Janda Perawan

Janda Perawan
bab 9


__ADS_3

Kembali kejadian kemarin terulang, Zaid terburu-buru melepaskan pelukan dan menghindar, napasnya memburu seperti ketakutan. Kucoba dekati tapi dia menahanku dengan tangannya.


“Kamu kenapa, Da?” Aku panik melihat wajah Zaid memutih dengan tubuh gemetar.


Zaid terduduk dengan kepala menekur lantai, dua belah tangan menutupi wajah. Aku bingung dan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Zaid.


Seperti dipaku, kaki dan tubuhku tak mampu beranjak dari tempat semula. Aku menatap iba pada Zaid, sepertinya ada sesuatu hal yang membuat Zaid bertingkah tidak wajar. Dalam keheningan terdengar ketukan pintu.


“Assalamualaikum.” Senyum merekah dari bibir wanita yang melahirkan dan membesarkan Zaid, Ibu datang.


“Waalaikumsalam. Mari masuk, Bu.” Aku mencium tangan tuanya dan berusaha bersikap wajar, agar Ibu tidak curiga dengan keadaan Zaid yang tadi kutinggalkan di dapur.


“Zaid mana?”


“Ada, Bu. Sebentar Hafsah panggil.”


Untung saja ruang tamu tidak sejajar dengan dapur, sehingga Ibu tidak bisa melihat Zaid. Aku tidak ingin Ibu tahu kejadian yang barusan terjadi dengan Zaid, mudah-mudahan dia sudah tenang.


“Maaf, Bu, tadi Zaid di belakang membantu Hafsah masak.” Alhamdulillah, Zaid muncul kemudian mencium tangan ibunya hikmat.


Tanda tanya besar melebihi gunung menimpa pikiranku, banyak hal yang tidak kupahami dengan sikap Zaid yang berubah-ubah. Kubiarkan pikiran mengambang bersama celoteh anak dan ibu yang saling merindu ini. Setelah beberapa saat berdiri aku izin ke belakang untuk mengambil minum dan sepiring sala lauak yang telah kugoreng sebelum Zaid kambuh.


Ibu mertua menempati kamar tamu yang selama ini menjadi ruangan pribadi Zaid, semua barang bawaannya kumasukkan ke kamar. Selesai salat zuhur kami mengajak Ibu jalan-jalan keliling Kota Padang, ke Taplau, Jembatan Siti Nurbaya, dan berakhir di Masjid Raya Padang untuk salat magrib dan isya. Perjalanan yang melelahkan, tapi bisa sedikit menghilangkan kejenuhanku dalam menghadapi sikap Zaid selama ini di rumah.

__ADS_1


Sebelum sampai ke rumah, Zaid mengarahkan mobilnya menuju rumah makan Lamun Ombak, kembali beberapa menu ikan karang menjadi favorit Ibu.


“Sah, kamu harus banyak-banyak makan ikan dan kepiting.”


“Kamu juga, Zaid, kosumsi cumi-cumi.” Ibu menyapu kami dengan pandangannya bergantian.


Rumah makan Lamun Ombak memang sangat terkenal dengan masakan serba ikannya, apalagi gulai ikan karang dengan cabe rawit yang bisa membuat keringat dan ingus bercucuran karena enaknya kepedasan.


Rembulan mengayuh malam, beberapa bintang ikut semringah menghiasi langit Kota Padang. Ibu terlihat lelah dan langsung izin ke kamar, sementara kami saling diam dengan pikiran masing-masing hingga akhirnya aku izin duluan ke kamar dan meninggalkan Zaid sendiri di ruang tamu.


Segelas air dibawa Zaid ke kamar dan meletakkannya di meja rias. Tak ada kata yang keluar dari bibirnya, dia terlihat enggan untuk mendekatiku yang sudah berbaring di ranjang.


“Aku sedang kedatangan tamu, jadi aman.” Aku baru tahu kalau sedang haid ketika mau berwudhu untuk salat isya di masjid tadi. Harapanku untuk dipetik kandas kembali karena memang haram untuk Zaid mencampuriku di saat seperti ini.


Di balik duka pasti ada bahagia, meskipun aku dilarang bercampur, namun Allah memberiku ampunan dan menggugurkan dosa-dosaku yang lalu melalui darah menstruasi yang keluar. “Alhamdullillahi ‘alaa kulli haal. Astaghfirullaha min kulli dzanbin.”


“Jangan ... jangan ...,” Zaid mengigau keras dan mengibas-ngibaskan tangannya. Matanya masih tertutup, berarti memang mimpi.


“Da ... Da, bangun.” Kutepuk halus pipinya. Zaid terbangun tapi tambah meracau.


“Pergi ... pergi, jangan sentuh aku!” Zaid merapat ke sandaran tempat tidur, kedua tangan menutup kepala, dan keringat mengaliri wajahnya.


Kubiarkan alam bawah sadar Zaid menguasai jiwanya, sedikit beringsut untuk memberi ruang supaya Zaid tenang karena aku takut jika lebih dekat dengannya, maka dia akan berteriak dan membangunkan ibu mertua.

__ADS_1


Aku tidak tahu berapa lama Zaid berada di alam bawah sadarnya. Aku tidak mampu melawan rasa kantuk yang menyebabkan aku tertidur dalam posisi duduk berjuntai dari ranjang, sedangkan kepala berada di kasur. Saat membuka mata ternyata posisiku sudah berbaring dan berselimut, begitu pulasnya tidurku sehingga aku tidak tahu kalau Zaid memindahkanku.


“Permataku sudah bangun?” Zaid masuk membawa sepiring nasi goreng dan segelas susu cokelat panas.


“Sayang, kamu sarapan di kamar aja ya.” Volumenya terlalu tinggi, padahal aku persis berada di sampingnya.


“Aku tadi bilang ke Ibu kalau kamu sakit, jadi sarapannya di kamar saja. Mau aku suapin?”


“Kenapa tidak membangunkanku?” ujarku sambil mengucek mata.


“Kamu kan tidak salat, aku tahu kamu pasti kecapekan. Apalagi sedang halangan, pasti pinggang dan perutmu sakit.” Zaid menyodorkan nasi yang sudah dalam sendok ke mulutku tapi kutahan.


“Belum cuci muka dan gosok gigi.” Aku bergegas turun dari ranjang untuk mandi, karena aku tidak terbiasa sarapan sebelum mandi.


Tubuhku terasa lebih segar dan perut juga mulai lapar, handuk kubelitkan ke tubuh yang menutupi ketiak hingga paha. Aku lupa kalau ada Zaid di kamar. Hampir saja aku berteriak kalau tidak melihat isyarat jari telunjuk di bibir Zaid. Dia senyum-senyum nakal ke arahku yang masih kena sensor.


“Apaan sih?”


“Kan halal.”


“Iya halal, tapi nggak dihalalin!” jawabku ketus.


“Kan lagi nggak boleh.” Senyum nakalnya semakin over dosis.

__ADS_1


“Kemarin dihidangin panas-panas malah dilempar.” Mulutku terus menyerocos menahan degupan jantung sembari melekatkan pakaian ke tubuh yang disensor.


Nasi goreng buatan Ibu sangat enak, apalagi kami makan sepiring berdua. Zaid menyuapiku penuh kasih, sesekali dia membersihkan remah yang nyangkut di bibir dengan jemarinya. Zaid bisa bermanis-manis kepadaku di kulit luar saja, tapi untuk memasuki gerbang kehidupan di tubuhku dia belum mampu.


__ADS_2