan di tempat biasa Andra duduk di belakang pun tak ada akhirnya ia memilih melihat ke kamar anak-anaknya.


Belva melihat Arvan yang masih berkutat dengan laptop dan buku-bukunya ia memilih pergi ke kamar Aeri dan ternyata benar Bekva melihat Andra dengan Aeri.


"Mommy dilupain nih?"ucap Belva pura-pura ngambek.


"Eh Mommy Sinii"


Andra terkejut karena melihat Belva namun ia lalu bersikap biasa saja.


"Asyik bener ngerjain apa sih?"tanya Belva langsung duduk di samping Andra.


"Tugas Aeri Mommy"


Andra dengan telaten membantu Aeri, Belva akhirnya paham yang di maksud Andra ia kurang perhatian pada anak-anaknya apalagi si bungsu Aeri.

__ADS_1


Memang selama ini Belva jarang sekali membantu Aeri mengerjakan tugas ia hanya bertanya ada tugas atau engga, atau bertanya sudah selesai ngerjain tugas apa belum.


__ADS_2